Depresiasi Rupiah Tekan Industri Makanan dan Minuman

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman menyatakan, depresiasi rupiah hingga menembus Rp13.000 per dolar AS menekan beberapa industri prioritas, seperti makanan dan minuman (mamin). “Saat ini, sebagian besar bahan baku industri mamin masih diiimpor. Dengan demikian, pelemahan rupiah membuat biaya produksi membengkak,” katanya di Jakarta, Kamis (19/3).

Pelaku usaha mamin, menurut Adhi, tidak bisa langsung menaikkan harga jual. Pebisnis khawatir kenaikan harga menggerus penjualan. “Berdasarkan rapat internal Gapmmi pekan lalu, semua pelaku usaha mamin sepakat untuk tidak menaikkan harga jual,” paparnya.

Keputusan tersebut, lanjut Adhi, didasari pasar domestik yang masih lesu dan Gapmmi masih menunggu keputusan bank sentral AS, The Fed, terkait penentuan suku bunga. “Jika harga mamin dikerek, penjualan akan berkurang dan merugikan pengusaha. Untuk mengantisipasi pelemahan rupiah, industri mamin mempunyai stok penyangga (buffer stock) bahan baku hingga enam bulan,” ujarnya.

Adhi meminta pemerintah serius dalam menangani pelemahan rupiah. Kalau rupiah terus dibiarkan melemah, industri mamin sebagai cabang industri manufaktur pemasok PDB terbesar akan merugi. “Paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah berpotensi memperkuat rupiah terhadap dolar. Namun, efeknya diperkirakan baru terasa dalam dua bulan mendatang,” tuturnya.

Kalau rupiah terus melemah, kata Adhi, maka bakal ada kenaikan harga makanan dan minuman. "Kita menunggu sampai dua pekan ke depan, kalau tidak ada perubahan maka kita akan merevisi harga," katanya.

Kemarin, rupiah mencapai level Rp 13.164, semakin lemah dibandingkan sehari sebelumnya, yakni Rp 13.059. Adhi mengungkapkan, pelaku industri makanan dan minuman sekarang dirundung kekhawatiran.

Terutama kalau rupiah terus mengalami kecenderungan melemah, bahkan sampai titik Rp 14 ribu. Keadaan seperti ini, Adhi yakini akan memicu perubahan harga yang tinggi. Sementara, potensi kenaikan harga ini tak diiringi daya beli masyarakat yang meningkat.

Berdasarkan perhitungan Gapmmi, kenaikan harga diperkirakan dalam kisaran lima hingga 10 persen. "Jika dolar AS menguat dan rupiah menyentuh level Rp 14 ribu, kenaikan harga bisa sampai 15 persen," kata Adhi menegaskan.

Ia menjelaskan, industri makanan dan minuman skala menengah dan besar masih mempunyai daya tahan. Sebab, ada stok bahan baku dan stok distributor ada hingga tiga bulan mendatang. Meski demikian, mereka tak dapat bertahan lama ketika rupiah terus melemah.

Pada suatu saat, industri menengah dan besar pun akan terdampak sehingga mau tak mau menaikkan harga penjualan. Sekarang, pelaku industri makanan dan minuman menyiasatinya dengan berupaya mengurangi dan menekan biaya produksi.

Menaikkan harga itu, kata Adhi, pengaruhnya besar sekali terhadap penjualan. Apalagi, ini menjelang puasa, membuat kalangan pengusaha makanan dan minuman menghadapi dilema. Ia berharap nilai rupiah segera stabil kembali.

Karena itu, Gapmmi menyampaikan permintaan kepada pemerintah agar segera menstabilkan nilai rupiah. Dengan demikian, industri makanan dan minuman bisa mendapatkan bahan baku dengan harga wajar, serta daya beli masyarakat tetap terjaga.

Secara terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sulistiyanto, mengatakan, berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional, harga kedelai, khususnya kedelai impor merangkak naik.

Kenaikan tersebut seiring dengan nilai tukar rupiah yang merosot terhadap dolar AS. Saat ini, harga kedelai per kilogramnya Rp 8.000, sebelumnya hanya Rp 7.000. "Ada kenaikan Rp 1.000 setiap kilogramnya," ujar Sulistiyanto.

Selain itu, pasokan kedelai di pasar juga langka. Penyebabnya, tak ada masa panen kedelai sehingga membuat kedelai lokal sangat terbatas. Ia menyimpulkan, kedua hal tersebut yang mendorong harga kedelai impor merangkak naik.

Walaupun harga kedelai lebih mahal, namun harga tempe maupun tahu belum naik. Sulistiyanto mengatakan, pengrajin tempe atau tahu belum menaikkan produksinya sehingga untuk sementara, kenaikan harga kedelai impor belum meresahkan pengrajin tempe maupun tahu.

Pengrajin tahu di Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kini cemas dengan melemahnya rupiah. Mereka berharap harga kedelai tahun ini tak seperti yang pernah terjadi pada 2013. Waktu itu, pengrajin tahu kewalahan karena harga kedelai hampir Rp 10 ribu/kg.

Rudi Ishak, salah satu pengrajin, hanya bisa berharap rupiah yang telah menembus Rp 13 ribu tak akan membuat harga kedelai meningkat tajam. Ia mengaku, sampai sekarang belum ada kenaikan. Harganya masih Rp 7.300 hingga Rp 7.400 per kilogram.

Rudi dan pengrajin lainnya kerap membeli kedelai dari agen. Harganya sudah termasuk biaya pengiriman. Rudi mengaku, ia telah menambah stok kedelainya untuk mengantisipasi kenaikan harga komoditas tersebut dalam beberapa waktu ke depan.

Rencana lainnya, kalaupun nanti akhirnya harga kedelai naik, kata Rudi, para pengrajin tak langsung menaikkan harga tahu. Pilihan yang paling memungkinkan adalah mengurangi ukuran tahu yang para pengrajin buat.

Ada sekitar 114 pengrajin tahu di Kecamatan Cangkuang. Mereka membutuhkan kedelai hingga 40 ton per hari.

Related posts