Waspadai Spekulan di Pasar Valas - Kupang, NTT

NERACA

Kupang - Ekonom Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, Thomas Ola Langoday, meminta Bank Indonesia (BI) mewaspadai kemungkinan adanya aksi para spekulan di pasar valuta asing (valas) yang memanfatkan kondisi pelemahan nilai tukar rupiah."Kita berharap BI menjaga nilai tukar rupiah agar tetap stabil sehingga tidak dimanfaatkan oleh spekulan di pasar valas karena akan memperburuk kondisi perekonomian," kata Thomas di Kupang, NTT, Sabtu (14/3).

Dekan Fakultas Ekonomi Unwira Kupang itu mangatakan hal itu menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat sore bergerak melemah sebesar 37 poin menjadi Rp13.187 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.150 per dolar AS.Menurut dia, pelemahan mata uang rupiah yang selama ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor luar negeri seperti kondisi perekonomian terkini di sejumlah negara misalnya di Tiongkok dan AS.

Ia memahami penjelasan Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta bahwa depresiasi atau pelemahan rupiah terhadap dolar AS merupakan hal yang tidak perlu dikhawatirkan."Dolar AS sedang menguat terhadap semua mata uang, dan semua ikut tertekan. Kalau Indonesia dibandingkan dengan negara berkembang lain, seperti Brazil yang kerap dipandang sebagai negara berkembang utama dunia, karena telah mengalami depresiasi lebih parah dari Indonesia.

Mata uamg Brazil telah mengalami depresiasi mata uang real terhadap dolar AS mencapai 12 persen pada tahun 2014, sedangkan "year to date" sebesar 17 persen.Gubernur BI merujuk pada Pada tahun 2014 depresiasi rupiah terhadap dolar AS mencapai 1,8 persen, lalu 'year to date' sekitar enam persen. "Jika dibandingkan ya kita tidak terlalu buruk," kata Agus Martowardojo.

Menurut dia, kondisi secara umum memang tengah terjadi penguatan dari dolar dan ada kecenderungan Fed Fund Rate akan dinaikkan pada Juni 2015.Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan di Jakarta terkait kondisi pelemahan mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika masih dalam kondisi yang normal.

"Ini bukan masalah, sebabnya adalah Amerika saat ini ekonominya bagus sekali. Yang kena imbas juga tidak hanya rupiah, seluruh mata uang juga kena," katanya.Menurut dia, kondisi rupiah tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan mata uang asing lainnya dan hanya Swiss Franch yang mengalami penguatan dari dolar AS. [ant]

BERITA TERKAIT

Pemerintah Dorong Perusahaan Starup IPO - Ramaikan Industri Pasar Modal

NERACA Jakarta – Geliat pertumbuhan industri pasar modal belum dioptimalkan betul perusahaan starup di dalam negeri. Pasalnya, bisa dihitung dengan…

Danareksa Rilis Dua Produk Reksadana Syariah - Optimalkan Pasar Modal Syariah

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan industri pasar modal syariah yang belum digarap secara optimal, khususnya industri reksadana syariah, PT Danareksa Investment…

Investasi Reksadana Masih Menjadi Pilihan - Kondisi Pasar Bergejolak

NERACA Jakarta – Sentimen negatif dari terkoreksinya nilai tukar rupiah mempengaruhi pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan imbasnya, nilai…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pertumbuhan Kredit Juni Double Digit

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada Juni 2018 masih di…

Literasi Keuangan Dinilai Masih Rendah

      NERACA   Jakarta - Asosiasi Teknologi Finansial atau Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengatakan literasi keuangan masyarakat di…

BI Sebut Ada Capital Inflow Rp6 Triliun - Bunga Acuan Naik

      NERACA   Jakarta - Modal asing masuk melalui Surat Berharga Negara sebesar Rp6 triliun setelah imbal hasil…