Bijak Portofolio Obligasi

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – BondRI, Pengajar IPMI International Business School

Dalam terminologi statistik, risiko adalah varians. Dalam bahasa sehari-hari, risiko berarti suatu perolehan di luar harapan. Ada quote dari Penulis Toba Beta yang menyatakan ‘risk means shit-happens or good-luck’. Risiko tak selalu berarti unfavorable, bisa saja untung besar yang tak terduga. Bagi investor yang memiliki ragam efek utang lengkap dalam portofolionya, mungkin ada yang berinvestasi di obligasi pemerintah, obligasi perusahaan, global bond bahkan hingga T-Bonds sekaligus.

Keragaman efek ini bertujuan untuk diversifikasi, sesuai dengan prinsip “tidak menaruh telur dalam satu keranjang,” sehingga risiko portofolio investasi lebih terkelola saat menghadapi fluktuasi dan uncertainty. Hanya saja, investor kadang kesulitan menetapkan bobot antara ragam efek utang yang dimiliki, yang bisa dibedakan berdasarkan jenis penerbit (pemerintah vs swasta), kurs (lokal kurs vs valas) dan pertimbangan lainnya. Ini adalah pertimbangan umum selain aspek keragaman tenor (durasi) obligasi dalam portofolio. Investor aktif yang rasional sangat peduli dengan dampak dari pertimbangan hal-hal tersebut bagi nilai portofolio mereka.

Secara umum, semua investor berhadapan dengan 3(tiga) jenis risiko dalam berinvestasi efek obligasi bertipe plain vanilla, yaitu risiko gagal bayar (default), risiko likuiditas (kesulitan menjual) dan risiko suku bunga (volatilitas yield). Dalam kasus efek obligasi pemerintah (fixed rate, variable rate, zero coupon, ORI, Sukri dlsb), risiko gagal bayar masih lebih resesif dibanding berinvestasi di efek obligasi korporasi. Ini masih relevan dengan fakta bahwa masih begitu banyak obligasi berperingkat non-investment grade yang beredar di pasar modal.

Konsekuensi logisnya, di pasar obligasi domestik portofolio efek utang para investor masih dikuasai oleh efek obligasi terbitan pemerintah. Dari total nilai pasar obligasi domestik yang outstanding, investor asing masih berkuasa hingga saat ini, selain industri perbankan nusantara selaku investor institusi dominan di pasar modal domestik.

Yang relevan dengan kebutuhan investor kini adalah perihal penetapan bobot efektif bagi efek obligasi yang ada dalam portofolio mereka. Bobot dapat ditetapkan berdasarkan pertimbangan: 1) jenis issuer; 2) denominasi; 3) durasi; 4) konveksitas. Tujuannya adalah maksimisasi return dan minimisasi risk, agar investasi untung sekaligus aman. Investor aktif selalu berusaha mengoptimalkan portofolio melalui pengelolaan bobot ragam efek mereka.

Untuk pertimbangan pertama, dalam kondisi fundamental perekonomian yang semakin kuat, investor rasional memperbesar bobot efek obligasi pemerintah atau menambah total nilai asetnya. Dalam kondisi sebaliknya, investor cenderung mengurangi kepemilikan efek berisiko lebih tinggi. Untuk pertimbangan kedua, investor cenderung menambah investasinya ke efek berdenominasi kurs dari negara yang ekonominya menguat. Investor cenderung untuk menambah bobot investasi ke efek berdenominasi kurs negara maju. Untuk pertimbangan ketiga, semakin pendek nilai durasi, semakin baik bagi portofolio. Untuk pertimbangan keempat, risiko suku bunga akan tereduksi apabila nilai konveksitas dalam portofolio diperhitungkan. Secara umum, semakin besar nilai konveksitas semakin baik bagi dampak obligasi bagi portofolio.

BERITA TERKAIT

Antam Refinancing Obligasi Rp 900 Miliar - Marak Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta – Tren obligasi jatuh tempo tahun ini cukup marak, alhasil kebanyakan emiten disibukkan untuk mempertebal kocek untuk membayar…

Indosat Realisasikan Obligasi Rp 2,71 Triliun

Hasil penerbitan obligasi berkelanjutan II PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) tahap III sebesar Rp 2,71 triliun telah direalisasikan oerseroan untuk…

SMF Tawarkan Kupon Hingga 8.00% - Terbitkan Obligasi Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan penyaluran kredit perumahan lebih besar lagi, PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) kembali menawarkan obligasi kepada…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Nasib Perang Dagang AS-China

  Oleh: Izzudin Al Farras Adha Peneliti INDEF   Perang dagang AS-China yang ramai sejak awal tahun ini terus berlangsung…

Membangun Industri Substitusi Impor

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dengan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tembus pada…

SK(T)M

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo SK(T)M pada judul diatas sejatinya terdiri dari 2 kata…