Pasar Obligasi Masih Lanjutkan Penurunan

NERACA

Jakarta – Kembali terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menjadi sentiment negatif terhadap pasar obligasi. Oleh karena itu, laju pasar obligasi pada pekan ini berpotensi masih akan melanjutkan penurunan jika sejumlah data ekonomi tidak mampu mendorong minat pelaku pasar,”Laju pasar obligasi pun masih berpotensi melanjutkan pergerakan turun terutama jika data-data ekonomi yang dirilis tidak mampu membangkitkan minat pelaku pasar untuk kembali bertransaksi lebih," kata Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada di Jakarta, Senin (16/3).

Dengan demikian, dia berharap, jika terjadi pelemahan lanjutan maka tidak akan terlalu dalam pelemahannya. Dia memprediksi, laju harga obligasi akan bergerak dengan rentang sekitar 65 hingga 120 basis points (bps). "Untuk itu, tetap cermati perubahan dan antisipasi sentimen yang ada," ujarnya.

Pada pekan ini, pemerintah Indonesia akan kembali melakukan Lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang rupiah akan dilakukan oleh pemerintah pada Selasa (17/3), dengan jumlah indikatif sebesar Rp10 triliun. Adapun seri-seri yang dilelang, yakni Seri SPN12160304 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 4 Maret 2016; Seri FR0069 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 7,875% dan jatuh tempo pada 15 April 2019.

Selain itu, Seri FR0071 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 9,000% dan jatuh tempo pada 15 Maret 2029; Seri FR0067 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,750% dan jatuh tempo pada 15 Februari 2044.

Asal tahu saja, harga surat utang negara (SUN) selama perdagangan pekan ini diprediksi kembali menguat (rebound). Harga rata-rata surat utang tersebut diperkirakan bergerak pada kisaran 105-107%. Hal itu bakal dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain nilai tukar rupiah, neraca perdagangan, serta beberapa data ekonomi global.

Adapun imbal hasil (yield) SUN bertenor 10 tahun diperkirakan turun dengan kisaran pergerakan 7,2-7,7%. Pekan lalu, yield sempat melambung ke level tertinggi sebesar 7,7%, sebelum ditutup turun sebesar 7,5%. Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Wahyu Trenggono pernah bilang, pasar obligasi Indonesia diprediksi menggembirakan pada tahun ini. Walaupun akan sedikit terganggu pada kuartal I-2015, dan mulai menanjak di kuartal II-2015.

Meskipun demikian, dirinya tidak menapik, pasar obligasi di tahun 2015 juga akan mengalami banyak tantangan.Mengingat kondisi perekonomian di Indonesia saat ini sedang sedikit 'bergejolak' usai kenaikan harga BBM,”Government bond kita lihat ada kenaikan inflasi, pemerintah biasanya akan melakukan front loading atau penerbitan obligasi pemerintah lebih awal di awal tahun agar tidak terjadi penumpukan penerbitan obligasi di akhir tahun," jelas dia. (bani)

Related posts