Penundaan Fed Rate Diklaim Baik

NERACA

Jakarta - Kementerian Keuangan menyatakan, mengklaim bahwa penundaan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) the Fed, dalam menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat. Dinilai dapat memberikan sentimen positif bagi pasar, terutama buat rupiah.

Menteri Keuangan, Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan, penundaan suku bunga The Fed didasari AS yang masih melihat perbaikan ekonominya. Sehingga,diperkirakan kenaikan itu belum tentu terjadi seperti pada bulan yang diperkirakan.

"Bahwa AS masih ingin lihat perbaikan ekonomi di sana, sehingga kenaikan Fed Rate tidak sampai 100 basis points (bps) seperti yang diperkirakan paling 600 bps. Timing-nya juga tidak harus Juni atau Juli seperti yang diperkirakan," kata Bambang di Jakarta, Kamis (19/3).

Bambang menjelaskan, bila sentimen positif yang diberikan dari penundaan Fed. Terlihat dari pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah, yang mengalami sedikit penguatan.

"Menurut kami itu menyejukkan pasar bisa terlihat dari pergerakan rupiah hari ini. Kita jaga terus termasuk melihat pertemuan FOMC berikutnya. Dan mencermati recovery di AS," imbuh dia.

Di sisi lain, menurut Bambang, pertimbangan kebijakan The Fed akan sangat diperhatikan oleh pihak AS. Lantaran dolar AS yang mengalami penguatan terlalu cepat, merugikan perekonomian AS.

"Tapi udah ada indikasi ditunda dan gak akan besar, AS juga harus lihat kalau dolar menguat terlalu cepat juga akan merugikan ekonomi AS sendiri. Kenaikan dolar juga harus memerhatikan kondisi dalam negeri. Adapun empat kebijakan hanya tahap awal, karena ketidakpastian akan tetap muncul jadi kita jaga terus melalui pemulihanCurrent Account Defisit(CAD)," paparnya.

Hal berbeda disampaikan oleh ekonom BNI Ryan Kiryanto , dirinya menyebutkan bahwa Pernyataan The Fed yang kembali menggantung kapan penaikan suku bunga acuannya, berdampak buruk ke Rupiah. Hal ini diprediksi akan semakin melemahkan rupiah terhadap dolar AS.

“Sebenarnya yang diharapkan adalah kepastian waktu kenaikanFed Fund Rateoleh The Fed sehingga bisa memberikan ketenangan bagi pelaku pasar. Saya berpendapat lebih cepat dinaikkan lebih bagus bagi mata uang selain Dolar AS karena sudah ada kepastian,” kata dia.

Ryan juga menjelaskan, apresiasi nilai tukar Dolar terhadap Rupiah dan mata uang lainnya, saat ini sudah memperhitungkan faktor adanya kenaikan suku bunga (price in). “Seharusnya kapan pun kenaikanFed fund Ratetidak akan mengguncang mata uang nonDolar AS, termasuk Rupiah. Asalkan kenaikan ini tidak direspon dengan kepanikan,” pungkasnya. [agus]

Related posts