PNM Dampingi UMKM yang Berpotensi Ekspor - Surabaya, Jawa Timur

NERACA

Surabaya – Program pendampingan Klasterisasi Industri Usaha Mikro Kecil (UMK) merupakan salah satu bentuk kegiatan pemberdayaan kepada UMK yang dilaksanakan oleh PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM disamping bentuk kegiatan pemberdayaan kepada UMK lainnya yang di PNM merupakan padanan dari aktifitas pembiayaan yang diberikan kepada UMK, yaitu Program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU).

Program PKU merupakan reaktualisasi dari maksud dan tujuan pendirian PNM, yaitu melaksanakan pemberdayan kepada Koperasi dan UMKM melalui aktifitas pembiayaan dan jasa manajemen (capacity building/dukungan non pembiayaan). Salah satu kegiatan Program PKU PNM yang berupa program pendampingan Klasterisasi Industri UMK yang sedang berjalan saat ini adalah program Klasterisasi Industri UMK Kelompok Pengrajin Perak dan Suasa di Desa Batangkrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Program ini dimulai pada bulan Oktober tahun 2013, dan saat ini sudah mencapai pada tahap akhir untuk diserahterimakan kepada Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Klasterisasi Industri UMK ini dilaksanakan di Desa Batangkrajan, karena Desa ini mempunyai potensi pengrajin perak yang pernah sukses di era tahun 90, namun kemudian kondisi usaha para pengrajin dan produksinya merosot tajam semenjak terjadinya tragedi Bom Bali. Desa ini sangat terpengaruh dengan adanya peristiwa Bom Bali karena sebagian besar produksi perak & suasa dari desa Batangkrajan ini di jual ke Bali.

Executive Vice President PT PNM (Persero), Arief Mulyadi mengatakan program pendampingan Klaster Industri UMK ini mengingat para pengrajin yang sebagian juga adalah nasabah Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) PNM memiliki keinginan untuk mengembalikan kejayaan usahanya sebagaimana sebelum peristiwa Bom Bali. Beberapa pengusaha telah merintis kembali usaha perak dan suasa tersebut sampai akhirnya dengan kemajuan teknologi sekarang, pesanan pun sudah datang dari pasar luar negeri. Melalui program pendampingan yang juga melibatkan beberapa lembaga dan ahli yang terkait dengan industri ini, termasuk Perguruan Tinggi, PNM membantu kelompok pengrajin ini untuk mengembangkan usahanya secara terintegrasi dan diharapkan dapat berkesinambungan termasuk aspek pemasarannya.. Peserta dari program ini adalah pengusaha dan pengrajin perak dan suasa asal Desa Batangkrajan sebanyak 20 orang.

“Dengan program pendampingan yang terintegrasi, minimal kejayaan Desa Batangkrajan sebagai sentra perak dan suasa dapat dikembalikan., bahkan diharapkan menjadi lebih besar. Klaster Industri UMK Pengrajin Perak & Suasa ini juga akan dikaitkan dengan Kerjasama yang telah PNM lakukan dengan beberapa Lembaga baik Dalam maupun Luar Negeri dalam rangka mendukung pemasaran dan pengembangan produk para UMK nasabah dan binaan PNM melalui Program PKU. Kerjasama yang telah ada antara lain dengan Small Business Corporation (SBC) sebuah Lembaga Pemerintah Korea Selatan, dan juga dengan Japan External Trade Organization (JETRO) sebuah Lembaga Pemerintah Japan yang MoU nya ditandatangani oleh PNM dan JETRO pada Desember 2013 dihadapan beberapa Kepala Daerah (Gubernur dan Walikota) Japan, serta Mantan Perdana Menteri Japan,” jelas Arief, di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (12/3).

Arief menjelaskan kegiatan serah terima Klasterisasi Industri UMK kepada PemKab Mojokerto kali ini juga disaksikan oleh M. Suryo Alam, selaku Anggota Komisi VI DPR RI yang juga didampingi oleh Pimpinan DPRD II Kabupaten Mojokerto. Selain guna memberikan motivasi tambahan bagi para pengrajin peserta Program, kehadiran para legislator ini juga sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban PNM sebagai BUMN yang menjadi mitra Komisi VI DPR RI yang juga memiliki Tupoksi pada sektor UKM & Koperasi, BUMN, Perdagangan dan Perindustrian. Secara strategis pula, ke depannya Klaster Industri ini diharapkan oleh PNM akan menjadi salah satu “rumah model” produk unggulan Mojokerto, tujuan wisata, dan tentunya menjadi motor penggerak percepatan pertumbuhan ekonomi lokal.

Sementara, Pemimpin PNM Cabang Surabaya, Puji Riyanto, menjelaskan pelatihan dan pendampingan yang diadakan lebih dari satu tahun ini telah melalui serangkaian kegiatan yang mampu meningkatkan pengetahuan, dan ketrampilan para pengrajin mulai dari motivasi, manajerial, ergonomis usaha dan pengembangan produk. Program seperti ini bertujuan membuka akses jaringan dalam membangun bisnis UMK. Bantuan berupa penunjuk arah, gapura, etalase, neon box, kartu nama, dan lain-lain diberikan sebagai bentuk dukungan PT PNM (Persero) untuk mempromosikan klaster perak dan suasa ini kepada masyarakat.

“Dengan total 6 jenis pelatihan selama klasterisasi berlangsung diharapkan dari sisi pemasaran dan jaringan usaha UMK nasabah ULaMM PNM ini mampu mengoptimalkan pasar lokal sekaligus ekspansi ke pasar regional dan global. Sentra industri perak dan suasa ini perlahan-lahan bangkit dengan semangat untuk meraih kembali era keemasan perak dan suasa sebelum Bom Bbali meluluh lantakkan pariwisata kawasan tersebut,” ungkapnya.

Untuk menjamin kesesuaian teknis kegiatan ini, maka PNM menggandeng ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya dan juga memfasilitasi beberapa tenaga pendamping ahli termasuk yang berasal dari ITS. Diharapkan dengan adanya sentuhan dari PNM dengan pelatihan-pelatihan yang diberikan akan membawa harapan baru terhadap klaster ini sehingga impian untuk mengembalikan klasteri perak dan suasa ini berjaya semakin dapat diwujudkan.

Dalam kesempatan ini, Puji, juga menyampaikan kinerja positif pembiayaan PNM Cabang Surabaya hingga akhir Februari 2015. Tercatat hingga periode tersebut cabang Surabaya telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp146,6 miliar. Pencapaian ini meningkat 16,6% dari periode yang sama tahun 2014 sebesar Rp125,7 miliar. Sementara untuk total nasabah yang menerima manfaat hingga Februari 2015 sebanyak 2.723 nasabah naik hingga 22% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 2.232 nasabah. [mohar]

Related posts