Rupiah Melemah, Industri Keramik Terkena Imbas - Biaya Produksi Melembung

NERACA

Jakarta - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar juga berimbas di industri keramik dalam negeri. Pasalnya, industri keramik membeli gas masih menggunakan kurs dolar. Pelaku usaha keramik Mulyadi Toha mengatakan bahwa industri keramik masih menggunakan kurs dolar dalam membeli bahan bakar yaitu gas. Sehingga dengan pelemahan rupiah ini maka akan berimbas terhadap biaya produksi yang dikeluarkan.

"Cost untuk bahan bakar itu cukup tinggi. Terlebih, kita membeli gas masih menggunakan mata uang dolar. Saya tidak mengerti kenapa masih menggunakan dolar meskipun dalam undang-undang dilarang melakukan transaksi dengan mata uang selain rupiah," ungkap Mulyadi saat ditemui dalam konferensi pers Keramika, di Jakarta, Kamis (12/3).

Pihaknya mengaku sejauh ini belum mengambil keputusan untuk menaikkan harga jual keramik. Namun jika pelemahan rupiah ini terus berlanjut maka mau tidak mau pihaknya akan menyesuaikan. "Pengusaha ingin komponen cost diakomodir harga jual dgn margin yang diinginkan. Dengan cost yang naik maka profile cost nya tinggi. Namun bukan berarti kita akan menyesuaikan harga begitu saja, nanti kita lihat dulu perkembangan nilai tukar," ucapnya.

Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Erlin Tanoyo mengatakan industri keramik mendapatkan harga gas sama seperti industri lainnya di Indonesia. Ia menyatakan industri keramik membeli gas dari Perusahaan Gas Negara (PGN) dengan 3 harga yaitu untuk di daerah Jawa Bagian Timur mendapatkan harga sebesar US$9,3 per mmbtu. Untuk kawasan Jawa Bagian Barat dipatok harga gas mencapai US$9,3 per mmbtu dan satu kawasan lainnya dikenakan harga US$8,6 per mmbtu.

Dibandingkan dengan negara di ASEAN lainnya, Elisa menyebutkan harga gas di Indonesia terbilang mahal, terlebih Indonesia adalah salah satu negara penghasil gas terbesar di dunia. "Di Singapura dan Malaysia, harga gas disana hanya US$5 per mmbtu. Di Thailand itu harga gas nya turun jadi US$9 per mmbtu yang sebelumnya US$13 per mmbtu. Kalau mau bersaing di ASEAN, harga gas di Indonesia itu terbilang tinggi," jelasnya.

Ia mengatakan 40% ongkos produksi keramik diperuntukan untuk membayar gas. Disisi lain, harga gas di Indonesia juga terbilang tinggi sehingga ia mengaharapkan agar pemerintah bisa menstabilkan harga gas karena hanya di Indonesia harga gas berbanding terbalik dengan harga BBM yang turun. “Pelemahan rupiah berdampak pada pembayaran energi gas, kan 40% dari ongkos produksi industri keramik lari ke gas. hal ini bisa berdampak pada tidak kompetitifnya produk keramik kita dari sisi harga, pembayaran gas kan menggunakan Dolar AS,” jelasnya.

Erlin juga mengatakan bahwa saat ini industri keramik sedang kelebihan stok, hal ini disebabkan oleh permintaan yang berkurang. ASAKI juga meminta Kementerian Perindustrian untuk melakukan kebijakan Negative Investment yang berarti menyetop investasi di industri keramik. Hal ini dikarenakan saat ini stok keramik sudah melebihi kebutuhan pasar sehingga masuknya investasi baru tidak diperlukan.

“Negative Investment baru berupa wacana, ini dikarenakan belum ada undang-undang mengenai hal tersebut. tetapi Pak Ketua (Elisa Sinaga) ASAKI telah menyampaikan keinginan tersebut kepada Menperin (Saleh Husin),” lanjutnya.

Bikin Pameran

Menurut ASAKI, Indonesia menempati peringkat lima besar dalam hal produksi keramik bersama dengan Tiongkok, India, Italia, dan Spanyol. Untuk membuat industri keramik Indonesia semakin berjaya di ranah internasional, Asaki gelar pameran yang dihadiri ratusan pelaku usaha dari industri keramik dan pendukungnya dalam acara bertajuk "Keramika 2015". Acara ini diselenggarakan pada 19-22 Maret 2015, di Jakarta Convention Center.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk mempromosikan industri keramik Indonesia di pasar lokal dan mancangera. Dalam pameran ini, publik dapat langsung melihat perkembangan industri keramik mulai dari mutu, teknologi, maupun desain. “Keramika berperan penting dalam menunjang pertumbuhan industri keramik Indonesia. Keramika merupakan panggung utama bagi seluruh produsen keramik di Indonesia untuk mempromosikan produk terbaik mereka,” ujar tambah Erlin.

Memasuki tahun ke-4 penyelenggarannya, Keramika didukung oleh pelaku usaha maupun pasar. Hal ini terlihat dari besarnya minat para pelaku usaha untuk menampilkan produk terbaiknya. Sebagai jendela industri, produsen keramik nasional dan luar negeri dapat melihat potensi dan peluang bertukar informasi mengenai perkembangan industri keramik.

Ketua Pelaksana Keramika 2015, Mulyadi Toha menuturkan, Keramika 2015 diharapkan berdampak positif bagi industri keramik Indonesia di luar negeri. "Acara ini juga diikuti oleh para industri pendukung dari luar negeri, yaitu Italia, Tiongkok, dan Spanyol. Banyak tenaga ahli terbaik dari luar negeri sudah menjadwalkan kedatangan ke Keramika," kata Mulyadi.

Keramika 2015 dilengkapi beberapa acara pendukung antara lain Keramika Forum, presentasi produk, dan lomba desain keramik. Keramika Forum khususnya, adalah program diskusi yang membahas mengenai solusi teknologi hemat energi, perkembangan desain, proses distribusi dan logistik dari industri keramik. Tahun lalu, acara ini dikunjungi lebih dari 26.000 orang, yang terdiri dari para pelaku industri dan masyarakat profesional, seperti arsitek, teknisi, pengembang, dan pemilik rumah. Tahun ini, penyelenggara menargetkan 30.000 kunjungan Keramika.

Related posts