APBN Belum Besarkan Dana Operasional Intelijen

NERACA

Jakarta—Kalangan DPR menilai dana operasional dalam anggaran Badan Intelijen Negara (BIN) masih termasuk minim. Sehingga hal ini menjadi kendala pengembangan SDM-nya. “Kita akui, minimnya anggaran yang dialokasikan untuk dana operasional badan intelijen jadi kendala,” kata anggota komisi I DPR Effendy Choirie dalam diskusi yang bertajuk "Segera Tuntaskan RUU Intelijen: di ruang wartawan DPR RI, Jakarta, Kamis,15/9

Meski terkendala anggaran, kata Gus Choi-panggilan akrabnya, secara umum SDM intelijen Indonesia masih termasuk yang terhebat di Asia ketimbang intelijen negara-negara lainnya. Hanya saja masih terkendala oleh beberapa hal misalnya kemampuan berbahasa asing.

Oleh karena itu, kata dia, perbaikan proses rekrutmen di sekolah intelijen negara perlu dilakukan untuk pembentukan intelijen sipil yang berkualitas. "Dari sekolah-sekolah, rekrut murid-murid terbaik yang menguasai Bahasa Inggris, Mandarin, Prancis, dan Arab. Saya rasa ini akan menjadikan kader-kader yang luar biasa," paparnya

Lebih lanjut Gus Choi meminta Badan Intelijen Negara (BIN) mengembangkan intelijen dari kalangan sipil untuk memperbaiki sumber daya manusia institusi tersebut.

"Terus terang, intelijen kita masih banyak didominasi produk-produk militer dan polisi," ungkapnya

Senada dengan Gus Choi, Gamari Sutrisno, anggota DPR dari fraksi PKS, juga menyatakan pentingnya peningkatan SDM pada badan intelijen negara melalui peningkatan anggaran. "Sebenarnya APBN yang diajukan oleh BIN merefleksikan kuantitas dan kualitas dari badan intelijen kita yang masih jauh dari standar yang dibutuhkan," kata Gamari.

Sementara itu pengamat intelijen, Wawan Purwanto menegaskan bahwa setiap negera memerlukan intelijen. Namun, tambahnya, untuk negara yang menjunjung tinggi hukum maka fungsi intelijen harus diatur. "Sebenarnya negara ini mau kuat atau tidak yang bikin kita juga. Mau hancur juga kita yang bikin, termasuk kalau kita sepakat tak usah ada badan intelijen. Yaa tidak apa-apa, tetapi nanti remuk bareng-bareng, jangan disalahkan," kata Wawan.

Menurut Wawan, intelijen diperlukan untuk mengendus berbagai ancaman yang mungkin muncul. Karena itu, tambahnya, intelijen tetap diperlukan. Dalam pandangan lainnya, Wawan menjelaskan bahwa untuk adanya sebuah intelijen yang kuat juga dibutuhkan SDM dan dana yang memadai. "RUU Intelijen ini harus kita desain bukan hanya untuk satu rezim tetapi untuk selamanya, sampai kapanpun NKRI ini ada," kata Wawan. **cahyo

BERITA TERKAIT

Sasa Inti Kembali Meraih Penghargaan Marketing Award

    NERACA   Jakarta - PT Sasa Inti kembali meraih apresiasi dari masyarakat yakni lewat produk Sasa Bumbu Komplit,…

Meski Ada Tekanan, Sri Mulyani Optimis Target Penerimaan Pajak Tercapai

    NERACAJakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku optimistis target penerimaan pajak tahun 2019 akan tercapai meski menghadapi…

DPR Tolak Kenaikan Iuran BPJS Kelas Tiga

    NERACA   Jakarta - Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf mengatakan para legislator sepakat menolak kenaikan iuran…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Chakra Jawara Targetkan Jual 60 Unit Truk - Pameran Indonesia Energy & Engineering Show 2019

      NERACA   Jakarta – Ajang Pameran Indonesia’s Energy & Engineering Show 2019 dijadikan sebagai langkah bagi distributor…

Aplikasi Masduit Memudahkan Transaksi Emas

    NERACA   Jakarta - Platform jual beli emas secara online bernama Masduit resmi diluncurkan sekaligus menindaklanjuti kerjasama strategis…

GM Tractors Targetkan Penjualan Alat Berat Naik 20%

    NERACA   Jakarta - PT. Gaya Makmur Tractors (GM Tractors), distributor alat berat untuk sejumlah sektor industroi menargetkan…