Dirjen Targetkan Gerakan Pakan Mandiri Sukses di 2017 - Perikanan Budidaya

NERACA

Solo – Masalah pakan masih menjadi tantangan pada perikanan budidaya, mengingat hampir 80% bahan baku pakan ikan nasional masih impor. Apalagi di tengah depresiasi rupiah saat ini, harga pakan ikan melonjak tajam. Itu sebabnya, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah genjar menggulirkan program Gerakan Pakan Mandiri (Gerpari), yang digadang-gadang dapat menurunkan biaya produksi pakan pada perikanan budidaya.

Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menyebutkan program Gerpari masih terus diosialisasikan, dan di akhir semester pertama 2015 diharapkan sudah mulai berjalan, baik pengadaan alat pakan maupun edukasi serta pelatihan untuk seluruh kelompok-kelompok pakan mandiri.

“Implementasi program ini berjalan hingga akhir tahun 2015 ini, yang awalnya ditargetkan berjalan selama lima tahun. Tapi kami percepat, menargetkan dalam waktu dua tahun program ini sudah menuai sukses. Paling tidak di tahun 2017 seluruh pembudidaya sudah bisa membuat pakan secara mandiri,” kata Slamet kepada Neraca, sesaat setelah menghadiri acara Rapat Koordinasi Sinkronisasi Program Kegiatan Dengan Kabupaten/Kota Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, di Solo, Rabu malam (18/3).

Oleh karenanya, guna mensukseskan dari program ini, menurut Slamet, tentu nantinya melibatkan banyak instansi maupun lembaga baik pusat maupun daerah, mulai dari peneliti bahkan pihak perbankan. Mengingat program Gerpari ini merupakan suatu bisnis, karena jika tidak setelah diberikan bantuan maka akan berhenti.

“Di situlah yang tidak kami inginkan, jadi untuk memotivasi seluruh kelompok – kelompok penerima bantuan harus dan wajib berorientasi pada bisnis. Yang kami inginkan, program ini bisa berjalan secara berkelanjutan, jadi tidak diberi bantuan lalu selesai. Jadi kami ingin bangun mind set dari pada kelompok ini adalah bisnis yang menguntungkan, sehingga perbankan bisa ikut masuk mendanai mereka,” ujarnya.

Adapun fokus maupun sasaran dari program Gerpari ini adalah untuk pakan komoditas ikan tawar, bagi Slamet, tidak menargetkan muluk-muluk minimal dari program ini bisa memberikan kontribusi sekitar 18% dari kebutuhan pakan nasional sisanya bisa disuplai dari perusahaan pakan BUMN, dan swasta. “Untuk tahap awal program dari Gerpari ini untuk pakan ikan tawar, karena kalau seperti udang masih mengandalkan pakan impor karena sesuai dengan standar international mengingat udang orientasinya ekspor,” ucapnya.

Slamet menjelaskan memang tahapan dari program ini adalah pertama sosialisasi yang sudah dan terus dijalankan, lalu sebenatar lagi mulai identifikasi, verifikasi, lalu kemudian dilakukan sosialisasi lagi untuk awal penentuan lokasi, kelompok, lalu kelompok itu dilatih, baik pelatihan permesinan hingga pembuatan pakannya. “Target awal lima tahun, tapi saya yakin jika dapat berjalan bersama-sama dua tahun cukup program ini sudah bisa berjalan, dan yang terpenting sudah banyak dinikmati oleh para pembudidaya nasional,” tegasnya.

“Mengingat arah dari kebijakan kami (KKP) lebih pada membawa para pembudidaya lebih mandiri, kami tidak ingin memanjakan para pembudidaya, tapi kami malah ingin mereka mandiri, meski pun awal-awal kita bantu, tapi ke depan mereka malah harus bisa membantu yang lain. Sebagai contoh kalau di pertanian ada subsidi pupuk, benih, walaupun itu bagus buat petani nasional. Tapi kami menginginkan untuk sektor perikanan membangunnya dengan kemandirian,” paparnya.

Dukungan Penuh

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Jawa Tengah, Lalu M. Syafriadi menambahkan di tengah gonjang-ganjingnya perikanan laut, ini merupakan satu kesempatan bagi perikanan budidaya untuk unjuk gigi. Disini masalah utama dari pembudidaya adalah tingginya harga pakan, maka dari itu program yang digulirkan oleh Direktorat Jenderal Budidaya harus nyata dan riil. “Kami dari daerah memberikan dukungan penuh atas program Gerpari ini, diharapkan dua tahun sudah berjalan, dan tiga tahun ke depan sudah bisa berjalan stabil,” katanya.

Selain itu, Lalu meminta kepada pemerintah terutama pusat dapat mengawal terus program ini, mengingat dulu pernah ada semacam bantuan mesin untuk pakan ikan. Tapi karena minimnya pendampingan sehingga tenggelam. Dan harapannya pengalaman seperti itu tidak terjadi. “Program ini harus bisa berjalan secara riil dan sustainable atau berkelanjutan. Oleh karenanya, saya minta perlunya terus pendampingan dan edukasi terus menerus kepada pembudidaya maupun kelompok penerimana bantuan,” tegasnya.

Mengingat sampai dengan saat ini cost produksi perikanan budidaya 70 persennya habis untuk pakan. JIka pemerintah pusat mampu mensukseskan program Gerpari ini, diyakini target-target produksi perikanan budidaya setiap tahunnya dapat tercapai. “Ditengah rupiah yang terus terpuruk, harga pakan terus-terusan naik. Jika program ini bisa berjalan, meski rupiah turun dan gonjang-ganjing apa pun produksi bisa stabil, karena pakan bisa diproduksi dalam negeri, dan berbahan baku lokal,” tukasnya.

Related posts