Investasi Properti Sebagai Pilihan Bijak - Indonesian Property Outlook 2015

NERACA

Tangerang – Paramount Land bekerjasama dengan Indonesia Property Watch menggelar acara roadshow seminar ‘Indonesian Property Outlook 2015’ di 10 kota besar di Indonesia. Seminar ini dibawakan oleh Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch, dan Andreas Nawawi, Managing Director Paramount Land, yang memaparkan perkembangan situasi ekonomi dan industri properti di Indonesia tahun 2015 dan bagaimana memilih properti yang tepat sesuai pilihan dan kebutuhan konsumen. 10 kota besar yang dikunjungi adalah Padang, Pekanbaru, Jakarta, Tangerang, Bandung, Bali, Surabaya, Medan, Makassar dan Balikpapan.

Menurut Ali, berdasarkan catatan para pengamat properti, tahun 2015 akan menjadi tonggak kebangkitan properti Indonesia. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut antara lain inflasi, BI rate, dan bunga KPR. Kebijakan pemerintah yang menurunkan BI rate dari 7.75% ke level 7.5% beberapa waktu lalu disambut baik oleh pasar. Hal ini meningkatkan daya beli masyarakat terutama konsumen yang akan membeli rumah. Selain itu adanya cadangan dana pemerintah dari pengalihan subsidi BBM yang akan dialihkan untuk menggenjot infrastruktur memberikan keuntungan bagi pembangunan properti.

“industri properti menengah atas mulai jenuh dan bergeser ke segmen menengah yang sebagian besar adalah end user (pengguna),” kata Ali. Oleh karena itu, saat ini pengembang pun telah membidik pasar tersebut dengan melakukan strategi resizing dengan menjual tipe-tipe yang lebih kecil dengan harga berkisar antara Rp 500 juta -Rp 1 miliar yang akan menjadi primadona pasar properti.

Di sisi lain, menurut Ali, ada beberapa lokasi yang menunjukkan pertumbuhan dan menyimpan potensi pasar yang tinggi, diantaranya kawasan Serpong-Tangerang. Dengan melihat analisis di atas dapat disimpulkan bahwa optimistis sektor properti akan berjalan positif pada tahun ini, khususnya untuk rumah tapak (residensial). Namun pengembang harus jeli memanfaatkan pasar dan memberikan strategi yang tepat dengan menawarkan produk yang berbeda dan sesuai keinginan konsumen.

“Menghadapi persaingan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015, para pengembang harus selalu siap menghadapi berbagai kondisi yang ada diantaranya masuknya investor asing untuk menanamkan modalnya karena peluang potensi pasar yang luar biasa besar, pembangunan infrastruktur baru hingga peluang kemitraan lokal dan asing,” jelas Ali.

Pada kesempatan yang sama, Andreas Nawawi, Managing Director Paramount Land menyampaikan pada 2014 dan awal 2015 ini, semua sektor usaha mengalami koreksi termasuk industri properti. Namun, perlambatan siklus pasar ini bukan berarti bisnis dan peluang investasi tidak berkembang. “Nilai properti akan terus meningkat karena properti merupakan obyek investasi sepanjang masa,” ujarnya.

Seperti diketahui segmen kelas menengah Indonesia tahun 2015 diperkirakan akan tumbuh menjadi sekitar 90 juta orang, dengan tingkat konsumsi dan daya beli yang tinggi. Kondisi ini juga akan berimplikasi pada peningkatan pemenuhan kebutuhan akan hunian yang bertambah banyak, seiring terjadinya pertumbuhan populasi.

Melihat perkembangan permintaan dan kebutuhan konsumen yang beragam Paramount Land di awal tahun 2015 ini, menawarkan konsep baru ‘custom homes’ di Malibu Village. Yaitu konsumen dapat memilih rumah sesuai selera dan kebutuhan. Malibu Village merupakan klaster di kota Gading Serpong yang mengakomodasi keinginan konsumen untuk memberikan sentuhan personal pada desain rumahnya sendiri. Terdapat 18 pilihan desain fasad, 3 pilihan finishing fasad, 3 pilihan warna dan 8 pilihan kelengkapan rumah. Untuk fasad ada 9 gaya rumah, yaitu gaya classic, American, Scandinavian, Japan, Mediteranian, modern, victorian, colonial dan Art Deco. Masing-masing gaya memiliki dua desain fasad pilihan sehingga membuat konsumen lebih leluasa menentukan rumah yang diidamkannya.

Related posts