Askarindo Mengaku Mampu Memproduksi Mobnas - Industri Otomotif

NERACA

Jakarta - Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) menyatakan bahwa para anggotanya sebenarnya mampu untuk memproduksi mobil nasional. Hal ini diungkapkan oleh T.Y. Subagio, Sekretaris Jenderal Askarindo. "Kalau pemerintah mau kerjasama dengan industri karoseri, kami siap," kata Subagio di Jakarta, Rabu (18/3).

Menurut Subagio, kesiapan ini dikarenakan memang sudah banyak anggotanya yang memiliki sistem line produksi yang baik, terlebih lagi kendaraan tersebut digunakan untuk menopang kegiatan sehari-hari. "Ada industri karoseri yang sistem line production-nya sudah bagus, seperti untuk kendaraan penumpang," katanya.

Meskipun begitu, sebagaimana menurut Subagio, sampai saat ini pemerintah belum meminta hal tersebut. "Belum ada permintaan dari pemerintah terkait dengan pengembangan mobil nasional. Kalau pemerintah minta, industri karoseri siap," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan Indonesia terlambat membuat mobil nasional. Akibatnya, kata dia, Indonesia tidak bisa bersaing dengan pasar dunia."Menyaingi industri otomotif raksasa tidak mungkin. Jangan dibayangkan seperti Malaysia," kata Sofyan.

Menurut Sofyan, Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta agar pengembangan mobil nasional diarahkan untuk segmen khusus, seperti angkutan perkebunan atau angkutan pedesaan, dengan model pengembangan seperti Esemka. "Kita tidak akan membuat mobil seperti raksasa-raksasa dunia," ucapnya.

Sofyan berharap produsen seperti Esemka dapat membuat 500 mobil setiap bulan, lalu bisa mencari pangsa pasar dengan jumlah tertentu. Untuk anggaran pertama, kata Sofyan, produsen seperti Esemka membutuhkan dana Rp 100 miliar. "Kalau bisa menjual 400 unit sebulan, itu sudah luar biasa," katanya.

Menteri Perindustrian Saleh Husein mengatakan rencana detail pengembangan mobil nasional untuk segmen khusus akan dikaji bersama dengan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Namun, kata Saleh, belum ada pembahasan untuk pemberian subsidi maupun insentif fiskal dalam proyek ini. "Nanti ada aturannya dan harus disesuaikan agar tidak akan melanggar regulasi internasional," katanya.

Salah satu merek yang akan didorong untuk produksi angkutan tersebut adalah Esemka. Saleh mengatakan Esemka sudah lolos uji Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan. Dia mengaku telah mendapat kesanggupan dari Direktur Esemka untuk memproduksi angkutan tersebut dengan bahan baku dari dalam negeri.

Pengembangan mobil lokal dalam segmen khusus telah dilakukan beberapa perusahaan, antara lain PT Fin Komodo Teknologi. Perusahaan asal Bandung ini membuat Fin Tawon, kendaraan kecil untuk perkebunan. Namun Fin sulit mengembangkan produksi massal karena minimnya pasar dan modal. "Pemerintah diam-diam saja, tidak ada dukungannya," ujar Koordinator Pemasaran Fin Komodo Teknologi, Dewa Yuniardi, beberapa waktu lalu.

Disisi lain Asisten Deputi Produktivitas Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kementerian Riset dan Teknologi Dr.Ir.Erry Ricardo Nurzal, MPA mengatakan mesin yang dipakai siswa SMK untuk membuat mobil adalah mesin FOdai, impor dari China dalam bentuk Completely Knock Down (CKD).

"Mesin FOdai SUV itu bisa sebenarnya untuk mesin kapasitas 2000 CC, tetapi tidak mudah mendapatkan mesin seperti itu maka kemudian ada perusahaan PT AICA yang punya mesin 1500 CC dan dulunya mesin ini adalah mesin mobil Timor," kata Erry.

Dengan kondisi perkembangan industri otomotif dunia yang memungkinkan pembuatan kendaraan secara tumpahan maka siswa SMK pun dimungkinkan menggunakan mesin tertentu. Berdasarkan pengamatannya selama di Solo, Erry mendapatkan mobil esemka tersebut menggunakan mesin yang didatangkan dari Cina tersebut.

"Pengecoran body mobilnya sendiri dilakukan di beberapa bengkel yang terdapat di Cepu dan Klaten. Perakitan mobilnya juga tidak dilakukan oleh satu sekolah melainkan dari beberapa SMK otomotif lainnya." kata Erry.

Semua itu menurut Erry dilakukan siswa SMK dalam rangka Teaching Factory untuk menyiapkan lulusan SMK yang siap bekerja di industri otomatif. Namun jika minat berbagai kalangan terhadap mobil rakitan siswa SMK tersebut tinggi hal itu menunjukkan masih ada peluang bagi bangsa ini untuk menghasilkan karya anak-anak negeri. Oleh karena itu Kemenristek mengapresiasi semangat siswa SMK untuk membuat mobil yang punya nilai jual.

"Kemenristek mendukung dengan menguji iptek disain mobil esemka. Dukungan seharusnya tidak bisa dilakukan oleh Ristek sendiri, kementerian lain bisa memberikan dukunganya juga seperti perhubungan terkait uji kelayakan atau kementerian perindustrian untuk peluang pasarnya dan sebagainya," kata Erry.

Setelah ada pengujian disain, mesin dan transmisi maka tahapan berikutnya yang harus dilalui mobil esemka adalah apakah ada investor yang mau membuat mobil dalam jumlah banyak.

Related posts