Pengawasan Perbankan Paska Rendahnya Harga Komoditas - Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Pengawasan perbankan terhadap harga-harga komoditas sudah dimulai semenjak akhir perang dunia kedua dalam rangka internalisasi risiko sistemik dalam sistem perbankan. Bahkan, IMF memberikan catatan pada pertemuan G 20 yang baru lalu yaitu: “Upside risks arise from the demand boost due to lower oil prices, but uncertainty about their future path, which depends on the drivers of the price decline, has also increased. Downside risks linked to financial market sentiment—given prospects for U.S. monetary normalization—are compounded by potential external and balance sheet vulnerabilities in oil exporters. Stagnation and low inflation remain a concern in the euro area and Japan and geopolitical risks continue to be high”.

Perbankan di Eropa khususnya dipelopori oleh bank sentral Norwegia dan Inggris sementara di Amerika Serikat oleh Bank sentral Amerika Serikat mencoba melakukan proses internalisasi. Tujuan bank sentral Norwegia melakukan pengawasan terhadap pasar komoditas dalam rangka menjamin stabilitas pasar komoditas itu sendiri yang menyangkut banyak penjual dan pembeli termasuk penerimaan negara. Intinya pengawasan dilakukan terhadap operasi pasar dan rezim regulator yang dilakukan oleh otoritas pasar komoditas.

Dalam praktiknya pengawasan oleh bank sentral Norwegia dilakukan dengan menggunakan kerjasama dengan asosiasi pasar melalui aturan dimana asosiasi menjelaskan secara teratur kepada bank sentral tentang kondisi pasar komoditas termasuk perilaku pasarnya. Turunan (derivatif) pengawasan otoritas perbankan Norwegia dilakukan dengan memberikan asosiasi kekuatan untuk memperkuat pengawasan terhadap dirinya sendiri dengan cara memberikan keanggotaan.

Dengan cara seperti itu maka terjadi dua pengawasan secara bersamaan yang saling menciptakan sinergi. Saatnya pengelolaan risiko juga dilakukan dengan menghidupkan instrumen lindung nilai. Risiko dalam perdagangan Komoditas, selain dari gagal janji, disebabkan oleh fluktuasi harga. Harga sangat ditentukan oleh permintaan dan penawaran di pasar Komoditas. Permintaan ditentukan oleh pertambahan penduduk, pertambahan penggunaan, penggunaan baru dan karena substitusi. Penawaran beribah karena pertambahan kapasitas produksi (luas lahan yang ditanam atau pabrik baru yang dibangun), musim, cuaca baik atau buruk, larangan atau insentif pemerintah, bencana alam maupun perang atau perdamaian. Jadi banyak sekali faktor yang tidak bisa diramalkan.

Hal itu mendorong timbulnya kebutuhan akan lindung nilai dalam perekonomian Norwegia yang berbasis komoditas. Kebutuhan akan lindung nilai dipenuhi dengan pembuatan kontrak di luar maupun di dalam Bursa Norwegia. Mula-mula kebutuhan akan lindung nilai ini hanya dirasakan dalam perdagangan Komoditas pertanian, tetapi makin lama kebutuhan itu dirasakan untuk semua macam Komoditas, termasuk Komoditas keuangan, cuaca, ekonomi, perbankan dan lain sebagainya. Untuk semua itu dibuatkan kontrak. Beberapa dari kontrak itu diperdagangkan di bursa yang terlanjur dinamakan Bursa Komoditas, meski sebenarnya dinamakan Bursa Kontrak Norwegia.

Karakteristik dari Komoditas yaitu harga adalah ditentukan oleh penawaran dan permintaan pasar bukannya ditentukan oleh penyalur ataupun penjual dan harga tersebut adalah berdasarkan perhitungan harga masing-masing pelaku Komoditas, contohnya adalah (namun tidak terbatas pada): mineral dan produk pertanian seperti bijih besi, minyak, ethanol, gula, kopi, aluminium, beras, gandum, emas, berlian atau perak, tetapi juga ada yang disebut produk "commoditized" (tidak lagi dibedakan berdasarkan merek) seperti komputer.

Sumber daya alam dan tingkat perekonomian suatu negara seperti di Norwegia memiliki kaitan yang erat, dimana kekayaan sumber daya alam secara teoritis akan menunjang pertumbuhan ekonomi yang pesat. Akan tetapi, pada kenyataannya hal tersebut justru sangat bertentangan karena negara-negara di dunia yang kaya akan sumber daya alamnya seringkali merupakan negara dengan tingkat ekonomi yang rendah.

Hal ini disebabkan negara yang cenderung memiliki sumber pendapatan besar dari hasil bumi memiliki kestabilan ekonomi sosial yang lebih rendah daripada negara-negara yang bergerak di sektor industri dan jasa. Di samping itu, negara yang kaya akan sumber daya alam juga cenderung tidak memiliki teknologi yang memadai dalam mengolahnya. Korupsi, perang saudara, lemahnya pemerintahan dan demokrasi juga menjadi faktor penghambat dari perkembangan perekonomian negara-negara terebut.

Permasalahan lainnya saat ini harga komoditas secara relatif berada pada titik nadirnya sehingga risiko sistemik menjadi meninggi yang memerlukan tingkat pengawasan yang juga tinggi khususnya bagi sektor perbankan. Dengan demikian pengawasan perbankan dalam konteks komoditas di Norwegia menjadi pengawasan ekonomi yang mengacu pada berbagai saluran yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi tentang sistem keuangan dan ekonomi untuk mendukung pengambilan keputusan regulator perbankan.

Pemantauan ini mencakup baik ekonomi global dan domestik. Hal ini juga mencakup spektrum yang luas dari sumber dan metode, termasuk statistik, data pasar keuangan, fungsi pembayaran dan infrastruktur likuiditas, komentar eksternal, dan intelijen yang dikumpulkan dari kontak di sektor keuangan dan bisnis dalam perekonomian Norwegia. Mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan berbagai data ini membutuhkan berbagai keterampilan dan keahlian dalam bank sentral (regulator perbankan), termasuk makroekonomi (lihat D. Gray and S. Malone (2008) Macrofinancial Risk Analysis.), model keuangan dan hubungan pasar. Krisis keuangan telah menyebabkan beberapa perubahan dalam cara regulator perbankan melakukan pengawasan ekonomi dan menyajikan tantangan baru dan kesempatan bagi bank sentral (atau regulator perbankan).

Contoh negara yang telah berhasil mengatasi hal tersebut dan menjadikan kekayaan alam sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi dengan optimisasi pengawasan perbankan adalah Norwegia (baik saat harga komoditas rendah maupun tinggi). Pada gilirannya, saat harga komoditas rendah maupun tinggi, Norwegia berhasil mengelola risiko sistemik dengan baik dengan melakukan internalisasi risiko tersebut melalui pengawasan yang melekat.***

Related posts