Jurnalisme Harus Hadang Paham Radikal - Oleh: Amril Jambak, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSIS)

Peranan media massa baik cetak, online/internet/website maupun elektronik yang strategis dalam sosialisasi dan pencitraan politik membuat semua kekuatan politik berupaya memanfaatkan dan menguasai media massa, termasuk berbagai kelompok kepentingan dan radikal/fanatisme sempit.

Selama ini berbagai kelompok kepentingan termasuk kelompok radikal kanan terus memanfaatkan kemajuan teknologi dan percepatan perkembangan lalu lintas informasi untuk melakukan cipta opini dan propaganda dalam rangka merealisasikan kepentingan pragmatisnya.

Mereka menggunakan media massa cetak, media elektronik termasuk film-film dokumenter, penerbitan khusus, buku, dan media sosial (youtube, twitter, instagram dll) sebagai sarana propaganda dan cipta opininya, termasuk untuk melakukan perekrutan terhadap pelaku-pelaku teror baru termasuk menarik minat generasi muda untuk bergabung dengan kelompoknya.

Salah satu contoh dari kelompok kepentingan radikal yang berpaham sempit dan intoleran adalah munculnya gerakan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) atau Al-Dawla al-Islamiya fi Al-Iraq wa Al-Syam, atau Negara Islam di Irak dan Suriah, telah menyita perhatian dunia.

ISIS lahir di perbatasan antara Irak dan Suriah, sebagai dampak dari ekspansi Amerika Serikat di Irak yang berakumulasi dengan upaya membangun harga diri bangsa Arab dari kekuasaan asing.

Ideologi ISIS dibangun berlandaskan Islam Sunni yang secara tradisional berseberangan dengan Islam Syiah. Cita-cita melahirkan pemerintahan Islam dilakukan dengan melakukan maklumat yang mewajibkan umat Islam di dunia mendukung gerakan mereka memerangi kekuasaan asing di Timur Tengah, terutama Amerika Serikat. Dasar ideologi yang mereka tebar menggunakan isu keyakinan Islam diharapkan dapat berkembang menjadi suatu kekuatan besar di dunia.

Kelompok ISIS misalnya telah menistakan semua nilai kemanusiaan juga melalui media massa khususnya media sosial (youtube) dan media massa cetak atau elektronik/online yang pro terhadap mereka. ISIS telah melakukan kejahatan paling keji baik kepada orang Syiah, Sunni, Kristen, Turkmen, Shabak ataupun Yazidi.

Tak hanya itu, tindakan brutal lainnya yang dilakukan ISIS adalah mengeksekusi warga Jepang, Haruna Yukawa, jurnalis Jepang, Kenji Goto, membakar pilot Angkatan Udara Jordania, Maaz al Kassasbeh, membakar 45 tentara kurdi, memenggal 21 kepala warga Kristen Koptik Mesir dan beberapa kejadian brutal yang patut sebagai tindakan henious dan despicable tersebut.

Indonesia sendiri berpotensi menjadi sasaran perekrutan simpatisan ISIS terutama dari kalangan generasi muda yang menggunakan media massa online khususnya, apalagi data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang.

Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Situs jejaring sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India.

Menurut data dari Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan jasa komunikasi, untuk wilayah Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif. Sebanyak 33 juta pengguna aktif per harinya, 55 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile dalam pengaksesannya per bulan dan sekitar 28 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile per harinya.

Pengguna Twitter, berdasarkan data PT Bakrie Telecom, memiliki 19,5 juta pengguna di Indonesia dari total 500 juta pengguna global. Twitter menjadi salah satu jejaring sosial paling besar di dunia sehingga mampu meraup keuntungan mencapai USD 145 juta.

Produsen di jejaring sosial adalah orang-orang yang telah memproduksi sesuatu, baik tulisan di Blog, foto di Instagram, maupun mengupload video di Youtube. Selain Twitter, jejaring sosial lain yang dikenal di Indonesia adalah Path dengan jumlah pengguna 700.000 di Indonesia. Line sebesar 10 juta pengguna, Google+ 3,4 juta pengguna dan Linkedlin 1 juta pengguna.

Permasalahan lainnya adalah dibandingkan dengan beberapa negara seperti India memblokir 32 situs yang diduga kontennya mendukung kelompok ISIS, diantaranya Vimeo, Weebly, DailyMotion, Archive.org dan GitHub dan China yang tegas dan berani menindak media digital online/website/internet ataupun sosial media yang merusak tatanan sosial, mendukung radikalisme dan menyebarkan pornografi, maka sikap dan tindakan yang sama belum massif terjadi di Indonesia.

Kelompok ISIS dan kelompok fanatisme sempit lainnya jelas menyadari bahwa kegiatan cipta opini dan propaganda melalui media massa terutama media online dalam ranah perang asimetris adalah salah satu cara untuk meningkatkan dan memperkuat soliditas kelompok yang melakukannya, namun disisi yang lain juga digunakan untuk menjatuhkan semangat dan militansi lawan politiknya.

Menurut beberapa ulama Islam yang dapat dipercaya, hal yang paling berbahaya dari ISIS adalah dengan mengatasnamakan agama Islam dalam setiap kegiatannya, termasuk dalam melakukan tindakan kekerasan. Kelompok ISIS selalu membaiat sampai mati anggota/kelompoknya, sehingga diluar mereka dianggap kafir. Bagaimanapun juga munculnya kelompok khawariz yang direfleksikan oleh ISIS bisa jadi disebabkan banyak kitab yang sesat dan salah dari luar Islam, serta adanya pendakwah yang belum paham.

Terkait dengan hal ini, menurut hemat penulis, media massa diyakini memiliki peran strategis dalam meminimalisir penyebaran paham radikal, apakah masih media massa akan memberikan ruang pemberitaan bagi pemuka-pemuka opini yang dinilai hanya memanaskan suasana saja.

Aliansi strategis yang dapat dibangun oleh kalangan media massa, pemuka opini, civil society dan lembaga kehumasan untuk mencegah penyebaran paham radikal dan intoleransi yang akhir-akhir ini semakin menguat di beberapa daerah serta apa national action plan yang perlu dirancang.

Jika melihat perkembangan pemberitaan di media massa khususnya di Tanah Air, pemberitaan mengenai paham radikal bagaikan isu fantastis. Namun terlepas dari itu semua semestinya media tidak lagi menjadi corong berkembangnya paham ini, dan mencari titik celah agar permasalahan ini tidak berkembang selanjutnya.

Penulis juga memiliki harapan kepada pemerintah agar memberikan pendidikan melalui informasi kepada masyarakat tentang paham radikal yang konon katanya sudah masuk ke negara ini.

Nah, dari sanalah juga para jurnalis bisa memberikan informasi tepat kepada masyarakat dan diyakini bisa mempengaruhi dalam membuat kebijakan serta langkah-langkah yang diambil masyarakat guna mencegah paham radikalisme.

Penulis meyakini jurnalisme damai juga bisa membentengi masuknya paham radikal ke Tanah Air.

Tapi jangan pula jurnalis memberikan informasi yang salah sehingga menyulut kemarahan masyarakat. Berikan informasi sahih kepada pembaca sekaligus pendidikan kepada masyarakat.

Tentunya inilah peran media massa untuk menyampaikan gambaran yang jelas serta runut tentang gerakan radikal.

Pada akhirnya, katakan yang salah itu salah, dan yang benar katakan benar dan disesuaikan dengan fakta. Hal ini mencegah salah persepsi informasi yang berkembang di tengah masyarakat kita. Sehingga keharmonisan dalam hidup bernegara bisa terwujud. ***

Related posts