Produsen Tahu Tempe Takut Lonjakan Harga Kedelai - Dampak Pelemahan Rupiah

NERACA

Jakarta - Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mengaku khawatir dan was-was melihat kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Pasalnya, untuk memproduksi tahu dan tempe dibutuhkan bahan baku kedelai, sementara itu, pasokan kedelai lebih banyak dari impor. Sehingga dikhawatirkan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang telah menyentuh angka Rp13.000 per dolarnya membuat harga kedelai ikut naik.

Ketua Umum Gakoptindo Aip Syarifuddin mengatakan pengaruhnya pelemahan rupiah terhadap industri tahu dan tempe karena sebagian besar pasokan kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe masih berasal dari impor. "Dari kebutuhan kedelai kita, kira-kira 80 persennya masih dari impor," ujarnya di Jakarta, Jumat (13/3).

Dia menjelaskan, secara total, kebutuhan kedelai di dalam negeri mencapai 2,5 juta ton per tahun. Sedangkan produksi kedelai lokal rata-rata hanya sekitar 500 ribu ton per tahun. "Jadi kebutuhan kita 2,5 juta ton per tahun, impor kita 2 juta ton karena prodksi lokal hanya 500 ribuan ton. Dari jumlah itu, kebutuhan untuk pengrajin tempe tahu sebesar 1,8 juta ton per tahun," lanjut dia.

Dengan nilai tukar rupiah yang terus melemah seperti saat ini, Aip menyatakan produsen tahu tempe mulai khawatir harga bahan baku kedelai ini akan naik sehingga memberatkan para produsen. "Dampaknya jelas, dengan dolar diatas Rp 13 ribu, kita khawatir betul karena harga akan naik. Ini sudai mulai terasa. Harga kedelai di pasaran kan sudah berkisar Rp 9 ribu-Rp 11 ribu per kg," tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengkhawatirkan penurunan rupiah belakangan ini. Apabila nilai tukar tembus dan lebih dari Rp 13.000 per dollar AS, maka dunia usaha, kata dia, akan terkena dampaknya. "Pengusaha yang impor akan berat, yang punya pinjaman dollar juga. Bagaimana kalau rupiah melemah terus," kata Suryo.

Menurut dia, pemerintah harus segera melakukan berbagai kebijakan yang tepat. Sebab, apabila situasi nilai tukar terus melemah, maka iklim usaha pasti terganggu. "Dalam situsi ini, (pemerintah) jaga iklim usaha, jangan sampai terganggu," kata dia.

Bagi dia, nilai tukar yang stabil akan jauh lebih baik bagi perkembangan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, dia meminta agar pemerintah segera bergerak agar dunia usaha tidak terganggu.

Selain itu, Suryo juga memperhatikan bagaimana pemerintah mengambil berbagai kebijakan dalam dunia usaha. Salah satu yang menjadi fokus perhatian dia adalah kebijakan pelarangan penjualan minuman keras.

Tak Perlu Khawatir

Namun disisi lain, Presiden Joko Widodo mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, yang telah menembus Rp 13 ribu per dolar, tidak perlu terlalu dikhawatirkan. "Karena pemerintah telah membuat kebijakan untuk menjaga perekonomian negara ini," ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan pemerintah telah mengalihkan subsidi bahan bakar minyak yang akan memberikan ruang fiskal yang baik bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, terutama di sektor pajak. Selain itu, pembangunan infrastruktur menjadi fokus pemerintah saat ini. Dana sebesar Rp 290 triliun yang difokuskan pada pembangunan infrastruktur sangat besar.

"Ini sejarah yang paling besar, dan pasar akan melihat ini," ujar Jokowi. Selain itu, menurut Jokowi, saat ini tidak ada masalah dengan fundamental. "Fundamental kita cukup baik."

Menghadapi kondisi rupiah saat ini, pemerintah akan memberikan intensif pajak dengan kebijakan tax allowance yang konkret yang akan disampaikan Menteri Keuangan. Sementara itu, pemerintah akan terus melihat jumlah kenaikan nilai kurs rupiah dan pergerakan keuangan global. "Kita perlu waspada, tapi kalau BI tenang, ya, pemerintah juga akan tenang," kata Jokowi.

Menurut Jokowi, harus ada kebijakan-kebijakan untuk menstimulasi ekonomi sektor riil, sehingga sektor ini dapat terjaga dengan kondisi nilai rupiah saat ini.

Selain itu, Presiden Jokowi meminta masyarakat tidak membandingkan kondisi saat ini dengan krisis ekonomi dan perbankan pada 1998. Sebab, pada 1998 nilai tukar rupiah dari Rp 2.000 meloncat langsung ke Rp 15 ribu per dolar Amerika Serikat, sehingga dampaknya sangat terlihat. "Sedangkan kondisi saat ini, semua negara juga mengalaminya, seperti Malaysia, Thailand, dan Rusia," pungkasnya.

Related posts