Sritex Diuntungkan Dari Pelemahan Rupiah - Pendapatan Dollar Melesat

NERACA

Jakarta – Perusahaan tekstil terintegrasi, PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex (SRIL) mencatatkan performance kinerja keuangan yang cukup positif sepanjang tahun 2014 lalu. Bahkan, kinerja perseroan dalam mata uang dollar Amerika Serikat juga ikut terkerek naik.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Direktur Keuangan Sritex, Allan Moran Severino mengemukakan, pendapatan Sritex dalam mata uang dollar Amerika Serikat adalah sekitar 70% dari total pendapatan,”Tidak hanya pendapatan yang tumbuh positif, liabilitas perseroan yang juga mayoritas dalam mata uang Amerika Serikat juga meningkat dari kuartal pertama sampai kuartal ke‐empat tahun 2014,”katanya.

Selain itu, asset perseroan sebagian besar dalam mata uang Amerika Serikat juga ikut terkerek naik,”Sebagai eksportir, Sritex mendapat keuntungan dari pelemahan rupiah yang terjadi pada akhir akhir ini walaupun pencatatan sudah dalam mata uang Amerika Serikat,”ungkapnya.

Kemudian, lanjut Allan, dengan adanya dukungan pemerintah terkait insentif pajak untuk eksportir yang minimal ekspornya 30% akan sangat mendukung kinerja SRIL. Asal tahu saja, saat ini eskpor SRIL telah menjangkau lebih dari 100 negara termasuk ekspor pakaian militer ke 30 negara didunia.

Untuk tahun 2015, SRIL kembali sebagai pemenang tender untuk pakaian militer dari Jerman dan Malaysia dan juga beberapa negara lainnya. Menurut Allan, jika insentif tersebut diberlakukan maka SRIL akan mendapatkan kenaikan dalam laba bersih. Melihat kinerja SRIL yang terus bertumbuh secara berkelanjutan, maka Pefindo dalam research reportnya menargetkan harga SRIL Rp 280 per lembar saham.

Belum lama ini, Sritex menjajaki pasar Tiongkok, terutama untuk produk pakaian militer dari sebelumnya benang dan kain yang telah lama di ekspor ke negara tersebut,”Kami sedang jajaki kemungkinan agar produk pakaian militer Sritex dapat menjadi pakaian militer bagi tentara Tiongkok. Kita lakukan secara bilateral," kata Presiden PT Sritex, Iwan S Lukminto.

Iwan S Lukminto mengungkapkan, saat ini kualitas pakaian militer yang sudah diproduksi perseroan telah teruji di berbagai negara, “Jadi, secara kualitas produk kami sudah teruji. Karenanya, kami ingin memasok untuk militer Tiongkok yang memiliki pasar lebih besar. Dan meski ekonominya melambat, namun untuk 'consumer goods' permintaan tetap ada, seperti benang yang kami ekspor ke Tiongkok selama ini,”tutur Iwan.

Total volume ekspor seragam militer dari Sritex sepanjang 2014 mencapai lebih dari delapan juta potong atau separuh dari total produksi. Pemasukan pajak negara dari PT Sritex 2014 mencapai Rp250 miliar, di mana separuh dari pajak tersebut berasal dari penghasilan penjualan produk militer,”PT Sritex akan memperluas pasar dengan merambah beberapa negara lagi serta meningkatkan volume ekspor untuk negara-negara yang sudah menjadi pelanggannya. Kami akan tetap memelihara pasar tradisional, meningkatkan volume dan kualitas, sambil menjajaki pasar baru," kata Iwan. (bani)

Related posts