Tekanan Aksi Jual Terus Mengantui IHSG

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 8,805 poin (0,16%) ke level 5.435,271. Sementara Indeks LQ45 ditutup bertambah 3,175 poin (0,34%) ke level 945,520. Saham-saham unggulan jadi target aksi beli, sementara saham lapis dua dilepas investor asing. Lima sektor bisa menguat, lima lagi melemah.

Meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan US$ 740 juta di Februari. Selama 2015, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 1,49 miliar, tidak membuat investor asing ragu untuk melakukan aksi jual. Alhasil, aksi jual investor asing menghambat laju penguatan IHSG.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya mengatakan, adanya komitmen pemerintah untuk meredam gejolak rupiah direspon positif pasar sehingga IHSG BEI masih bertahan di area positif,”Diharapkan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dapat memberikan kepercayaan bagi pelaku pasar dan mengurangi tekanan terhadap gejolak nilai tukar rupiah sehingga akan membuat optimisme pasar terhadap stabilnya perekonomian Indonesia," katanya di Jakarta, Senin (16/3).

Dia menambahkan, pelaku pasar yang optimis terhadap ekonomi domestik akan mendorong emiten terus melakukan ekspansi sehingga pada akhirnya akan menyokong kinerja pemerintah lebih baik. Rencananya, pemerintah akan menerbitkan paket kebijakan ekonomi yang bertujuan memperbaiki kinerja neraca perdagangan dan neraca jasa, yang selama ini dominan menjadi penyumbang defisit neraca transaksi berjalan.

Dia mengharapkan, bank sentral AS (Federal Reserve) tidak memberi sinyal untuk menaikkan suku bunganya. Rencananya, the Fed akan melaksanakan rapat pada 17-18 Maret 2015. Analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, sebagian pelaku pasar mulai membangun posisi beli untuk antisipasi penurunan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI rate) dan optimisme mengenai kinerja laporan keuangan emiten periode kuartal I 2015,”Sentimen yang beredar di dalam negeri cukup positif sehingga IHSG BEI berada dalam area positif pada awal pekan ini (16/3)," katanya.

Berikutnya, indeks BEI Selasa diproyeksikan akan bergerak menguat. Transaksi investor asing hingga sore kemarin, terpantau melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 764,023 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 199.520 kali dengan volume 6,216 miliar lembar saham senilai Rp 5,666 triliun. Sebanyak 123 saham naik, 185 turun, dan 74 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan dengan awal pekan rata-rata menguat. Hanya bursa saham Jepang yang turun tipis akibat aksi jual. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Mayora (MYOR) naik Rp 500 ke Rp 27.700, Astra Agro (AALI) naik Rp 400 ke Rp 26.025, Indofood CBP (ICBP) naik Rp 375 ke Rp 15.000, dan HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 200 ke Rp 66.200. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 600 ke Rp 52.200, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 500 ke Rp 16.800, Asuransi Bina Dana (ABDA) turun Rp 475 ke Rp 6.200, dan Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 375 ke Rp 9.925.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup naik 12,974 poin (0,24%) ke level 5.439,440. Sementara Indeks LQ45 bertambah 4,256 poin (0,45%) ke level 946,601. Investor domestik langsung berburu saham setelah mendapat pengumuman neraca perdagangan yang surplus. Meski demikian, investor asing masih terus melepas saham.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 108.455 kali dengan volume 2,844 miliar lembar saham senilai Rp 2,708 triliun. Sebanyak 106 saham naik, 140 turun, dan 79 saham stagnan. Bursa-bursa regional masih kompak bergerak positif hingga siang. Bursa saham Hong Kong melesat paling tinggi di antara yang lain. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Astra Agro (AALI) naik Rp 325 ke Rp 25.950, Indofood CBP (ICBP) naik Rp 300 ke Rp 14.925, Semen Indonesia (SMFR) naik Rp 200 ke Rp 14.425, dan BRI (BBRI) naik Rp 175 ke Rp 12.925.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.000 ke Rp 65.000, Asuransi Bina Dana (ABDA) turun Rp 475 ke Rp 6.200, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 475 ke Rp 52.325, dan Indo Kordsa (BRAM) turun Rp 400 ke Rp 4.600.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka turun 10,99 poin atau 0,20% menjadi 5.415,46, dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,22 poin (0,30%) ke level 940,27. Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, menjelang pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada pekan ini sebagian pelaku pasar memilih "wait and see" dengan kecenderungan mengambil posisi lepas saham sehingga IHSG BEI melemah,”Sinyal negatif berpotensi terjadi jika hasil rapat bank sentral itu diluar ekspektasi pasar," katanya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 13,62 poin (0,06%) ke 23.936,83, indeks Bursa Nikkei naik 37,70 poin (0,20%) ke 18.291,95, dan Straits Times menguat 19,56 poin (0,59%) ke posisi 3.381,88. (bani)

Related posts