Toyota: Industri Komponen Masih Impor Bahan Baku - Otomotif

NERACA

Jakarta - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menilai, industri komponen pendukung bisnis Toyota masih menggunakan bahan baku impor. “Industri komponen yang mendukung jalannya bisnis Toyota masih mengimpor bahan baku. Dampaknya, angka impor untuk industri hilir komponen masih tinggi dan defisit neraca perdagangan semakin besar,” kata Wakil Direktur PT TMMIN, Warih Andang Tjahjono usai bertemu dengan Menteri Perindustrian di Jakarta, Jumat (20/3).

Andang menilai, industri-industri komponen yang memasok ke produsen mobil di dalam negeri harus mengembangkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dalam produksinya. “Artinya beberapa barang penting yang kita masih impor itu tidak diproduksi di dalam negeri,” paparnya.

Sedangkan Direktur Industri Alat Transportasi Darat Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Soerjono mengatakan, Toyota diharapkan bisa memperdalam struktur industrinya dengan menggunakan komponen di dalam negeri, berikut turunannya. “Kalau ditanya komponennya 80% lokal. Ternyata di komponennya beli material itu lebih banyak impor,” ujarnya.

Pertemuan jajaran petinggi Toyota dengan Saleh Husin juga membahas mengenai pancapaian target ekspor kendaraan. ‎Toyota menargetkan pertumbuhan ekspor di tahun ini bisa mencapai 10%. Tahun lalu, Toyota mengambil porsi terbesar dalam ekspor kendaraan completely built up (CBU) sebanyak 173.000 kendaraan dari total 200.000 unit.

Sementara itu, Industri komponen otomotif meminta pemerintah segera mengatasi pelemahan rupiah yang sudah tembus Rp 13.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebab, sekitar 80 persen bahan baku komponen otomotif berkualitas tinggi masih harus impor dengan menggunakan pembayaran mata uang asing.

’’Hampir seratus persen industri otomotif sudah memakai komponen buatan dalam negeri. Untuk kendaraan roda dua, komponen lokalnya sudah 90 persen di semua tipe. Sedangkan bagi kendaraan roda empat, penggunaannya sudah sekitar 80 persen. Jadi, masih ada 10–20 persen yang impor,” ujar Ketua Umum Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Hamdhani.

Namun, besarnya permintaan industri otomotif tidak membuat industri komponen untung besar. Sebab, sekitar 80 persen bahan baku yang dipakai masih harus impor. Dengan demikian, melemahnya rupiah menjadikan biaya produksi membengkak. “Permintaan di dalam negeri besar, tapi biaya produksi pabrik kita juga besar,” tuturnya.

Menurut Hamdani, banyak bahan baku pembuatan komponen yang diimpor karena industri hulu domestik belum bisa memproduksi. “Misalnya, Krakatau Steel itu hanya mampu memenuhi 40 persen kebutuhan industri komponen. Selain itu, beberapa material seperti aluminium khusus perlu diimpor. Terus biji plastik dan karet yang bentuk compound juga harus impor. Di sini cuma ada yang mentah,” tandasnya.

Karena itu, pihaknya meminta pemerintah untuk memberi perhatian lebih kepada industri hulu agar mampu memenuhi kebutuhan industri komponen otomotif nasional. Jika perlu, pemerintah memberikan insentif sehingga industri hulu bisa berkembang. “Industri hulu di Indonesia ke depan wajib diperkuat, terutama di sektor baja, aluminium, dan karet,” sebutnya.

Di sisi lain, pihaknya meminta pemerintah mampu menahan tuntutan kenaikan upah minimum regional (UMR) agar tidak terus membebani industri. Tuntutan kenaikan UMR selama ini tidak dibarengi dengan peningkatan produktivitas pekerja. “Kami menemui menteri perindustrian untuk menyampaikan dua hal itu, yaitu meminta dukungan untuk industri hulu dan menjaga UMR,” katanya.

Menurut Hamdhani, kondisi permintaan komponen otomotif pada tahun ini tidak akan jauh berbeda dengan tahun lalu. Sebab, Gabungan Industri Kendaraan Bemotor Indonesia (Gaikindo) sudah memprediksi bahwa penjualan mobil hanya akan mencapai 1,2 juta unit atau sama dengan pencapaian tahun lalu. “Kapasitas produksi tentu kami sesuaikan dengan industri otomotif,” jelasnya.

Related posts