UGM Akan Dirikan Sekolah Kebangsaan - Bangkitkan Nasionalisme Pelajar

NERACA

Masa depan bangsa berada dipundak generasi muda yang khususnya adalah pelajar sebagai “agent of change”. Sayangnya, seiring dengan perkembangan zaman, degradasi moral acap kali membayangi perubahan nilai bagi pelajar Indonesia.

Ketidakpuasaan akan birokrasi dikalangan elite yang masih mementingakan kepentingan golongan ataupun kelompok daripada kepentingan bersama, menyebabkan tingkat kesadaran akan cinta tanah air dan memperjuangkan peningkatan kualitas hidup bangsa Indonesia semakin memudar.

Ya, semangat nasionalisme wajib melekat dalam diri setiap individu sebagai pribadi maupun sebagian bagian dari bangsa dan negara, yang diimplementasikan dalam bentuk kesadaran dan perilaku yang cinta tanah air, kerja keras untuk membangun, membina dan memelihara kehidupan yang harmonis dalam rangka memupuk dan memelihara persatuan dan kesatuan, serta rela berkorban harta, benda bahkan raga dan jiwa dalam membela bangsa dan negara.

Melihat pentingnya rasa nasionalisme pelajar guna membantu meningkatkan kebangkitan Indonesia, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta segera membentuk sekolah kebangsaan yang bertujuan menumbuhkan nasionalisme serta semangat bela negara masyarakat.

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM) Suratman di Yogyakarta, Selasa, mengatakan sekolah itu digagas agar bangsa Indonesia tidak lagi "terjajah" secara politik, hukum, ekonomi dan agama.

"Akan kami buat agar nilai-nilai karakter kebangsaan dapat diketahui oleh masyarakat," kata dia.

Suratman mengakui hingga saat ini masih terjadi degradasi nasionalisme, sehingga untuk menangkalnya memerlukan metode pendidikan yang dapat dilaksanakan secara langsung di lingkungan masyarakat.

"Bisa di pasar, mal, disampaikan melalui kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa, serta dosen di kampung masing-masing," ujar dia

Materi yang akan disampaikan dalam sekolah kebangsaan, sambung Suratman, dalam aspek ekonomi misalnya ekonomi kreatif dengan sasaran kemandirian masyarakat secara ekonomi.Nantinya, materi sekolah kebangsaan ini akan diampu oleh seluruh civitas akademika UGM mulai mahasiawa, dosen, serta anggota Keluarga Besar Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama).

"Siapa pun semua komponen keluarga UGM dapat mengajarkan, yang penting metodenya kami samakan," ujar dia.

Menurut dia, saat ini kurikulum pengajarannya masih digodok oleh tim perumus sekolah kebangsaan.

"Paket kurikulumnya masih kami desain karena idenya baru saja muncul. Kami targetkan Juli 2015 menjelang 17 Agustus sudah bisa dilakukan," kata dia.

Related posts