BI Rate Tetap, Otoritas Bersikap Responsif

NERACA

Jakarta - Ekonom Enny Sri Hartartimenilai kebijakan Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate di level 7,5% menunjukkan sikap responsif otoritas moneter tersebut terhadap kondisi ekonomi terkini."Kebijakan BI tersebut responsif terhadap kondisi yang ada sekarang. Jadi, memang persoalan yang kita hadapi sekarang ini tidak mudah ya, sekarang sekalipun inflasinya relatif terkendali tetapi keseimbangan eksternalnya kan bermasalah, nilai tukar kita tertekan. Ini yang tentu membuat BI harus hati-hati sekali dalam merespon dengan menentukan tingkat suku bunga," ujarnya di Jakarta, Rabu (18/3).

Menurut Enny, memang di satu sisi, penguatan ekonomi domestik membutuhkan stimulus fiskal yang baru saja dikeluarkan pemerintah dengan paket kebijakan pada Senin (16/3).Namun, lanjut dia, tentu ada harapan stimulus moneter juga dengan pelonggaran likuiditas.

"Tapi persoalannya kan sumber dari depresiasi ini memang neraca finansial kita yang bermasalah. Artinya, kalau BI menurunkan suku bunga, satu ini akan berisiko defisit finansialnya bisa lebih tinggi. Oleh karena itu, BI belum bisa untuk mengendorkan likuiditas melalui penurunan suku bunga," katanya.

Enny menuturkan, saat ini upaya yang harus segera dilakukan pemerintah adalah memperbaiki struktur ekonomi, yang dimulai dari kebijakan fiskalnya terlebih dulu.Langkah pemerintah mengeluarkan empat paket kebijakan fiskal dinilai sudah tepat namun harus efektif."Jadi kalau nanti kebijakan fiskal ini efektif, ini kan akan memberikan penurunan ketergantungan kita terhadap impor. Kalau ketergantungan kita terhadap impor sudah mereda baru ada keleluasaan dari moneter untuk melakukan pengendoran dari pengetatan likuiditas," ujarnya.

Enny menambahkan, apabila terjadi potensi "capital outflow"(arus modal keluar), maka hal tersebut sudah mampu dikompensasi dengan adanya surplus di neraca perdagangan yang merupakan hasil dari perbaikan struktur ekonomi yang dilakukan."Jadi ini memang harus 'tek tok', sulit memang. Kita kan inginnya BI segera menurunkan suku bunga agar 'high cost economy' kita mulai berkurang. Tapi ini harus melihat kondisinya yang sekarang sedang mengalami tekanan eksternal," tandasnya. [ardi]

Related posts