KAEF Mengklaim Belum Terpukul Telak - Dampak Anjloknya Rupiah

NERACA

Jakarta – Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, memberikan dampat terhadap performance kinerja emiten yang masih mengandalkan bahan baku impor dan salah satunya perusahaan farmasi. Dimana sebagian besar bahan bakunya masih impor, sehingga memberikan efek terhadap harga jual.

PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) mengakui, terkoreksinya nilai tukar rupiah cukup membebani perseroan karena 90% bahan baku diperoleh dari impor,” Sebagai perusahaan farmasi, perseroan masih mengandalkan bahan baku impor, dengan transaksi menggunakan mata uang dollar,”kata Direktur Riset dan Pengembangan Bisnis KAEF, M Wahyuli Syafari di Jakarta, kemarin.

Meski demikian, dia mengatakan, perseroan masih belum merasakan dampak yang signifikan dari menguatnya dollar AS. Pasalnya, bahan baku produksi tersebut telah dibeli sejak tahun lalu,"Naiknya sampai Rp13.000 kan baru dalam dua minggu ini, sedangkan kita sudah beli bahan baku sejak November 2014, di mana dollar AS masih Rp12.500," paparnya.

Wahyuli menuturkan, dalam pembelian bahan baku farmasi memang telah direncanakan sejak jauh hari sebelum diproduksi. Harga yang telah sepakat dibeli saat November tahun lalu, tiba pada Januari dan Februari tahun ini,”Tapi kita akan memperhitungkan pembelian bahan baku untuk enam bulan ke depan. Tahun ini, kita menggunakan nilai tukar sesuai ketetapan pemerintah dalam APBN, yaitu Rp12.500/US$," ujar dia

Emiten farmasi plat merah tersebut juga memastikan tidak ada pabrik yang ditunda pembangunannya pada tahun ini. KAEF tetap akan membangun pabrik farmasi di Banjaran untuk memindahkan pabrik yang telah ada sebelumnya di Bandung."Kami belum berencana menunda proyek karena dolar AS, pabrik garam juga tetap dibangun karena masih menggunakan nilai tukar sebelumnya," pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, Rusdi Rosman pernah bilang, jika nilai tukar rupiah terus melemah, maka perseroan akan menaikkan harga jual produk di kuartal pertama tahun ini. Kebijakan ini terutama akan diterapkan terhadap produk-prodyuk yang marginnya sudah sangat tipis atau bahkan merugi,”Mungkin sekitar 40 produk yang akan kami naikkan harganya,”ujarnya.

Kata Rusdi, besaran kenaikan harga ini berada di kisaran antara 5% hingga 10%. Menurutnya, depresiasi rupiah bukan satu-satunya faktor yang membuat Kimia Farma mengambil kebijakan tersebut. Namun tarif dasar listrik dan upah buruh juga menjadi salah satu pertimbangan perseroan.

Bagi Indofarma, pelemahan rupiah beberapa hari terakhir bukan lagi menjadi khawatiran berlebihan bagi perseroan. Corporate Secretary PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) Yasser Arafat mengungkapkan, pihaknya telah melakukan antisipasi pelemahan rupiah dengan melakukan kontrak dalam rupiah.

Menurut dia, pelemahan mata uang domestik menekan industri yang bahan bakunya sangat tergantung pada impor, seperti halnya industri farmasi yang sebagian besar bahan bakunya masih diimpor,”Rupiah lagi melemah kebanyakan rugikan perusahaan yang bahan bakunya impor. Bagaimana keadaan ini buat INAF? Sudah ada kontrak pembelian bahan baku dengan pihak tertentu dengan rupiah,”tuturnya.

Kendati sudah mengantisipasi melakukan kontrak dengan rupiah, perusahaan farmasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut juga melalukan pengadaan barang baku dengan suplier di dalam negeri”Dengan rupiah kontraknya. Jadi masih bisa jalan dengan suplier di sini, bukan asing. Mereka buka juga di sini, sehingga tidak impor langsung," jelas Yasser. (bani)

Related posts