Jenuh Aksi Beli, IHSG Masih Tren Menguat

NERACA

Jakarta - Posisi indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menguat tajam membuat investor jenuh melakukan aksi beli dan memilih melakukan aksi jual. Alhasil, seharian IHSG akhir pekan kemarin berada di zona merah, “Pasca kenaikan indeks BEI pada Kamis, (20/3) kemarin, sebagian pelaku pasar cenderung kembali melakukan aksi ambil untung dikarenakan ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed masih akan terjadi pada tahun ini," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, investor saham asing di dalam negeri yang cenderung kembali melakukan aksi jual pada akhir pekan menambah sentimen negatif bagi laju IHSG BEI. Namun masih positifnya mayoritas bursa saham di kawasan Asia dan Eropa menahan tekanan indeks BEI lebih dalam.

Sementara itu, Kepala Riset Universal Broker, Satrio Utomo mengatakan, Bank Indonesia yang tidak menurunkan suku bunga acuan (BI rate) dinilai negatif sebagian investor. Level BI Rate saat ini dinilai cukup tinggi sehingga dianggap sebagai penghalang pertumbuhan ekonomi,”BI Rate yang tinggi membuat pemodal khawatir akan pertumbuhan sektor properti," katanya.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa tren indeks BEI untuk jangka menengah-panjang masih cukup positif. Koreksi yang terjadi dapat dijadikan kesempatan untuk mengakumulasi beli secara selektif. Berikutnya indeks BEI Senin awal pekan, diproyeksikan akan bergerak menguat. Tercatat, mengakhiri perdagangan akhir pekan, IHSG ditutup melemah 10,789 poin (0,20%) ke level 5.443,065. Sementara Indeks LQ45 ditutup terkoreksi 2,877 poin (0,30%) ke level 946,858.

Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 635,017 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 245.610 kali dengan volume 6,617 miliar lembar saham senilai Rp 7,117 triliun. Sebanyak 107 saham naik, 163 turun, dan 108 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia rata-rata menutup perdagangan dengan positif di akhir pekan. Hanya bursa saham Jepang yang berakhir negatif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 625 ke Rp 17.650, Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 350 ke Rp 11.850, Matahari (LPPF) naik Rp 275 ke Rp 18.300, dan Indofood CBP (ICBP) naik Rp 250 ke Rp 15.100. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 675 ke Rp 21.650, Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 600 ke Rp 13.800, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 525 ke Rp 51.950, dan Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 415 ke Rp 3.000.

Perdagangan sesi I, IHSG ditutup turun 21,338 poin (0,39%) ke level 5.432,516. Sementara Indeks LQ45 melemah 4,872 poin (0,51%) ke level 944,863. Sembilan indeks sektoral terkena tekanan jual dan berakhir di teritori negatif. Hanya sektor agrikultur yang bisa menguat berkat investor domestik.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 181.612 kali dengan volume 6,211 miliar lembar saham senilai Rp 5,209 triliun. Sebanyak 60 saham naik, 259 turun, dan 68 saham stagnan. Pelemahan bursa dalam negeri sejalan dengan koreksi pasar saham regional. Hanya bursa saham Singapura yang masih bertahan di zona hijau.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah SMART (SMAR) naik Rp 300 ke Rp 6.700, Lippo Cikarang (LPCK) naik Rp 275 ke Rp 11.975, Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 200 ke Rp 11.700, dan Adira Finance (ADMR) naik Rp 150 ke Rp 6.600. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 600 ke Rp 51.875, Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 475 ke Rp 13.925, United Tractor (UNTR) turun Rp 400 ke Rp 21.075, dan Indocement (INTP) turun Rp 375 ke Rp 21.950.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka melemah sebesar 20,70 poin atau 0,38% menjadi 5.433,15. Sementara kelompok 45 saham unggulan (indeks LQ45) turun 5,23 poin (0,55%) ke level 944,50,”Indeks saham di wilayah Asia Pasifik, termasuk IHSG cenderung diwarnai aksi ambil untung, mengingat sebagian indeks utama global belum menunjukan 'rally' kuat secara berkelanjutan," kata analis Samuel Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi.

Akhmad Nurcahyadi mengemukakan bahwa indeks AS juga bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah setelah investor kembali melihat potensi kenaikan suku bunga AS (Fed fund rate) yang tetap akan terjadi pada tahun ini, meskipun secara bertahap.

Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah menambahkan bahwa dolar AS yang kembali terapresiasi terhadap mata uang utama dunia termasuk rupiah, dapat memicu kekhawatiran pelaku pasar saham di bursa Indonesia,”The Fed dalam pernyataannya memang tidak lagi menggunakan kata sabar, artinya membuka peluang kenaikan suku bunga bisa di mulai lebih cepat," kata Alfiansyah.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 68,73 poin (0,28%) ke 24.400,16, indeks Bursa Nikkei turun 0,04 poin (0,00%) ke 19.476,52, dan Straits Times melemah 2,40 poin (0,06%) ke posisi 3.384,52. (bani)

Related posts