Rupiah Melemah, Harga Sejumlah Bahan Pokok Naik

NERACA

Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tak hanya menggangu industri skala besar namun juga menggangu sektor perdagangan. Misalnya saja harga daging yang mengalami kenaikan awalnya dari Rp95 ribu per kilogramnya kini menjadi Rp110 ribu per kilogram. Bahkan, cabe pun ikut mengalami kenaikan di Kediri, Jawa Timur, dari awalnya dibandrol sebesar Rp20 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp25 ribu per kilogram. Selain itu, ada bawang merah yang juga mengalami kenaikan di Banjarnegara, Jawa Tengah yang awalnya dijual Rp12 ribu kini menjadi Rp30 ribu per kilogramnya.

Pedangan sayur di Banjarnegara, Yunika Astuti menyebutkan, kelangkaan bawang merah ini terjadi sejak sepekan terakhir, akibatnya harga bawang melambung dari sebelumnya pada kisaran Rp12 ribu per kg, kini naik menjadi Rp30 ribu per kg. Itu pun bawang merah dengan kualitas buruk dan kecil. Akibat mahlnya harga bawang merah, omzet yang diperoleh para pedagang pun turun drastis hingga 50%. Mahalnya harga membuat warga memilih untuk membeli secara eceran.

Ketua Asosiasi Importir Daging Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring mengatakan para pengusaha importir nampaknya telah memberikan sinyal akan menaikkan harga salah satunya adalah daging. Hal itu seiring dengan kian terpuruknya nilai mata uang Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). "Hampir semua komoditi yang diimpor pasti berpengaruh dari pelemahan Rupiah. Mau tidak mau, kita juga akan menyesuaikan dengan harga," tutur Thomas seperti dikutip, Kamis (19/3).

Tentu, yang paling terkena imbas dari anjloknya Rupiah memang pengusaha importir. Namun selayaknya pengusaha, tentu pihaknya tak mau rugi. Thomas mengatakan, meskipun harga daging diperkirakan akan naik, namun kenaikannya tidak akan begitu terasa. "Tinggal kursnya saja naiknya berapa, plus bea masuk dan PPH, lalu juga kita ambil untuk margin sekian persen. Kalau enggak naikan harga masa kita mau rugi," imbuhnya.

Kendati demikian, dirinya juga mengungkapkan, dalam menaikan harga tentu saja para pengusaha juga memperhitungkan harga agar tetap bisa bersaing. Berdasarkan hal itu, para pengusaha juga akan berusaha memangkas margin keuntungannya agar tetap bisa bersaing. "Beberapa ada pertimbangan supaya daya beli konsumen ada dan kami ingin bisnis tetap jalan, jadi mungkin margin kita kurangin. Intinya belum bisa kerasa sekali, tapi pasti ada kenaikan sedikit," pungkasnya.

Sementara itu, dikutip dari website Kementerian Perdagangan, harga bahan pokok secara nasional terpantau masih stabil. Misalnya saja harga daging sapi Rp101.435 per kilogram, cabe Rp24.080 per kilogram, bawang sebesar Rp28.059 per kilogram, beras sebesar Rp10.361 per kilo, gula sebesar Rp11.488 per kilo, minyak goreng sebesar Rp11.289 per liyer dan hanya kedelai yang mengalami kenaikan dari Rp10.888 menjadi Rp11.114.

Raup Untung

Meskipun beberapa sektor industri dan perdagangan dalam negeri mengalami kenaikan harga lantaran rupiah melemah, namun ada industri yang mengalami keuntungan yaitu eksportir. Sejumlah eksportir kakao di Sulawesi Selatan mendapatkan keuntungan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"Bagi eksportir, kondisi seperti ini tentunya berdampak positif. Tapi mengenai harga biji kakao yang naik bukan hanya dipengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar, melainkan harga market internasional," ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Yusa Rasyid Ali, seperti dikutip dari laman Antara.

Dia mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memberikan dampak positif pada neraca perdagangan. "Meski banyak yang mempermasalahkan pelemahan rupiah, namun hal itu memberikan berkah bagi eksportir," katanya. Yusa menjelaskan, ada dua faktor yang mempengaruhi harga biji kakao yakni menguatnya kurs dolar dan stabilnya harga di terminal kakao internasional.

Meski begitu, lanjut Yusa, memang dalam komoditi ekspor sangat diuntungkan dengan melemahnya rupiah. Tapi secara nasional, hal itu tentunya merugikan. "Market internasional mempengaruhi harga pembelian apakah terhadap pedagang lokal, eksportir, maupun industri. Jadi saya pikir bukan semata-mata masalah harga, tapi bagaimana menjaga ketersediaan," katanya.

Yusa menuturkan, kondisi ekspor biji kakao beberapa bulan terakhir tidak seperti dulu lagi. Hal itu disebabkan banyaknya biji kakao yang diantarpulaukan. "Belum lagi ada yang diolah setengah jadi di Makassar kemudian diekspor. Kalau hal ini tidak diantisipasi, kedepan biji kakao akan cenderung semakin menurun karena terserap industri dalam negeri," ujar Yusa.

Related posts