Calon Direksi BEI Mulai Agresif Blusukan - Dirut Mansek Lebih Diunggulkan

NERACA

Jakarta – Sebulan menjelang deadline penyerahan calon kandidat direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 30 April 2015, nama-nama calon direksi sudah mulai bermuculan di kalangan anggota bursa. Meskipun belum secara tegas menyebutkan paket calon direksi, tetapi beberapa nama yang sudah tidak asing lagi di kalangan pelaku pasar modal ikut meramaikan bursa pencalonan direksi BEI. Bahkan mereka yang berminat mencalonkan diri sebagai direksi BEI baru sudah mulai blusukan untuk mencari dukungan.

Menurut seorang sumber di kalangan bursa, calon direksi yang santer disebut-sebut bakal mencalonkan diri antara lain, Samsul Hidayat, Tito Sulistio, Rinaldi Firmansyah, Abiprayadi Riyanto, Boyke Mukijat, dan ada juga Inarno Djajadi,”Nama-nama ini telah beredar di kalangan pelaku pasar untuk menjadi Dirut BEI yang akan diputuskan di RUPS pada 25 Juni nanti," ungkap seorang sumber yang tidak mau menyebutkan namanya di Jakarta, kemarin.

Terlepas siapa yang akan menjabat nanti, yang pasti industri pasar modal kedepan mempunyai tantangan yang cukup berat menghadapi persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN. Pasalnya, bagaimana meningkatkan peran serta aktif investor lokal masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan,”Meningkatkan investor lokal dan jumlah emiten di bursa menjadi pekerjaan rumah,”kata analis pasar modal dari Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo kepada Neraca.

Berkaca dengan pasar modal di Singapura dan Malaysia, jumlah emiten atau perusahaan yang tercatat di BEI masih tergolong sedikit dan masih kalah banyak dibanding kedua negara tersebut. Saat ini, jumlah emiten yang tercatat di bursa hanya sekitar 502 emiten lebih. Sementara jumlah emiten di negara tetangga seperti Malaysia saat ini sudah mencapai 900 lebih, lalu di Singapura sudah di atas 1.000 emiten. Apa lagi jika dibandingkan dengan negara maju, jumlah emiten di tanah air tergolong sangat sedikit. Padahal, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak dibandingkan kedua negara tersebut.

Sedikitnya jumlah emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia, memacu perdagangan di bursa juga belum terlalu liquid sehingga Indonesia masih sangat bergantung pada investor asing. Untuk itu perlu adanya peningkatan agar bursa saham bisa lebih berkembang lagi. Oleh karena itu, sosialisasi dan edukasi serta meningkatkan literasi keuangan di masyarakat menjadi syarat mutlak untuk meningkatkan daya saing industri pasar modal di Indonesia. Menurut survey Otoritas Jasa Keuangan (OJK), angka literasi keuangan baru 22% atas seluruh populasi. Itu kebanyakan baru mencakup pemahaman mengenai fungsi perbankan.

Tantangan lainnya, kata Satri Utomo, calon direksi BEI yang baru harus bisa mengakomodir kepentingan anggota bursa dan termasuk bisa lihai dalam melobi kebijakan pemerintah yang dirasakan memberatkan,”Kemampuan direksi BEI dalam melakukan lobi-lobi terhadap OJK dan pemerintah, dirasakan penting agar bisa mendapatkan dukungan dari anggota bursa,”ungkapnya.

Dia menyebutkan, salah satu lobi yang harus dilakukan adalah soal rencana kebijakan pemerintah tarif ad valorem untuk bea materai surat-surat berharga termasuk saham. Menurut Satrio, hal ini harus dilakukan direksi BEI agar tidak membuat anggota bursa (AB) gulung tikar. Alasannya, kebijakan tersebut dirasakan memberatkan AB. Asal tahu saja, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana menggunakan tarif ad valorem untuk bea materai surat-surat berharga termasuk saham. Tarif ad valorem ini adalah pajak yang dikenakan berdasarkan angka persentase tertentu dari nilai barang.“Kalau saham per lembar harganya Rp 100.000, kalau tarif bea materainya 1%dari itu berarti yang dipungut Rp 1.000,” terang Direktur Peraturan Perpajakan I, DJP, Kemenkeu, Irawan.

Disebutkan, benchmarking ini sudah internasional dan negara Singapura sudah melakukan hal tersebut. Kembali kepada bursa pencalonan direksi BEI, akan menjadi isu hangat yang menjadi sorotan para pelaku pasar modal mengingat perannya yang strategis dan prestisius. Bagi Satrio, dirinya lebih mengunggulkan Abiprayadi sebagai dirut BEI kedepan karena memiliki kemampuan yang mumpuni dan ditambah posisinya sebagai dirut Mandiri Sekuritas, memiliki peluang besar dengan kedekatan terhadap OJK,”Posisi Abiprayadi sebagai dirut Mansek bakal lebih terima OJK untuk memuluskan agenda OJK kedepan. Apalagi biasanya tradisi dirut BEI berasal dari sekuritas BUMN,”tandasnya.

Sebagai informasi, OJK sendiri telah merestui jumlah anggota dewan direksi BEI periode 2013-2018 tetap seperti di periode sebelumnya yaitu sebanyak tujuh orang. Mekanisme pemilihan punggawa bursa ini juga tetap menggunakan sistem paket dimana satu paket terdiri dari satu dirut dan enam direktur.

Batas akhir pengajuan paket-paket direksi diterima OJK paling lambat pada 30 April 2015. Uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) diperkirakan pada 1-3 Juni 2015 dan akan diumumkan hasilnya pada 4 Juni 2015. OJK menerima bila ada usulan baru hingga 11 Juni 2014 dan pada 18 Juni akan diumumkan calon terpilihnya. (bani)

Related posts