2015, Padang Ditargetkan Raih Pajak Rp3,88 Triliun

NERACA

Jakarta - Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Padang, Sumatera Barat menargetkan penerimaan pajak pada 2015 sebesar Rp3,88 triliun atau meningkat 65,88% dibanding realisasi 2014 yang mencapai Rp2,34 triliun. Rinciannya, pajak penghasilan (PPh) sebesar Rp2,4 triliun, tumbuh 55% dari sebelumnya Rp1,545 triliun. Kemudian pajak pertambahan nilai (PPn) dan pajakpenjualan atas barang mewah (PPnBM) Rp1,41 triliun, meningkat 86% dari sebesar Rp763 miliar.

Sementara pajak tidak langsung lainnya (PTLL) ditargetkan mencapai Rp63,7 miliar, melonjak 121% dari Rp28,8 miliar. Menurut Kepala Seksi Penagihan KPP Pratama Padang, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Mochammad Bayu Tjahjono, terdapat kendala yang dihadapi dalam melakukan penagihan pajak, diantaranya minim dukungan dan koordinasi dari parastakeholder(pemerintah daerah, asosiasi atau pengusaha dan tokoh masyarakat).

Lalu, kesadaran wajib pajak (WP) dan pertumbuhan ekonomi di Kota Padang yang dinilai masih relatif rendah karena terlalu bergantung pada harga komoditas andalannya, yaitu kelapa sawit dan karet. “Budaya dan kultur setempat seperti penolakan dari masyarakat daerah untuk patuh membayar pajak, turut menambah kesulitan kita,” ungkap Bayu, kala berbincang dengan wartawan di Jakarta, Senin (16/3).

Selain itu, Bayu mengaku akan melakukan langkah-langkah pengamanan penerimaan pajak yang berbasis lima sektor dominan, yakni pengawasan proyek dan rekanan PT Semen Padang, industri pengolahan sawit, khususnya Group DIPO di mana akan diusulkan untuk pemeriksaanAll Taxes untuk SPT Tahun 2014 akibat lebih bayar (LB) serta pemeriksaan keterkaitan.

Selanjutnya, penggalian potensi PPn apotek dan rumah sakit, penggalian potensi pajak di sektor perbankan seperti Bank Nagari, rekanan Bank Nagari dan Bank Perkereditan Rakyat. “Terakhir penggalian potensi pajak dari rekanan jasa pengangkutan PT Pertamina (Persero),” tukasnya.

Realisasi tahun lalu

Bayu juga melaporkan bahwa realisasi penerimaan pajak 2014 sebesar Rp2,34 triliun, atau 84,85% dari yang ditargetkan sebesar Rp2,76 triliun. PPh mengalami penurunan 0,05% secara tahunan (year on year / yoy) dari Rp1,546 triliun pada 2013 menjadi Rp1,545 triliun di tahun lalu.

Sementara PPn dan PPnBM meningkat 2,81% yoy menjadi Rp763 miliar dari sebelumnya sebesar Rp742 miliar. “Untuk PTLL juga naik 7,51% yoy dari Rp26,8 miliar menjadi Rp28,8 miliar pada tahun lalu,” ujar dia.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, penerimaan pajak di beberapa sektor mengalami penurunan. Diantaranya sektor industri pengolahan dan konstruksi turut mengalami penurunan masing-masing sebesar 7,06% yoy dari Rp774 miliar menjadi Rp719,3 miliar dan sebesar 3,85% yoy menjadi Rp215,15 miliar dari Rp223,7 miliar.

Menurut Bayu, tidak semua sektor mengalami penurunan penerimaan pajak. Sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 1,64% yoy menjadi Rp32,64 miliar dari Rp32,11 miliar. Sektor kesehatan dan kegiatan sosial juga naik 14,21% yoy menjadi Rp18,71 miliar dari sebelumnya Rp16,38 miliar.

“Meskipun ada beberapa jenis pajak yang mengalami pertumbuhan negatif seperti PPh Pasal 25 Badan serta PPh Pasal 22, namun secara keseluruhan, pada tahun 2014 KPP Pratama Kota Padang mengalami pertumbuhan netto sebesar 0,95%, dari Rp2,31 triliun menjadi Rp2,33 triliun,” tandas Bayu. [ardi]

Related posts