Humaniskah Pendidikan Kita? - Oleh: Nurul Lathiffah, Pemerhati Pendidikan

Pendidikan yang menjadi cita-cita Ki Hajar Dewantara adalah membentuk anak didik menjadi insan yang merdeka dalam dimensi lahir dan batin. Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara ini sesuai dengan konsep pendidikan humanistik.

Tokoh pelopor pendidikan ini rupanya telah menghayati betapa dalam perjalanan perkembangan pendidikan di Indonesia. Kemerdekaan dalam aspek pendidikan merupakan suatu tantangan yang tidak mudah.

Sebagaimana diwartakan Republika pada 12 Maret 2015, peraturan yang membatasi Madrasah Ibtidaiyah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) sangat disesali oleh Komisi Nasional (Komnas) Pendidikan. Adanya pembatasan tersebut dipercaya menjadi tanda-tanda bahwa pengembangan kreativitas dan aspek keilmuan siswa madrasah memiliki limitasi ruang yang lebih sempit daripada siswa lain.

Idealnya, pendidikan merupakan hak semua orang tanpa kecuali. Demikian pula di dalam ranah pendidikan. Siswa yang berasal dari latar belakang sekolah dasar (SD) dan madrasah semestinya memiliki kedudukan yang egaliter dalam mengembangkan, mengolah, dan meningkatkan kapasitas intelektual. Pembatasan atau lugasnya pelarangan terhadap siswa madrasah mengikuti ajang kompetisi Olimpiade Sains Nasional (OSN) perlu ditinjau kembali. Jika tidak, hal ini akan menjadi nila yang menyakitkan bagi dunia pendidikan yang memiliki visi humanis, egaliter, dan ditujukan bagi semua.

Akar pertimbangan yang memicu pembatasan peserta OSN pun bahkan belum dapat disimpulkan. Pada posisi inilah, paradigma jernih bahwa SD dan MI memiliki kurikulum nasional yang sama harus dijadikan rujukan utama. Meskipun diperkaya dengan suplemen pendidikan keagamaan, madrasah pun memiliki kesamaan materi yang dipelajari dengan SD. Terlebih, madrasah memiliki integrasi-interkoneksi antara keilmuan dan keislaman sehingga keterpaduan ini berpotensi memantikkan ilmu yang ilmiah sekaligus amal yang amaliah.

Berdasarkan potensi inilah, anak-anak madrasah dapat menjadi generasi harapan yang mampu meneruskan estafeta kepemimpinan bangsa. Tidak dapat dimungkiri, tokoh-tokoh nasional yang menorehkan jasa emas kepada negara banyak yang berasal dari kalangan madrasah. Madrasah merupakan saksi perjuangan pendidikan yang tak kenal henti.

Pada zaman penjajahan Belanda, madrasah didirikan untuk semua warga. Sejarah mencatat, madrasah pertama kali berdiri di Sumatra. Pada gilirannya, madrasah berkembang di Jawa mulai tahun 1912. Ada model madrasah pesantren NU dalam bentuk madrasah awaliyah, ibtidaiyah, tsanawiyah, mualimin wustha, dan muallimin ulya. Selain itu, terdapat pula madrasah yang mengadopsi sistem pendidikan Belanda, seperti Muhammadiyah yang mendirikan madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, muallimin, mubalighin, dan madrasah diniyah.

Jika menyelami embrio sejarah madrasah, dapat kita sarikan bahwa pendidikan ala Indonesia yang masih murni mengacu pada sistem madrasah. Pesatnya perkembangan pendidikan nasional pun sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari keberadaan madrasah. Madrasah merupakan sebuah kata dalam bahasa Arab yang artinya sekolah. Asal katanya, yaitu darasa (baca: darosa) yang artinya belajar. Di Indonesia, madrasah dikhususkan sebagai sekolah (umum) yang kurikulumnya terdapat pelajaran-pelajaran tentang keislaman.

Ironisnya, madrasah seolah menjadi anak tiri yang kurang mendapatkan pengakuan dari dunia pendidikan. Meskipun demikian, kita masih melihat kenyataan bahwa madrasah tetap berdiri untuk memberikan kurikulum alternatif yang kontributif bagi bangsa. Bahkan, tidak jarang tokoh nasional berasal dari latar belakang pendidikan madrasah yang kental akan kultur keagamaan, lokal, sekaligus memiliki wawasan plural.

Pada titik inilah, humanisasi pendidikan di Indonesia harus mulai kritis dipertanyakan. Sudah saatnya pendidikan harus memperlihatkan inklusivitas dan memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk menjadi insan akademik yang lebih matang. Salah satu jalurnya, yaitu OSN yang merupakan pesta perayaan akademik untuk memilih putra-putri negeri yang cerdas dan berbakat.

Pendidikan humanis merupakan cita-cita luhur para founding fathers bangsa. Pun meski demikian, dalam perjalanannya, banyak lika-liku yang tidak selalu mudah. Untuk menuju ke arah idaman tersebut, langkah demi langkah kecil yang sejalan dengan prinsip pendidikan inklusif harus bisa diwujudkan. Salah satunya, memberi kesempatan kepada siswa madrasah untuk mengikuti OSN. Jika sekelumit hal ini terlewati, bukan tidak mungkin cita-cita pendidikan yang humanis akan semakin terlewatkan dari agenda pendidikan nasional Indonesia.

Pada muaranya, keberhasilan pendidikan tidak selalu bergantung pada hasil akhir. Akan tetapi, keberhasilan tersebut mengaksentuasikan pada kebenaran proses dalam menumbuhkan pendidikan yang humanis. Pendidikan humanis memungkinkan pertumbuhan positif pada setiap siswa, karakter yang baik, kebermanfaatan, dan pertumbuhan mental yang sehat. Sebaliknya, pendidikan yang tidak humanis, jauh dari keadilan, justru akan mencetak problem-problem dalam pendidikan sekaligus menorehkan sejarah kelam. Masih humaniskah, pendidikan kita? (haluankepri.com)

Related posts