Komoditas Air Tawar Unggulan Banjarnegara - Kawasan Minapolitan

NERACA

Banjarnegara – Pengembangan sentra perikanan budidaya melalui pengembangan kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya telah berhasil meningkatkan perekonomian daerah dengan mengandalkan usaha budidaya perikanan. Salah satu kawasan minapolitan yang menonjol dan berhasil meraih penghargaan Juara I Adibakti Mina Bahari 2015 Kategori Pengembangan Kawasan Minapolitan Perikanan Budidaya adalah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

“Banjarnegara saat ini telah menjadi salah satu sentra perikanan budidaya melalui keberhasilan pengembangan kawasan minapolitan dan perikanan budidaya telah menjadi bagian dari pembangunan perekonomian di Kab. Banjarnegara. Komoditas budidaya air tawar yang menjadi unggulan di Banjarnegara seperti Gurame, Nila, Lele, Mas dan Patin telah berkontribusi meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan menyerap tenaga kerja. Bahkan Benih Gurame dari Banjarnegara sudah digunakan di daerah lain untuk dibudidayakan seperti Lampung, Jawa Barat dan juga Jawa Timur,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat melakukan Kunjungan Kerja di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, dikutip dari keterangan resmi, Kamis (12/3).

Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa produksi perikanan budidaya di Kabupaten Banjarnegara selama kurun waktu lima tahun terakhir cukup menggembirakan. “Terjadi peningkatan produksi yang cukup signifikan yang mencapai hampir tiga kali lipat, yaitu dari 5.393,25 ton pada tahun 2010 menjadi 14.846,56 ton pada 2014 (data sementara). Ini juga sebagai bukti bahwa dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam mengembangkan perikanan budidaya di wilayahnya. Melalui pengembangan kawasan MInapolitan di Kab. Banjarnegara, perikanan budidaya dapat diandalkan untuk mengembangkan perekonomian daerah,” kata Slamet

Slamet juga menambahkan bahwa sesuai arahan Menteri KP, perikanan budidaya jangan hanya sebagai pendukung ketahanan pangan dan gizi tetapi juga sebagai sumber pendapatan atau bisnis.”Pembudidaya harus di dorong untuk meningkatkan levelnya menjadi pengusaha paling tidak pengusaha UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Dengan menjadi pengusaha, maka pembudidaya dapat mengeluarkan biaya tenaga kerja yang selama ini tidak di hitung, mengembalikan biaya modal yang di keluarkan bahkan bisa melakukan investasi untuk mengembangkan usahanya,” tambah Slamet

Untuk meningkatkan margin usaha budidaya perikanan, khususnya untuk pembudidaya komoditas air tawar seperti di Banjarnegara, salah satunya dengan menekan biaya produksi dari pakan. “Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI) merupakan kebijakan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendorong produksi pakan ikan secara mandiri dengan memanfaatkan bahan baku pakan local.Melalui GERPARI juga di buka peluang kerja sebagai produsen pakan, dimana di dalamnya terdapat segmen usaha yang dapat menyerap tenaga kerja seperti penyediaan bahan baku pakan, proses produksi pakan, penyimpanan bahan baku dan pakan dan juga pemasaran. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mendorong pembentukan Kelompok Pakan Mandiri yang terpisah dari Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) dengan tugas sebagai produsen pakan di sentra-sentra perikanan budidaya,” ungkap Slamet.

Slamet menambahkan, bahwa saat ini perikanan budidaya harus menuju ke arah yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan. “Kita harus bisa mandiri tidak tergantung dari orang lain, dalam menghasilkan produk perikanan budidaya yang berkualitas sehingga mampu bersaing di dalam negeri maupun pasar ekspor dan juga tetap memperhatikan lingkungan atau ramah lingkungan,” jelas Slamet.

Kemandirian akan terus didorong untuk terus mendukung ketahanan pangan menuju kedaulatan pangan. “Sesuai arahan Ibu Susi, bahwa kemandirian ini akan mendorong peningkatan kesejahteraan pembudidaya. Karena kita di tuntut untuk swasembada baik dari segi benih, induk maupun produk perikanan budidaya. Yang pada akhirnya akan mendorong perekonomian daerah dan juga secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan pembudidaya”, terang Slamet.

Produk perikanan budidaya juga di harapkan mampu bersaing dengan produk asing karena adanya pasar regional ASEAN. “Persaingan di pasar regional ini harus kita jadikan sebagai pendorong dalam meningkatkan kualitas produk kita. Dengan meningkatkan efisiensi budidaya dan penerapan cara budidaya ikan yang baik (CBIB), kita harus mampu memenangkan persaingan ini dengan segala kelebihan yang kita miliki,” kata Slamet.

Related posts