WIKA Akuisisi Tambang Aspal di Buton - Gandeng Perusahaan Tiongkok

NERACA

Jakarta – Gencarnya pembangunan infrastruktur yang tengah di genjot pemerintah, memacu minat investor asing masuk ke pasar Indonesia. Salah satunya, perusahaan besar Tiongkok berencana mengakuisisi tambang aspal alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Rencananya, akuisisi tambang aspal akan menggandeng PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Saat ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor konstruksi tersebut tengah melaksanakan uji kelayakan untuk merealisasikan rencana tersebut.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya, Suradi mengatakan, investor Tiongkok tersebut dan Wika mengkaji untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) untuk mengakuisisi tambang aspal alam. Perusahaan Tiongkok itu mengincar kepemilikan di atas 50%,”Saat ini, kami sudah memiliki dua tambang aspal di Buton. Jika akuisisi bisa terealisasi, tambang itu akan menjadi yang ketiga. Dana akuisisi belum bisa disebutkan, masih dikaji,” kata Suradi di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, proses akuisisi tersebut merupakan strategi perusahaan dalam meningkatkan usaha di bisnis aspal alam. Rencananya, apabila proses akuisisi rampung, perseroan akan melanjutkan kerja sama dengan perusahaan Tiongkok itu untuk membangun pabrik ekstrasi aspal alam.

Seperti diketahui, WIKA pernah mengakuisisi 100% saham PT Sarana Karya, yang memiliki bisnis inti dalam bidang pertambangan di Buton pada Januari 2014. Nilai transaksinya sekitar Rp 50 miliar. Setelah resmi menjadi anak usaha Wika, PT Sarana Karya itu berubah nama menjadi Wika Bitumen.

Setelah aksi akuisisi tersebut, WIKA membangun pabrik ekstrasi aspal alam di atas lahan 30 hektare (ha) yang dimiliki perseroan di Lawale, Pulau Buton. Pabrik ekstrasi tersebut dirancang dengan total kapasitas 50 ribu ton per tahun. Sesuai rencana, pembangunan pabrik itu memakan waktu satu tahun dan diperkirakan akan beroperasi penuh pada tahun ini.

Suradi menambahkan, WIKA selaku induk usaha menargetkan kontribusi pendapatan Wika Bitumen sebesar Rp 212 miliar terhadap total pendapatan perseroan tahun ini. Target kontribusi tersebut meningkat signifikan dari realisasi kontribusi pendapatan Wika Bitumen tahun lalu yang mencapai Rp 61 miliar,”Sedangkan untuk kontribusi laba bersih Wika Bitumen diperkirakan sebesar Rp 48 miliar, atau naik lebih dari dua kali lipat dibanding realisasi tahun lalu sebesar Rp 17 miliar,” ujar dia.

Selain membidik tambang baru aspal alam, WIKA juga tengah menjajaki kerja sama dengan PT Pertamina untuk mengubah hasil residu kilang refinery menjadi bahan baku aspal. Saat ini, proses kerja sama tersebut masih dalam tahap penjajakan. “Kami harapkan seluruh proses feasibility study bisa rampung tahun ini,” kata Suradi.

Rencana akuisisi tambang aspal alam tersebut akan menambah daftar rencana akuisisi WIKA. Pada 2015, WIKA menjajaki akuisisi sejumlah perusahaan infrastruktur. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain bergerak di bidang air minum dan jalan tol. Tahun lalu, Wika pernah membentuk konsorsium bersama Perum Jasa Tirta II, PT Pembangunan Jaya, dan BUMD Jawa Barat untuk proyek sistem penyediaan air minum (SPAM) di Jatiluhur. Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai Rp 1,6 triliun. (bani)

Related posts