Bisnis Krakatau Steel Tidak Lagi “Sekuat” Baja - Masih Merugi Hingga Rp 1,8 Triliun

NERACA

Jakarta – Belum bergairahnya harga baja di pasar dunia, menjadi beban bagi performance kinerja keuangan PT Kratau Steel (Persero) Tbk (KRAS) yang mencatatkan lonjakan rugi tahun berjalan 2014 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 971% menjadi US$ 149,81 juta atau setara Rp1,87 triliun (kurs Rp12.500/US$) dibanding tahun sebelumnya senilai US$ 13,99 juta. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (12/3).

Menurut Direktur Utama KRAS Irvan K Hakim, meningkatnya rugi perseroan tidak bisa lepas dari sentiment eksternal. Dimana belum pulihnya perekonomian dunia dan terutama melambatnya ekonomi China serta tertekannya ekonomi di Rusia membuat pasar baja dunia masih tetap mengalami kelebihan pasokan,”Apalagi sepanjang tahun lalu produksi baja dunia masih meningkat 1,1% dibanding tahun sebelumnya menjadi 1.637 miliar metrik ton,”ujarnya.

Sementara itu, produksi baja China juga masih naik 0,9% menjadi 823 juta ton dan Korea Selatan meningkat 7,5% menjadi 71 juta ton. Di Indonesia, sekalipun permintaan baja domestik cenderung meningkat, namun harga baja masih tetap stagnan, yang disebabkan perlambatan perekonomian nasional,”Pangsa pasar baja canai panas perusahaan juga naik menjadi 44% dari posisi tahun lalu sebesar 41%. Sedangkan kapasitas produksi meningkat, seperti pada lini produksi hot strip mill yang naik dari 76% menjadi 78%," paparnya.

Sebagai catatan, sepanjang tahun lalu harga baja mendatar di Asia Tenggara turun tajam dari Januari 2014 sebesar US$ 540-570/ton (cost and freight/cfr) menjadi US$ 460-470/ton cfr pada akhir tahun. Bahkan produsen baja China berani banting harga jual bajanya demi mendapatkan pesanan dari pembeli dan cash flow perusahaan, yaitu dengan memasang harga jual baja hanya sekitar US$ 405/ton di luar pajak pada Desember 2014.

Asal tahu saja, melesatnya kerugian Krakatau Steel mengerek pada perolehan rugi bersih per saham dasar yang ikut melonjak menjadi US$ 0,0095 dari sebelumnya US$ 0,0009. Perseroan menjelaskan, meningkatnya rugi tersebut akibat anjloknya pendapatan bersih sebesar 10,10% menjadi US$ 1,87 miliar atau setara Rp23,37 triliun dibanding tahun sebelumnya US$ 2,08 miliar.

Kendati demikian, beban pokok pendapatan menurun sedikit menjadi US$ 1,83 miliar dari US$ 1,99 miliar. Akibatnya, laba bruto melorot menjadi US$ 41,14 juta dari US$ 95,62 juta. Hal itu ditambah dengan membengkaknya rugi operasi perusahaan menjadi US$ 70,44 juta dari tahun sebelumnya hanya US$ 1,07 juta. Rugi ini disumbang beban umum dan administrasi yang bertambah menjadi US$ 117,62 juta dari US$ 95,22 juta dan beban lain-lain menjadi US$ 9,14 juta dari US$ 5,10 juta.

Selain itu, bagian rugi dari entitas asosiasi juga meningkat menjadi US$ 70,44 juta dari US$ 12,29 juta dan beban keuangan naik dari US$ 45,65 juta menjadi US$ 51,47 juta. Sementara pendapatan keuangan menyusut menjadi US$ 5,01 juta dari US$ 6,90 juta dan laba bersih selisih kurs bersih menurun drastis dari US$ 37,36 juta pada 2013 menjadi US$ 4,49 juta pada tahun lalu.

Adapun total aset perusahaan pada tahun lalu tercatat sebesar US$ 2,60 miliar, dengan total utang US$ 1,71 miliar. Jumlah itu naik dibanding tahun sebelumnya, di mana aset perusahaan sebesar US$ 2,38 miliar dengan total utang US$ 1,33 miliar. (bani)

Related posts