Kadin Mulai Khawatir Tren Depresiasi Rupiah - Dunia Usaha

NERACA

Jakarta - Pelaku usaha di tanah air mulai mengkhawatirkan gejolak ekonomi yang terjadi seperti merosotnya nilai tukar Rupiah. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika (USD) yang mencapai Rp 13.000 per USD dinilai sudah tidak wajar dan mempengaruhi kinerja perusahaan.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto meminta pemerintah dan Bank Indonesia untuk memberikan pernyataan tegas menanggapi fenomena pelemahan Rupiah.

"Cukup mengkhawatirkan bagi para pelaku usaha. Pernyataan pejabat BI dengan level Rp 13.000 masih aman, bukan hanya BI bahkan Menteri Keuangan (Menkeu) malah menyatakan punya keuntungan. Kalau boleh usul dari pelaku usaha biar saja sistem bergerak, tetapi manuver di pasar modal dan pasar uang mestinya tetap dijaga. Apalagi sebagai pelaku usaha kita orientasi kepada investasi yang harus memiliki perhitungan terhadap bisnis," ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

Meski demikian, Yugi tidak menampik pelemahan nilai tukar Rupiah kali ini memberi keuntungan ke beberapa pengusaha, terutama pengusaha yang berorientasi pada ekspor. Yugi juga meyakini pelemahan Rupiah kali ini banyak dipengaruhi faktor eksternal atau ekonomi global.

"Faktor eksternal Amerika Serikat (AS) memang membuat sampai pasar modal AS Wall Street menjadi lesu, terhadap currency asing yang mempengaruhi juga penguatan dolar. Kalau yang lebih banyak lokal konten tidak masalah, kalau yang batubara tidak masalah industri perikanan orientasi ekspor pengolahan di ekspor aman dan lebih menguntungkan," tutupnya.

Ditempat berbeda Wakil Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ari Hendarmin mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS saat ini akan menjadi beban berat industri TPT karena masih mengandalkan bahan baku dari impor.

"Sudah banyak yang merasakan kesulitan dalam mengimpor bahan, apa lagi yang bahannya dari kapas. Bahkan ada yang membeli sisa-sisa bahan tekstil dari luar karena susah membeli yang baru,” ujarnya.

Ari menjelaskan saat ini industri TPT di Jabar masih terus bertahan di tengah kesulitan mengimpor bahan akibat rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS. “Mereka tidak akan langsung menutup usaha setelah benar-benar tidak mampu.”

Menurutnya, salah satu solusi yang dilakukan industri TPT saat ini mengurangi produksi sampai situasi membaik. "Beberapa dari mereka mengurangi intensitas kerja, seperti terkadang tutup sekali dua hari."

Ari bependapat Bank Indonesia harus membuat upaya sedemikian rupa agar kondisi rupiah terhadap dolar AS terus membaik dan jangan menyalahkan kondisi ekonomi global saja. Menurutnya, Bank Indonesia juga harus mengalokasikan dana cadangan yang dapat membantu industri.

Hal senada Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia meminta pemerintah memperkuat pasar domestik bagi industri hulu tekstil dan produk tekstil menyusul pasar ekspor yang kian melesu. Sekretaris Apsyfi Redma Gita Wiraswasta menilai pemerintah saat ini belum terlalu fokus untuk memperkuat pasar domestik, sehingga kondisi ini dimanfaatkan China dan India untuk terus memasok produknya ke Indonesia.

Akibatnya, penyerapan produksi industri hulu TPT dalam negeri sulit diserap pasar domestik karena lebih memilih barang impor yang lebih murah. Kondisi ini pula diperparah pasar ekspor melesu karena mengecilnya pasar akibat tekanan ekonomi di negara-negara maju tujuan ekspor TPT Indonesia.

“Kami kesulitan menjual produk ke pasar domestik karena industri hilir lebih banyak menyerap barang impor yang harganya jauh lebih murah. Di sisi lain, kondisi ekonomi global yang belum membaik berdampak pada ekspor yang melesu,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini industri hulu sudah memproduksi bahan baku seperti kain dengan kandungan unsur lokal, agar harga yang diterima pasar domestik jauh lebih murah. Namun, kenyataannya industri hilir malah tetap mengandalkan impor untuk produksinya.

Related posts