Garuda dan KS Siap Keluar Dari Rugi - Targetkan Efisiensi US$ 521,5 Juta

NERACA

Jakarta – Menyadari performance kinerja keuangannya masih rugi, memaksa dua badan usaha milik negara (BUMN) yakni PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) untuk melakukan efisiensi sebagai jalan keluar dari derita rugi. Tak ayal Garuda dan Kratau Steel menargetkan mampu melakukan efisiensi hingga US$ 521,5 juta pada tahun ini.

Disebutkan, Garuda menargetkan efisiensi sebesar US$ 326 juta, sedangkan Krakatau Steel atau KS senilai US$ 195,5 juta. Efisiensi itu bertujuan untuk menekan kerugian di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Direktur Keuangan Risiko dan Teknologi Informasi Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan, per Januari 2015, perseroan mengidentifikasi bisa melakukan efisiensi biaya di luar biaya bahan bakar avtur sebesar US$ 148 juta. Sejumlah biaya yang dihemat adalah penggunaan generator power unit (GPU) serta cross currency swap.“Dalam rencana, efisiensi sekitar US$ 72 juta akan dihasilkan dari program yang sudah berjalan. Sementara itu, untuk periode Januari-Februari, kami sudah melakukan penghematan US$ 11 juta. Strategi ini dilakukan tanpa mengurangi pelayanan,” kata Askhara di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, untuk biaya avtur, perseroan menargetkan efisiensi biaya hingga sebesar US$ 178 juta. Efisiensi besar-besaran ini dilakukan sejak pergantian dewan direksi Garuda Indonesia pada akhir 2014. Menurut dia, perseroan perlu kerja lebih keras untuk mengejar target efisiensi tersebut.

Sebelumnya, Askhara yang akrab disapa Ari pernah mengatakan, perseroan optimistis mampu menekan rugi bersih hingga meraup laba setelah pajak pada 2015. Hal Ini dengan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 13.000.“Saya bisa bilang, kinerja kami per Januari 2015 merupakan yang terbaik dibandingkan Januari dalam tiga tahun belakangan ini,” tutur dia.

Manajemen Garuda mencatat, pada Januari 2012, perseroan mencatat rugi US$ 9 juta, Januari 2013 rugi sekitar US$ 27 juta, dan Januari 2014 rugi sekitar US$ 74 juta. Dari segi operasional, Garuda Indonesia menargetkan mampu mengangkut total penumpang sekitar 36 juta tahun ini, yang terdiri atas penumpang Garuda dan Citilink. Jumlah tersebut naik dari realisasi total penumpang tahun lalu yang sebanyak 30 juta.

Kenaikan jumlah penumpang akan ditopang oleh penambahan 15 pesawat baru, yang terdiri atas lima pesawat wide body dan 10 unit narrow body. Perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 130 juta tahun ini. Sementara Direktur Utama Krakatau Steel, Irvan Kamal Hakim mengungkapkan, perseroan mencatat mampu menurunkan biaya hingga US$ 195,5 juta sepanjang tahun lalu. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memaksimalkan jumlah tenaga kerja dengan produktivitas.

Sebagai contoh, perseroan mencatat produksi sebanyak 322 ton per orang per tahun, dengan total kapasitas rolling induk 2,45 juta ton dan total karyawan 7.600 orang pada 2007. Perseroan terus mengetatkan rasio tersebut secara bertahap hingga 2017 menjadi 1.088 ton per orang per tahun, dengan total kapasitas rolling induk 4,35 juta ton dan total karyawan 4.000 orang. Saat ini, total kapasitas perseroan mencapai 3,15 juta ton per tahun,”Tahun ini, harapan kami minimal bisa melakukan cost cutting dengan nilai sama seperti tahun lalu. Kami menyadari, efisiensi cukup bagus pada sebuah divisi, tapi berpeluang menimbulkan risiko pada divisi lain,” jelas Irvan.

Tahun ini, lanjut Irvan, perseroan berencana melakukan restrukturisasi anak usahanya. Saat ini, perseroan memiliki sembilan anak usaha dengan kepemilikan saham 100 persen, yaitu PT Krakatau National Resources, PT KHI Pipe Industries, PT Krakatau Wajatama, PT Krakatau Engineering, PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, PT Krakatau Information Technology, PT Krakatau Tirta Industri, PT Krakatau Bandar Samudera, dan PT Krakatau Daya Listrik.

Selain itu, perseroan juga membawahi PT Krakatau Medika dengan kepemilikan 98% dan PT Meratus Jaya Iron Steel dengan kepemilikan saham 66%. (bani)

Related posts