Telkomsel Tidak Hanya Mengejar Kecepatan - Garap Bisnis Layanan 4G

NERACA

Yogyakarta – Gencarnya operator seluler mengejar bisnis layanan 4G LTE yang saat ini tengah menjadi tren, rupanya tidak mau membuat latah Telkomsel sebagai anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) untuk terburu-buru menyediakan layanan 4G secara menyeluruh di seluruh kota besar tanpa memperhatikan kualitas layanannya.

Presiden Direktur Telkomsel, Ririek Adriansyah mengatakan, implementasi 4G di frekuensi 1800 MHz jangan sekadar mengejar kecepatan implementasinya saja, namun juga harus mempertimbangkan kualitas layanannya,”Penataan frekuensi 1800 MHz akan mubazir jika hanya mengejar kecepatan penataan. Pasalnya, kualitas pelayanan terhadap pelanggan itu lebih penting,”ujar Ririek di Yogyakarta, kemarin.

Menurut Ririek, Telkomsel telah mengajukan metode penataan frekuensi 1800 MHz. Metode yang diajukan tersebut diusulkan sebisa mungkin tidak sampai mengganggu kenyamanan pelanggan seluler dalam menikmati layanan data. "Itu yang selalu kami komunikasikan dengan pemerintah, harus meminimalisir gangguan terhadap pelanggan," katanya.

Kata Ririek, penataan frekuensi 1800 MHz tersebut sudah ada dalam rencana kerja Telkomsel di tahun 2015 ini. Telkomsel sendiri sedang membicarakannya dengan pemerintah dan operator-operator lain di Indonesia. Dirinya berharap, proses penataan ulang (refarming) yang akan berjalan mulai pertengahan tahun ini.

Oleh karena itu, lanjutnya, perseroan masih tetap mengandalkan layanan 3G. Tahun ini, perseroan bakal menambah 15 ribu base transceiver station (BTS) baru sehingga infrastrukturnya secara nasional bisa genap 100 ribu BTS. Disebutkan, dari 15 ribu BTS yang di bangun tahun ini, rencananya 75% akan mendukung jaringan 3G, sedangkan sisanya untuk 2G dan 4G.

Maka untuk menopang ekspansi perusahaan tahun ini, Telkomsel akan mengalokasikan belanja modal sekitar 18%-20% atau sekitar Rp 12,9 triliun dari pendapatan 2014 yang sebesar 66,25 triliun. Kemudian untuk target pendapatan, kata Ririek, Telkomsel ingin tumbuh sama dengan industri yakni di kisaran 7% hingga 8% atau sekitar Rp 71,5 triliun di 2015.

Soal bisnis tahun ini, perseroan telah menetapkan tiga program unggulan pada tahun ini yakni True Broadband Experience (TrueBEx), Digital World, dan Great Digital Payment Experience. TruBEx adalah upaya peningkatan kualitas layanan data di 30 broadband city dan seribu Point of Interest (POI) yang diharapkan dapat memberikan real customer experience berupa kecepatan download dengan rata-rata sebesar 1,5 Mbps.

Berbeda dengan operator seluler XL Axiata (XL) yang mengklaim jaringannya telah siap untuk menggelar layanan 4G di frekuensi 1800 MHz, operator biru tersebut menginginkan agar implementasi 4G di jaringan tersebut bisa dilakukan sesegera mungkin.

Sebagamana diketahui, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah menargetkan proses penataan ulang jaringan di frekuensi 1800 MHz agar menjadi netral untuk empat operator seluler bisa mulai dinikmati pada kuartal ketiga 2015 mendatang. Proses Refarming di frekuensi 1800 MHz yang disepakati oleh keempat operator tersebut adalah sebagai berikut, XL akan menempati posisi paling kiri dengan frekuensi 22,5 MHz, Kemudian Tri dengan 10 MHz, Indosat 20 MHz, dan paling kanan Telkomsel dengan lebar pita 22,5 MHz. (bani)

Related posts