Bisnis Panorama Tours Tetap Bersinar - Dampak Pelemahan Rupiah

NERACA

Jakarta – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang masih berada di level Rp 13.000 perdollar AS, banyak memberikan dampak negatif terhadap kinerja keuangan perusahaan yang bergantung dengan transaksi dollar dan tidak terkecuali bisnis travel. Namun demikian, bagi PT Panorama Tours memastikan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah dirasa tidak akan mengganggu bisnis perusahaan.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (23/3), Managing Director of Leisure Travel Management Panorama Tours, Meity Lukito mengatakan, pelemahan nilai rupiah sudah sering terjadi dan perseroan justru melihat hal ini sebagai tantangan tersendiri untuk terus berinovasi dalam hal pengembangan paket, alternatif produk, dan yang terpenting memahami apa yang diinginkan oleh pelanggan.

Dia mengatakan, jika industri lain mungkin akan langsung merasakan dampak penguatan dolar AS maka hal ini dapat dikatakan tidak berpengaruh banyak terhadap bisnis usaha Panorama Tours,”Kebutuhan berpergian sekarang sudah menjadi harga mati dan semua orang pasti berpergian, baik untuk perjalanan wisata ataupun bisnis. Dikatakan tidak berpengaruh banyak juga dikarenakan berwisata adalah hal yang biasa dilakukan dengan perencanaan dan memang sudah terjadwal," tambahnya.

Menurutnya, mengenai penguatan dolar AS maka perusahaan menyikapi dengan penawaran alternatif tanggal kepergian (dari high seasondiubah menjadi low season) ataupun alternatif destinasi ke negara atau kota lain yang pada akhirnya dapat disesuaikan dengan budget masing-masing pelanggan.

Selain itu, tidak hanya Panorama Tours yang mengeluarkan produk hemat seperti Tiongkok lima hari hanya dengan US$ 369, tapi juga ada produk yang memang memfokuskan pada produk-produk dengan harga sangat terjangkau dengan promo-promo Super Deal-nya."Intinya, kami dapat terus bertahan karena bagi kami merealisasikan keinginan dan kebutuhan pelanggan adalah yang terpenting ditambah lagi berwisata adalah sudah bukan barang baru, tapi sudah menjadi bagian dari lifestyle masyarakat kita," terang Meity.

Untuk persentase jumlah pelanggan yang berpergian keluar negeri hingga Maret 2015 justru mengalami kenaikan 15% dibanding periode yang sama tahun lalu. Untuk bulan April ini, Panorama Tours sendiri memprediksikan juga akan ada peningkatan jumlah pelanggan yang berpergian keluar negeri dikarenakan masih ada beberapa event travel fair yang akan diikuti serta road show ke beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Medan, Palembang, dan lampung hingga akhir April.

Untuk destinasi favorit masih dipegang oleh Eropa, Jepang, dan Korea; sedangkan untuk ASEAN masih dipegang Singapura, Malaysia, dan Thailand."Bukti bahwa bisnis travel tidak terlalu terpengaruh pada penguatan dolar AS adalah respons positif dari undangan yang kami kirimkan kepada pelanggan untuk hadir dalam beberapa event travel fair yang akan kami ikuti dan juga dari pihak penyelenggara event yang tetap on-schedule melakukan event-event tahunan mereka," katanya.

Panorama Tours sendiri juga tetap akan melakukan event travel fair-World of Panorama- yang rencananya dilakukan dua kali pada tahun 2015 di Jakarta seperti tahun-tahun sebelumnya."Tourism is never die, semua orang suka berpergian dan melihat dunia luar. Ini adalah hal yang tidak terbayar dengan apapun. Jadi setiap orang willing untuk selalu mengambil setiap kesempatan yang ada untuk selalu berpergian," tutup Meity. (bani)

Related posts