Harga BBM Bisa Kembali Naik - Rupiah Terus Terdepresiasi

NERACA

Jakarta - Analis MNC Securities, Reza Nugraha, mengatakan, adanya rupiah yang terus terdepresiasi bisa menjadikan harga minyak dunia ikut naik. Al hasil pemerintah bisa saja kembali menaikan harga bahan bakar minya (BBM)

Menurut Reza, pemerintah tampaknya kurang menyimak bahwa dengan terus melemahnya Rupiah maka harga bahan bakar minyak (BBM) akan mengalami kenaikan. Imbasnya, masyarakat harus membeli dengan harga mahal di tengah rendahnya harga minyak mentah.

"BBM bisa naik dengan dolar AS menguat. Jadi, melemahnya minyak mentah tidak dapat dinikmati oleh masyarakat karena Rupiah yang terus melemah," katanya di Jakarta, Selasa, (17/3).

Seperti diketahui, pada awal maret kemarin, pemerintah memutuskan untuk menaikan harga Bahan Bakar Minyak jenis Premium menjadi Rp 6.800 per liter pada awal Maret 2015 ini. Namun, pemerintah tak mengubah harga BBM jenis Solar sehingga tetap di harga Rp 6.400 per liter.

Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Saleh Abdurrahman mengatakan, keputusan pemerintah untuk menaikan harga Premium tersebut diambil atas beberapa pertimbangan. Salah satu pertimbangan tersebut adalah rata-rata harga indeks minyak di Singapura atau Mean of Platts Singapore (MOPS) yang selama ini menjadi patokan bagi RI untuk menentukan harga BBM.

Saleh menjelaskan, harga patokan untuk solar (MOPS Gasoil) sepanjang Pebruari mengalami kenaikan menjadi di kisaran US$ 62 per barel hingga US$ 74 per barel. "Sementara MOPS Premium mengalami kenaikan menjadi di kisaran US$ 55 per barel hingga US$ 70 per barel," kata Saleh.

Menurut Saleh, Kenaikan MOPS sepanjang Februari sebenarnya cukup signifikan. Namun, Pemerintah tidak menaikkan harga solar dan hanya menaikkan harga jual eceran bensin Premium RON 88 di wilayah penugasan Luar Jawa-Madura-Bali sebesar Rp. 200 per liter untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mempertimbangkan selisih harga sepanjang bulan Februari. [agus]

Related posts