Aset Perbankan Tumbuh 14,45% - Manado, Sulawesi Utara

NERACA

Manado - Aset perbankan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) hingga Januari 2015 tumbuh 14,45% menyusul ekspansi sejumlah bank di daerah tersebut. "Ekspansi jaringan kantor dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) serta penyaluran kredit mendorong aset perbankan Sulut hingga Januari 2015 mencapai Rp33,39 triliun," kata Deputi Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulut, Dudung Setyadi di Manado, Sulut, Sabtu (14/3).

Dudung mengatakan aset perbankan Sulut di Januari 2015 mencapai Rp33,39 triliun atau tumbuh 14,45 persen jika dibandingkan posisi yang sama tahun 2014 yang hanya Rp29,17 triliun," kata Dudung. Dia mengatakan pertumbuhan aset itu sejalan dengan perluasan jumlah kantor cabang perbankan, baik bank umum maupun bank perkreditan rakyat (BPR).

Saat ini, total perbankan yang beroperasi di daerah tersebut mencapai 46 perusahaan, terdiri dari 28 bank umum dan 18 BPR. Dari total angka itu, seluruh kantor cabang tersebar di 337 jaringan, mulai dari kantor pusat hingga unit. Jumlah kantor cabang itu meningkat dari periode yang sama tahun 2014 sebanyak 322 titik.

"Rinciannya, bank umum memiliki 282 cabang per Januari atau bertambah 10 titik dari sebelumnya 272. Adapun BPR memiliki 55 cabang atau bertambah empat titik dari tahun lalu 51," katanya.

Selain itu, katanya, peningkatan aset perbankan itu dipengaruhi pula oleh bertumbuhnya penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Dia mengatakan DPK perbankan di Sulut naik 12,13 perseb dari Rp17,54 triliun menjadi Rp19,66 triliun. Dari total angka DPK itu, tabungan berkontribusi paling besar, yakni Rp9,06 triliun atau 46,11 persen dari total DPK.

Setelah itu, deposito berkontribusi 38 persen dengan raihan Rp7,47 triliun. Adapun giro hanya terhimpun Rp3,12 triliun atau 15,89 dari total raupan DPK.

Meskipun demikian, deposito tumbuh paling besar, yaitu 40 persen, seiring dengan tingginya suku bunga yang diterapkan perbankan. Sejumlah perbankan di Sulut optimistis mampu menghimpun DPK yang telah ditargetkan, meski dihantui kesulitan di era ketatnya likuiditas saat ini. [ant]

Related posts