Setelah Beras, Harga Bawang Merah Mulai Naik

NERACA

Jakarta – Usai harga beras yang tengah menurun, kini harga bawang merah di pasaran mulai merangkak naik. Beberapa pasar seperti di Pasar Inpres Pagaden, Kabupaten Bandung, terpantau harga bawang tersebut telah menyentuh angka Rp40 ribu per kilogram yang dari biasanya hanya Rp24 ribu per kilogram. Sementara di Pasar Labukkang Kota Parepare, Sulawesi Utara, harga bawang naik hampir 200% dari awalnya hanya Rp10 ribu per kilogram kini mencapai Rp30 ribu per kilogramnya. Untuk di Jakarta Selatan, terpantau harga bawang merah di Pasar Buncit telah menyentuh angka Rp35 ribu perkilogramnya dari yang awalnya hanya Rp15 ribu per kilogram.

Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan (Kemendag) harga bawang secara nasional terpantau telah mencapai Rp28.787 per kilogramnya. Padahal pada bulan lalu, harga bawang masih di sekitar Rp21.106 per kilogram. Sehingga dalam sebulan terakhir, harga bawang menunjukan tren kenaikan secara nasional meningkat mencapai 36% dalam sebulan.

Pergerakan harga bawang pada pekan terakhir Februari awalnya relatif stabil di kisaran harga Rp 20.000-21.000/kg. Kemudian pada awal Maret harga bawang mulai merangkak naik ke kisaran Rp 22.000-23.000/kg. Memasuki pertengahan Maret, harga bawang melonjak tajam ke titik Rp 26.000/kg, kemudian puncaknya terjadi pada akhir pekan lalu di hari Jumat (20/3/2015) harga bawang menembus Rp 29.369/kg. Misalnya di Jakarta, harga bawang akhir pekan lalu pada 21 Maret 2015 sempat menembus Rp 35.000/kg sedangkan pada 22 Maret kembali ke titik Rp 32.500/kg.

Sebelumnya, Sekjen Dewan Bawang Merah Mudatsir mengatakan kenaikan harga bawang merah akibat produksi yang terbatas akibat belum masuk panen raya bawang merah. Ia memprediksi produksi bawang merah pada Maret hanya 85.000 ton atau lebih rendah dari panen biasanya capai 110.000 ton. “Kenaikan harga bawang merah sampai Rp 30.000-35.000/kg itu masih wajar, di tingkat petani Rp 18.000,” jelasnya.

Lebih jauh lagi, Mudatsir mengatakan kendati ada pengurangan pasokan dari sentra bawang pulau Jawa, produksi awal tahun bawang merah tahun ini lebih baik dibandingkan 2013 dan 2014 lalu. Pasalnya, selama dua tahun belakangan anomali cuaca yang terjadi awal tahun menggangu pertanaman dan menimbulkan penyakit untuk bawang merah sedangkan tahun ini kejadian tersebut tidak banyak terjadi.

Apalagi, dia mengatakan pengembangan kawasan tanam bawang merah di luar Jawa yang digagas Kementan tahun lalu akan kelihatan hasilnya pada awal April ini sehingga akan berkontribusi menstabilkan harga. Meski demikian, dia mengatakan Maret memang menjadi puncak defisit panen dan kebutuhan hingga 15.000 ton sehingga wajar saja harga bawang terkoreksi cukup dalam. "Ditambah yang sudah panen padi akan menggilir tanamnya ke bawang merah. Awal April akan bangkit, Mei-Juni stabil lagi," katanya.

Asosiasi (Petani) Bawang Merah Indonesia (ABMI) berharap pemerintah tidak tergesa-gesa membuka keran impor bawang merah meski harganya melambung hingga 100% sejak awal Maret 2015. “Jangan sampai petani dirugikan lagi,” kata Ketua ABMI Juwari. Ia mengatakan harga bawang merah di tingkat petani Brebes saat ini Rp 20 ribu per kilogram. Adapun harga pengiriman ke pasar-pasar induk di Pulau Jawa sekitar Rp 22 ribu per kilogram. Di tingkat konsumen, harga bawang merah mencapai Rp 23 ribu sampai Rp 25 ribu per kilogram.

Februari lalu, harga bawang merah dari petani paling tinggi hanya Rp 10 ribu per kilogram. Meski bawang merah termasuk salah satu komoditas pemicu inflasi, Juwari meminta pemerintah bertahan untuk tidak menerapkan patokan referensi harga di tingkat konsumen sebagai dasar rekomendasi impor.

Seperti diketahui, dengan Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor 118 Tahun 2013 tentang penetapan harga referensi produk hortikultura, pemerintah bisa mengimpor bawang merah jika harga di tingkat konsumen lebih dari Rp 25,5 ribu per kilogram. Maret tahun lalu, kebijakan tersebut memicu kemarahan petani di sejumlah sentra bawang merah, termasuk Brebes.

Menurut Juwari, melambungnya harga bawang merah biasa terjadi tiap triwulan pertama. "Sebab, sebagian besar petani beralih menanam padi karena tingginya curah hujan," ujar Juwari. Ditambah produktivitas petani yang masih menanam bawang merah belum optimal.

Dalam kondisi normal, tiap satu hektare lahan di Brebes bisa menghasilkan sepuluh ton bawang merah. Kini, petani hanya memanen tujuh ton bawang merah dari satu hektare lahannya. Walhasil, pasokan bawang merah menurun drastis. Luas panen bawang merah di Brebes saat ini hanya sekitar 100 hektare.

Related posts