Tatkala Emosi Dikedepankan - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Seringkali orang memberi nasehat agar jangan mengedepankan emosi di dalam mengambil keputusan. Sebab keputusan yang hanya didasarkan pada emosi, maka hasilnya tidak akan menguntungkan, dan bahkan akan mencelakakan banyak orang. Keputusan yang diambil oleh seseorang yang tatkala sedang sedih, marah, sedang perasaannya tersinggung, atau hatinya sedang gundah, maka yang dihasilkan bukan menyelesaikan masalah, tetapi sebaliknya, justru melahirkan masalah baru.

Tidak semua orang bisa berpikir rasional dan obyektif, apalagi orang yang sedang emosinya terganggu atau tidak stabil. Oleh karena itu, orang yang sedang marah, pikirannya terganggu, dan emosinya, seharusnya tidak mengambil keputusan penting. Siapapun orangnya yang sedang emosi, biasanya tidak mampu berpikir jernih dan obyektif, tidak terkecuali adalah seorang pemimpin.

Akhir-akhir ini, banyak orang mudah marah. Mungkin saja mereka itu melihat sesuatu tidak tampak logis. Atau, orang marah oleh karena posisinya dalam keadaan tidak terlalu aman, kurang menentu, kalah bersaing, dan lain-lain. Orang yang sedang mengalami keadaan seperti itu akan cepat Marah, tersinggung, dan bahkan juga stres. Padahal yang diperlukan sehari-hari adalah kejernihan dalam berpikir, rasional, dan obyektif.

Bangsa ini sedang menghadapi persoalan yang cukup berat, baik menyangkut persoalan ekonomi, politik, hukum, sosial, dan lain-lain. Tanpa diduga sebelumnya, nilai rupiah akhir-akhir ini melemah, harga beras naik, dan begitu pula komuditas lainnya. Demikian pula konflik para elite politik terjadi silih berganti dan ternyata tidak mudah mereda. Mereka berebut kemenangan untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya. Saling menyalahkan, menjatuhkan, dan mengkriminalkan dianggap tidak membahayakan.

Dahulu tergambar dengan jelas, bahwa setelah presiden dan wakil presiden terpilih, maka pemerintah baru akan segera menyelesaikan persoalan ekonomi, pendidikan, ketenaga kerjaan, membangun infrastruktur, seperti jalan tol laut, perluasan lahan pertanian, perbaikan jalan yang rusak, dan lain-lain. Akan tetapi yang terjadi adalah bahwa persoalan yang tidak terbayang sebelumnya justru yang muncul. Konflik antara KPK dan Polri, perpecahan pada beberapa partai politik, nilai rupiah melemah, kelangkaan beras, dan lain-lain adalah tidak terbayang sebelumnya. Sehingga, apa yang semula akan dikerjakan menjadi tertunda.

Menghadapi persoalan berat dan datangnya tidak terencanakan dimaksud, maka yang diperlukan adalah pikiran jernih dan rasional. Emosi tidak boleh dikedepankan. Saling menghujat, meledek, menganggap orang lain rendah, dan seterusnya harus dihindari. Para pemimpin sedang diuji antara pilihan menggunakan emosi dan atau pertimbangan rasionalnya. Manakala pilihan itu betul, yakni selalu mampu menggunakan kekuatan nalarnya dan menjauhkan diri dari pertimbangan emosinya, maka akan diperoleh kemenangan. Salah satu pegangan dalam mengambil keputusan adalah bahwa nilai atau harkat martabat manusia harus selalu dijunjung tinggi dan dimenangkan.

Membangun bangsa ini pada hakekatnya adalah membangun manusianya. Apapun boleh ditunda demi menyelematkan manusia. Jika hal demikian itu dijadikan pegangan, maka betapapun besarnya persoalan yang dihadapi akan terselesaikan dengan sendirinya. Rasional yang harus dijadikan pegangan adalah menyelamatkan manusia, dan bukan sekedar pertimbangan sederhana, yakni uang dan harta misalnya. Selain itu, emosi tidak boleh mengedepan, apalagi hanya untuk sekedar meraih kemenangan dan nama besar. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

BERITA TERKAIT

Pemerintah Indonesia Vs Freeport - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Negosiasi pemerintah Indonesia dengan Freeport masih terus berjalan sangat alot. Dalam hal ini pemerintah harus kuat dan jangan mengalah dengan…

APBN yang Ugal-ugalan - Oleh : EdyMulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Pemerintah bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaranTunjangan Hari Raya (THR) dan gaji ke-13 tahun ini adalah bukti bahwa klaim…

THR, Gaji 13 dan APBN - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Masih percaya dengan Menkeu Sri Mulyani yang bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Berebut Tahta Nomor Dua

  Oleh: Stanislaus Riyanta, Kandidat Doktor Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi UI Menuju pelaksanaan Pilpres 2019, koalisi yang sudah mengkristal…

Ganjil-Genap sebagai Warisan Asian Games 2018

  Oleh :  Bayu Herlambang, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia   Sebagai dampak perhelatan Asian Games 2018 kebijakan…

Ikhtiar Melihat Indonesia-Tiongkok Secara Benar

Oleh: Edy M Yakub Melihat dan mendengar adalah dua kata yang berbeda dan perbedaan keduanya juga mengandung makna yang sangat…