BI Rate Diproyeksikan Tetap

NERACA

Jakarta - Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Ryan Kiryanto, menyarankan agar Bank Indonesia menahan suku bunga acuannya di level 7,5% pada bulan ini. Hal ini karena suku bunga di tingkat ini dinilai paling menarik dan sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Menurut dia, saat ini, pasar sedang bergejolak menunggu kapan akhirnya Bank Sentral AS The Fed akan menaikkan suku bunganya. Meskipun, menurutnya, keputusan ini baru akan terjadi tahun depan. “Tapi BI rate sudah bagus di 7,5% karena sedangprice interhadap gejolak kemungkinan kenaikanFed Fund Rate,” katanya di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, tingkat suku bunga acuan BI saat ini sudah sesuai dengan prediksi tingkat inflasi selama tahun ini di level 3,5%-5%. ” Rencana kenaikan tarif listrik dan LPG tidak akan berdampak banyak terhadap inflasi. Sedangkan tahun ini juga tidak ada lagi kekhawatiran adanya kenaikan BBM,” tambahnya.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang terus melemah mencapai Rp13 ribu, sambung Ryan, juga tidak terjadi semata-mata karena penurunan BI rate bulan Februari lalu.

“Rupiah itu beda. Karena Rupiah adalah salah satu mata uang yangfragile. Jadi pergerakannya sangat tergantung juga dengan pergerakan mata uang lain di seluruh dunia,” sambung dia.

Kalaupun BI bulan Februari menahan suku bunga acuan dan tidak menurunkannya menjadi 7,5%, menurut Ryan, nilai tukar Rupiah masih akan tetap melemah pada bulan ini.

Sementara dalam beberapa hari ke depan, bank sentral akan memutuskan posisi suku bunga acuan seusai melaksanakan Rapat Dewan Gubernur bulanan.

Sedangkan menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, BI tak perlu lagi melonggarkan kebijakan moneter, menyusul nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah dan sempat menyentuh Rp 13.200 per dolar, pada pembukaan pasar perdagangan Rabu (11/3) kemarin.

"Sekarang kan kita sudah termasuk yang longgar (aturan moneter), suku bunga sudah diturunkan, dan macam-macam," kata JK.

Berulang kali, JK mengatakan pelemahan rupiah terjadi karena pengaruh dari luar negeri. Seperti, menguatnya perekonomian Amerika sehingga berdampak pada menguatnya dolar.

"Dalam negeri juga tentu ada efeknya terhadap ekspor menurun, nilainya atau harga turun. Tetapi juga lebih banyak dari luar karena menguatnya dolar, karena euro juga melemah," ujar JK.

Menurut JK, jika akhirnya kebijakan moneter dilonggarkan lagi maka akan menimbulkan inflasi. Oleh karena itu, JK menegaskan Bank Central tidak perlu mengikuti kebijakan moneter yang dilakukan Eropa atau beberapa negara di Asia, yaitu menurunkan suka bunga. "Ya itukan Eropa. Kita tidak usah ikut, beda mereka malah krisis, itu hanya untuk Yunani dan Jerman," ujarnya. [agus]

BERITA TERKAIT

BEI Pastikan Tidak Pengaruh Ke Pasar Saham - Lagi, BI Rate Naik

NERACA Jakarta – Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi menegaskan, kembali dinaikkannya acua suku bunga bank sebesar…

Tetap Sehat kala Begadang Nonton Piala Dunia 2018

Laga Piala Dunia 2018 semakin sengit dan sayang untuk dilewatkan. Pertandingan sepak bola itu kebanyakan berlangsung di malam hari saat…

Mahfud: KPK Harus Tetap Jadi Lembaga Khusus

Mahfud: KPK Harus Tetap Jadi Lembaga Khusus NERACA Jakarta - Pakar hukum tata negara Mahfud MD menyatakan bahwa Komisi Pemberantasan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank Belum Penuhi Rasio Kredit UMKM

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat sekitar 20 persen dari total bank umum domestik belum…

LPDB Sederhanakan Persyaratan Pengajuan Pinjaman Dana Bergulir

  NERACA   Tangerang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) menyederhanakan kriteria dan…

Pembiayaan BTPN Syariah Tumbuh 19,1%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) hingga akhir Juni 2018 membukukan pembiayaan…