Program Swasembada Gula Butuh Dukungan Penuh

NERACA

Jakarta - Pemerintah menargetkan swasembada pangan termasuk salah satunya adalah gula dalam waktu dua sampai tiga tahun ke depan. Namun begitu, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil menilai swasembada gula hanya akan jadi fatamorgana jika pemerintah tidak memberikan dukungan bagi penguatan industri dan bisnis gula di dalam negeri.

"Swasembada gula dalam dua sampai tiga tahun ke depan jangan hanya fatamorgana. Swasembada komoditas strategis itu sangat tergantung pada kesungguhan dan niat baik pemerintah. Pemerintah jangan membiarkan adanya kepentingan tertentu di balik kebijakan impor gula," katanya di Jakarta, Kamis (19/3).

Arum menjelaskan, secara umum produktivitas industri gula nasional masih rendah, yakni baru mencapai sekitar empat sampai enam ton gula per hektar dengan komponen berat tebu 70 ton per hektar dan rendemen enam sampai 7,5 persen.

Sebelumnya Kementerian Pertanian mencatat, produksi gula pada 2014 hanya mencapai 2,58 juta ton atau meleset dari angka taksasi produksi sebesar 2,7 juta ton. Dengan capaian produksi sebanyak itu kebutuhan gula nasional masih jauh dari tercukupi.

Langkah pemerintah untuk mengatasi kekurangan gula di dalam negeri adalah dengan membuka keran impor. Namun arus impor gula yang relatif deras merembes ke pasar tradisional dan menekan harga gula lokal. Gula kristal rafinasi untuk keperluan industri makanan dan minuman banyak merembes ke penjualan eceran.

Menurut Arum, produksi gula nasional yang sangat terbatas tidak bisa dilepaskan dari kondisi pabrik gula yang sudah berusia tua, bahkan sejumlah pabrik gula masih tercatat sebagai warisan pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, kata dia, pabrik gula yang ada sudah tidak efisien dan membuat harga gula lokal tidak bisa bersaing dengan harga gula impor.

"Kalau saja pemerintah memberikan penyertaan modal dengan fasilitas perbankan nasional kepada 50 pabrik gula masing-masing sebesar Rp1 triliun, maka akan ada keleluasaan bagi industri gula untuk meningkatkan produktivitas untuk mencapai swasembada gula, sementara nantinya mereka akan mengembalikan pinjaman sesuai ketentuan," cetusnya.

Selain perlunya revitalisasi mesin atau pembelian mesin baru untuk industri gula, Arum juga menjelaskan kendala lain dalam pengembangan industri gula nasional, yakni keterbatasan lahan dan bibit tebu varietas unggul serta perlunya perbaikan sistem pengairan.

"Disamping itu penelitian dan pengembangan harus terus dilakukan. Para peneliti bahkan merupakan garda terdepan bagi pengembangan industri gula. Maka, dalam kaitan ini kesejahteraan peneliti harus benar-benar diperhatikan agar mereka bisa fokus serta tidak lagi memikirkan masalah kekurangan finansial keluarganya masing-masing," tuturnya.

Dia juga menyatakan, keberhasilan industri gula nasional tidak hanya dinilai dari kemampuan berswasembada dan peningkatan daya saing pada era perdagangan bebas, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah tercapainya kesejahteraan petani tebu.

"Selain itu harus ada pembatasan gula impor secara ketat, perlunya konsistensi penerapan bea masuk, tidak adanya rembesan gula rafinasi ke tingkat eceran, adanya kebijakan harga yang berpihak kepada petani, dan perlunya jaminan harga minimal di atas biaya produksi petani," pungkasnya.

BERITA TERKAIT

KOTA SUKABUMI - Sebanyak Dua KK Siap Berangkat ke Mamuju Ikut Program Transmigrasi

KOTA SUKABUMI Sebanyak Dua KK Siap Berangkat ke Mamuju Ikut Program Transmigrasi NERACA Sukabumi - Tahun ini Pemerintah Kota (Pemkot)…

Menkominfo Sebut Indonesia Butuh Coder dan Ahli Big Data Analysis

Indonesia membutuhkan banyak sumberdaya manusia untuk menjadi coder dan ahli big data analysis.  Oleh karena itu Menteri Komunikasi dan Informatika…

Pemerintah Indonesia Vs Freeport - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Negosiasi pemerintah Indonesia dengan Freeport masih terus berjalan sangat alot. Dalam hal ini pemerintah harus kuat dan jangan mengalah dengan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Mentan Akan Bagikan Satu Juta Bibit Jeruk Koprok

NERACA Jakarta - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, akan membagikan satu juta bibit jeruk keprok kepada masyarakat pada 2018…

Industri Sawit RI-India Jalin Kerjasama Produksi

NERACA Jakarta – Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), The Solvent Extractors' Association (SEA) India, dan Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) menandatangani…

Strategi Niaga - Pemerintah Perlu Lobi Amerika Terkait Ancaman Pencabutan GSP

NERACA Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, pemerintah perlu melobi pemerintah Amerika Serikat terkait potensi pencabutan fasilitas…