Renta dan Tua Tak Menyurutkan Ma-Anah untuk Tetap Bekerja

NERACA

Cianjur - Kusulitan ekonomi yang melanda masyarakat Kab. Cianjur, seperti ibu-ibu renta yang hanya mengandalkan belas kasihan orang lain dengan mengemis didepan Masjid Agung Cianjur, atau meminta kepada orang yang lalu lalang di toko-toko dan jalan. Tidak membuat surat Ma-Anah (76) untuk beralih profesi, dari pekerja buruh amplas sangkar burung perkutut menjadi pengemis. Karenanya, dia tak merasa lelah setiap mengemis, sebab bisa mengumpulkan rupiah sehingga setiap hari tidak kurang dari Rp 50.000 masuk kekantongnya. Itu dia lakukan dari pukul 07.00 s/d 15.00. Hasilnya pun fluktiatif, tak jarang dia hanya mampu mengumpulkan Rp. 15.000 per hari.

“Ema mah langku sae janten kuli kieu we /ampelas kurung manuk, janteun baramaen mah isin sareng alim we emah mah (sunda) emah lebih baik jadi kuli ampelas kurung manuk dari pada jadi tukang minta-minta mah, ema mah malu dan memang tidak mau jadi saja” ujar Ma-Anah

Bagi dirinya sekalipun upahnya tidak cukup untuk dipake makan sehari-hari, setidaknya Ma Anah tidak meyusahkan orang lain, sudah lebih dari 7 tahun Ma Anah bekerja di perusahaan Sangkar Burung Perkutut Milik H. Ace di Kampung Kabandungan Desa Sindangasih Kecamatan Karangtengah-Kab. Cianjur. Upah menjadi buruh hampelas sangkar burung perkutut dihitung satu kurung dibayar Rp. 250, jika kondisi kesehatannya sedang membaik Ma-Anah bisa mendaptkan Rp. 15 ribu per hari, tapi bila penyakit encoknya kambuh Ma-Anah hanya mampu mendapatkan upah sebesar Rp. 7.500 per hari.

Related posts