AKIBAT MUSIM KEMARAU Sekitar 30% Areal Pertanian di Kota Sukabumi, Alami Kekeringan

NERACA

Sukabumi- Diakibatkan musim kemarau yang berkepanjangan, areal pesawahan di wilayah Kota Sukabumi terancam kekeringan. “Dari areal persawahan seluas 1.859 hektar, sekitar 30%- nya terancam kekeringan. Khusunya di wilayah Kota Sukabumi Bagian barat, karena daerah tersebut sulit mendapatkan sumber air,” kata Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi, Ate Rahmat.

Areal persawahan yang terancam kekeringan tersebut, lanjut Ate Rahmat pada Neraca di Sukabumi beberapa waktu lalu, didominasi oleh tanaman padi yang umurnya masih muda sekitar 1-2 bulan, dikarenakan sangat membutuhkan banyak air, berbeda jika dibandingkan dengan padi yang umurnya sudah tua tidak terlalu memerlukan air yang banyak. Dan ini terjadi di Kota Sukabumi yang areal pesawahannya hampir seluruhnya masih terbilang muda.

Selain mengancam areal persawahan, kekeringan musim kemarau saat ini juga berdampak hasil produksi beras di Kota Sukabumi yang hanya mampu menghasilkan rata-rata 6,1 ton gabah kering. Bila dibandingkan pada waktu air normal per hektarnya bisa menghasilkan rata-rata 7 ton.

“Dari sekian ribu hektar areal persawahan yang ada di wilayah kami, setiap tahun bisa menghasilkan 15.600 ton beras pada waktu cuaca normal, namun jika musim kemarau seperti sekarang ini jumlahnya akan berkurang,” terang dia.

Ate menjelaskan, kebutuhan konsumsi beras bagi masyarakat Kota Sukabumi mencapai 33.000 ton. Sementara jumlah areal persawahan di Kota Sukabumi serta hasil produksi beras setiap tahunnya tentu sangat kurang. Jadi untuk memenuhi kekeurangan stok beras itu, kami suplainya dari daerah luar Kota Sukabumi. ”Jika melihat data yang ada, setiap tahunnya mencapai 70 ton beras yang keluar masuk wilayah Kota Sukabumi,” ujar Ate lagi.

Untuk itu pihaknya telah melakukan upaya – upaya guna mengantisipasi kekeringan tersebut, dengan memberikan ilmu pengetahuan tentang iklim kepada para petani agar tidak terjadi gagal panen, terlebih saat ini masa panen di kita tidak serentak. “Kami juga memberikan solusi lain jika disaat kemarau panjang petani bisa mengganti tanaman padi dengan tanaman palawija. Contohnya, seperti tanaman kacang-kacangan dan singkong, bila terus dipaksakan tetap menanam padi di musim kemarau ini takutnya akan terjadi gagal panen,” tandas Ate.

BERITA TERKAIT

Narada Berpotensi Gagal Bayar Penempatan Investasi, Pengamat Bicara Internal Perusahaan

Narada Berpotensi Gagal Bayar Penempatan Investasi, Pengamat Bicara Internal Perusahaan NERACA Jakarta - Saham-saham protfolio Narada Asset Management (NAM) mengalami…

Kampoeng Kouliner Hadir di Thamrin City

Kampoeng Kouliner Hadir di Thamrin City NERACA Jakarta - Pusat Belanja Trade Mall Thamrin City terus berkreasi dan berinovasi memanjakan…

Kemenkop Dukung Gerakan Serikat Ekonomi Pesantren di Jabar

Kemenkop Dukung Gerakan Serikat Ekonomi Pesantren di Jabar NERACA Tasikmalaya, Jawa Barat - Kementerian Koperasi dan UKM menyambut baik Gerakan…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Consina Wujudkan Mimpi Para Pendaki ke Gunung Kilimanjaro

Consina Wujudkan Mimpi Para Pendaki ke Gunung Kilimanjaro  NERACAJakarta - Consina sebagai salah satu brand perlengkapan outdoor terbesar di Indonesia…

Penuhi Kebutuhan Laundry, Triton Buka Showroom Mesin Cuci Baru

Penuhi Kebutuhan Laundry, Triton Buka Showroom Mesin Cuci Baru  NERACA Tangerang - Setelah lebih dari satu dekade ditunjuk menjadi distributor…

Ketum Hipmi Jaksel: Penurunan Suku Bunga KUR jadi Stimulan bagi UMKM

Ketum Hipmi Jaksel: Penurunan Suku Bunga KUR jadi Stimulan bagi UMKM NERACA Jakarta - Mengutip laman resmi Sekertariat Kabinet. Mulai…