Satukan Empiris dan Wahyu

Oleh: Agus Yuliawan

Pemerhati Ekonomi Syariah

Metodolog empiris dalam menguji sebuah kebenaran acap kali digunakan oleh para peneliti dalam setiap penelitiannya. Melalui metodologi empiris tersebut, para peneliti selalu menggunakan epistemologi sudut pandangnya dengan pendekatan akal sebagai pijakannya. Sehingga out put ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam sebuah penelitian selalu mengacu kepada nilai-nilai materialisme yang bersifat duniawi dan berorientasi pada tangible value (nilai terwujud).

Anehnya konsepsi metodologi empiris tersebut banyak dikembangkan diberbagai universitas-universitas terkemuka sehingga seringkali ilmu pengetahuan yang diperoleh hanya untuk mencapai kebahagiaan saja dan sesuai apa yang disampaikan oleh Aristoteles. Ia menyatakan bahwa tujuan akhir manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Dengan mencapai kebahagiaan, manusia tidak memerlukan apa-apa lagi. Menurutnya, sangatlah tidak masuk akal jika sudah mencapai kebahagiaan, manusia masih mencari hal lain dalam hidupnya. Menurutnya, pengetahuan saja tidak cukup, orang harus melakukan tindakan.Tindakan yang dilakukan bukanlah tindakan sembarang, tetapi tindakan yang mencerminkan kemampuan manusia. Inilah yang disebut dengan rasio.

Dengan rasio inilah banyak orang mengukur segala sesuatu dalam segala aspek kehidupannya dengan pendekatan tangible value. Sering kali penilan rasio ketika tidak mampu mencapai sebuah target yang diinginkan menjadikan beban psikologi dan persoalan dalam sistem kinerja yang dibangun. Dengan demikian pendekatan metodologi empiris tak bisa menjadikan satu satunya kerangka berfikir untuk mewujudkan sebuah tatanan kehidupan. Maka perlu sebuah metodologi penyeimbang dalam berfikir—sehingga ilmu pengetahuan dibangun bukan sekedar temporer saja.

Dalam konteks Islam, kebahagiaan ini tidak saja bernilai duniawi, tetapi juga harus bernilai akhirati, dengan membawa segala catatan kebajikan dan keimanan. Tinjauan secara umum epistemologi Islam mengatakan, bahwa semua ilmu itu berasal dari Allah, dan ilmu empiris yang bersumber dari akal pikiran manusia tidaklah kekal kebenarannya, karenanya harus selalu dilakukan knowledge induced dari ilmu Allah. Dalam bentuk apakah ilmu Allah yang harus di induksikan pada ilmu empiris? Maka substansi dan esensi dari ilmu Allah, atau esensi kemaslahatan (wellbeing) harus mampu diterjemahkan secara sederhana sebagai moralitas, etika dan nilai nilai sosial.

Terkait dengan hal tersebut¸ Prof. Dr. Masudul AlamChoudhury, mengatakan, konsep teologi Islam sebagaitauhidi principles, adalah bahwa Tuhan itu satu, yang menyatukan keragaman ciptaan-Nya, dan merupakan awal, sebagaimana Plato mengatakan sebagai prima kausa, dan akhir. Manusia dan alam semesta diciptakan oleh Tuhan YME sebagai awal, dan semua berakhir ketika kembali kepada-Nya. Hubungan antara awal dan akhir ini, Choudhury menyebutnya, sebagai Tauhidi String Relation(TSR). Dengan TSR semua pendekatan metodologi harus menggunakan interactive, integrative, and evolutionary process (IIE Process).Pada dasarnya, petunjuk yang ada dalam Al-Qur’an bersifat umum, karena Tuhan menciptakan sistem yang lebih besar. Untuk menerapkannya, diperlukan pengetahuan yang bersifat lebih teknis dan pengembangan yang lebih rinci melalui pembahasan atau diskursus. Dengan diskursus dan penerapan yang berulang-ulang atau bersifatinteractive, maka akan diperoleh suatu konsep dan teknik penerapan yang lebih tinggi dan lebih baik, sehingga merupakan evolusi dari keadaan yang dicapai sebelumnya.

Dengan metodologi TSR maka nilai-nilai wellbeing sebagai kerangka dasar ilmu tak akan terpisahkan bahkan saling melengkapi. Hal ini dikarenakan semua variabel dalam sistem, mengikuti pola circular causation (hubungan multi-reciprocal, saling mempengaruhi melingkar, dinamis terhadap waktu). Sehingga dengan IIE process, kebenaran ilmu empiris akan menjadi kaffah bila selalu dilakukan knowledge induced. Apabila konsep wellbeing sebagai penerjemahan dalam metodologi TSR dilakukan dalam segala aspek kehidupan, maka yang terjadi adalah makna ibadah manusia semakin jelas, yakni hubungan manusia dan Allah Yang Maha Kuasa. Melalui kerangka metodologi TSR ilmu dan agama tak terpisahkan bahkan saling melengkapi.

Related posts