BI Rate Diprediksi Bertahan - Jelang RDG BI

NERACA

Jakarta - DBS Research Group memperkirakan Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 7,5%, dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Selasa (17/3). Hal ini didorong kebutuhan menjaga inflasi dan defisit neraca transaksi berjalan, serta stabilisasi nilai tukar rupiah.

"Kita perkirakan tidak akan ada perubahan dan dengan kondisi sekarang, kami melihat BI menjaga suku bunga acuan tidak berubah sepanjang 2015," kata Gundy Cahyadi, ekonom Bank asal Singapura, di Jakarta, Jumat (13/3) pekan lalu.

Dia mengatakan dengan kondisi saat ini dan perkiraan ke depan tentang tekanan inflasi, BI dan pemerintah perlu mengambil kebijakan dengan ekstra hati-hati, mengingat inflasi tahunan berpotensi masih berkisar di enam persen.

Adapun, pemerintah mengarahkan inflasi di lima persen, sedangkan BI menargetkan inflasi di empat persen plus minus satu persen. "Kenaikan harga BBM pada November 2014 lalu masih mempengaruhi (meskipun sudah terjadi penurunan), inflasi tahunan kemungkinan masih di enam persen," kata dia.

Gundy menuturkan BI juga belum memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga, karena potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, yang diproyeksikan pada 2015 ini berada di level 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Level defisit di tiga persen perlu dijaga BI, mengingat pemerintah berkomitmen untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur yang akan meningkatkan impor barang modal dan juga berpotensi menaikkan defisit transaksi berjalan.

"Retorika BI selama 20 bulan terakhir telah menyebutkan fokus ke penyehatan neraca transaksi berjalan, dan juga antisipasi kenaikan tiba-tiba suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve," ujar Gundy.

Maka dari itu, Gundy menyebutkan realisasi belanja anggaran pemerintah pada 2015 akan sangat mempengaruhi pencapaian pertumbuhan ekonomi. Menurut dia, BI perlu mempertahankan kebijakan moneter bias ketat untuk memberikan sentimen positif bagi stabilisasi rupiah.

Gundy menuturkan, meskipun depresiasi rupiah terhadap dolar AS terus terjadi, namun melihat "real exchange rate", nilai tukar rupiah masih sangat kompetitif dibanding mata uang asing lainnya. Dia juga menekankan bahwa penurunan suku bunga 25 basis poin menjadi 7,5% pada Februari 2015 lalu bukan sinyal BI akan melakukan pelonggaran kebijakan moneter.

"Melihat stabilitas rupiah tetap menjadi tujuan kebijakan yang penting, pemangkasan suku bunga pada Februari merupakan tindak lanjut dari kenaikan suku bunga pada November 2014, dan bukan permulaan dari pelonggaran kebijakan secara agresif," ujar dia.

Sesuai fundamental

Sebelumnya, Bank Indonesia selaku otoritas moneter, mengklaim bahwa saat ini pihaknya memastikan pengaruh depresiasi nilai rupiah terhadap dolar AS tidak akan besar mendorong inflasi. BI memperkirakan tekanannya "hanya" sebesar 0,07% per pelemahan 1% nilai rupiah selama tahun ini.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengungkapkan, pihaknya akan memastikan stabilitas rupiah bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi saat ini. Dia juga mengaku jika BI selalu hadir di pasar valas guna memastikan fluktuasi rupiah tetap dapat dikendalikan. Artinya, intervensi mata uang tidak tertutup kemungkinan BI akan melakukannya.

"Ini (depresiasi rupiah) tidak menimbulkan panik. Selama dua hingga tiga pekan lalu, jika ada tekanan berlebih (terhadap rupiah) kami tidak segan-segan untuk melakukan intervensi di pasar valas," kata dia, baru-baru ini. Dengan upaya tersebut, Perry optimis inflasi pada tahun ini dapat sesuai dengan yang diproyeksikan sebesar empat persen plus minus satu persen. Bahkan, lanjut dia, bisa di bawah empat persen pada 2015.

Menurut Perry, melemahnya nilai tukar rupiah disebabkan oleh sejumlah faktor, salah satunya, penguatan dolar AS yang juga membuat nilai tukar mata uang di negara kawasan lainnya juga mengalami koreksi.

"Penguatan dolar AS karena ekonomi Amerika yang terus menguat dan adanya rencana kenaikan Fed Fund Rate (suku bunga The Fed)," ujarnya. Faktor lain yang menyebabkan melemahnya nilai tukar, lanjut dia, yakni penggelontoran injeksi likuiditas moneter dari European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan (BoJ).

Selain itu, faktor terakhir yang membuat rupiah terdepresiasi, yaitu dari faktor internal di mana neraca transaksi berjalan masih mengalami defisit. "Tahun 2013 defisit transaksi berjalan 3,3% (dari PDB), terus menjadi 3% pada tahun lalu, dan tahun ini bisa 2,8%. Tapi kami melihat level defisit 3% masih positif bagi Indonesia karena kualitasnya lebih baik, dari konsumsi (consumption) ke belanja modal (capital expenditure)," ujar Perry. [ardi]

Related posts