Kerentanan Fundamental Ekonomi

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – BondRI, Pengajar IPMI International Business School

Pemerintah sedang berupaya menjaga Rupiah dengan segala bentuk inisiatif, upaya dan paket kebijakan.Beberapa waktu lalu otoritas moneter sangat gencar menghimbau pasar agar tidak kuatir dengan IDR yang terdepresiasi terhadap USD, denganalasan agar ekspor tergenjot. Namun setelah menilai IDR belum juga terapresiasi hingga awal 2015, Pemerintah mulai menuding faktor eksternal. Belum lama ini otoritas moneter menyatakan sektor riil juga turut menyebabkan pelemahan Rupiah. Jika Rupiah masih juga terus melemah (semoga tidak), kira-kira excuse apa lagi yang bakal dikarang oleh otoritas?

Terms of Trade (ToT) adalah salah satu indikator makroekonomi terkait perdagangan internasional. ToT adalah rasio harga-harga ekspor (IHX) terhadap indeks harga-harga impor (IHM),diformulasikanToT = IHX / IHM. Per Januari 2015 IHX =126dan IHM = 132 (tahun basis 1998 yang dinormalisasi 100), sehingga ToT = 126/132 = 95.45 (umumnya indeks tanpa notasi persen). Artinya per Januari 2015, dari tiap 100 nilai impor yang ditransaksikan, negara kita hanya mampu menyumbang ekspor senilai 95.45. Artinya dalam bahasa dagang di pasar,lapak global nusantara tak cuan alias rugi.

Berdasarkan data publikasi statistik perdagangan, ToT Desember 2014 adalah 97 (unfavorable). Bahkan jika ditarik lebih jauh ke tahun basis (1998), rerata ToT (1998-2015)adalah 115, dimanaToT tertinggi di November 2005 (135),dan terendah di Juli 1999 (89).Namun yang patut disikapi ekstra-serius oleh Pemerintah dan para pelaku pasar (termasuk investor)adalah pola dan tren ToT dalam 3(tiga) tahun terakhir terutama bila diperbandingkan dengan fluktuasi USD/IDR. Per Januari 2012 ToT = 116 dan USD/IDR di 8700-9200. Awal 2013 ToT = 112 dan USD/IDR di 9500-10000. Awal 2014 ToT = 107; USD/IDR di 12000-12500. Awal 2015 ToT = 95.45 dan USD/IDR di 12200-12600.

Ini faktanya: Saat ToT konsisten turun (kebawah 100), Rupiah semakin terpuruk. Tak perlu jenius untuk memahami fakta ini. Yang jadi pertanyaan: “Apa saja kerja BI-Kemenkeu-Kemendagri selama ini ?”Boleh jadi masing-masing pihak mengklaim telah bekerja keras dan berusaha maksimal.Namun faktanya hasil koordinasi dan kerjasama antarlembaga ini telah terbukti inefektif dan kontraproduktif. Jika sudah begini, alasan paling klise a.l. menuding faktor eksternal; mengalihkan perhatian pasar dari isu ini ke ragam isu sensasional lainnya. Ini sama sekali tidak membangun.

Apakah paket kebijakan ekonomi bakal efektif? Jika paket tersebut adalah inisiatif taktis yang diharapkan ampuh dalam jangka pendek, maka Pemerintah sedang berharap keajaiban. Itu memang tak salah, namun siapapun juga bisa melakukannya. Suatu unfavorable pattern sedang konsisten berlangsung selama 3(tiga) tahun belakangan dalam ranah makroekonomi terkait eksternal dan kini Pemerintah berharap paket kebijakan bakal efektif dalam jangka pendek? Panik memang tidak membantu namun Pemerintah jangan normatif.Apapun inisiatifnya, sebaiknya Pemerintah fokuspada upaya perbaikan ToT dan Rupiah secara strategis-pruden, sembari tetap meningkatkan kinerja fundamental perekonomian yang selalu dibangga-banggakan selama ini.

Related posts