Rupiah Merosot Tajam, Target Pelaku Industri Meleset

NERACA

Awak tahun 2015 banyak pelaku industri menarget pendapatan lebih dari 10%, namun dengan keadaan saat ini dimana rupiah masih terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Dengan kondisi seperti ini, para pelaku industri kembali gigit jari, karena diperkirakan target yang dari awal diprediksi akan meleset.

“Sudah dipastikan para pelaku usaha tidak akan mencapai target pendapatan, dengan kondisi tukar rupiah yang terus anjlok,” kata kepala BKPM, Franky Sibarani, di Jakarta.

Franky Sibarani mengatakan, pelemahan rupiah membawa dampak negatif antara lain pertama, investor bisa menunda agenda ekspansi karena biayanya mahal. Kedua, industri berbahan baku impor terpukul akibat biaya impor kian tinggi.

Misalnya, penerbangan dan farmasi. Pesawat terbang membeli avtur dengan dolar AS, sementara farmasi masih mengimpor bahan baku. “Mereka akan terganggu,” kata Franky

Ketiga, secara umum, daya beli masyarakat bisa turun. Maklum, ketergantungan Indonesia terhadap produk impor masih tinggi. Keempat, kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Chris Kanter, utang valas dari luar negeri milik korporasi makin berisiko terutama yang tanpa hedging atau lindung nilai. BI dan pemerintah memang harus bahu membahu dan memberikan perhatian serius pada rupiah. Sebab, efeknya riil ke mana-mana.

Pertama kali lebih dari satu dekade terakhir, kurs rupiah melemah memasuki zona Rp 13.000 per dollar AS. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) per tanggal 5 Maret 2015, rupiah berakhir di Rp 13.022 per dolar AS, melemah 0,22% dari awal Maret (2/3). Efek dari luar dituding sebagai biang keladi pelemahan rupiah. Posisi rupiah sekarang adalah terendah sejak era krisis moneter tahun 1998.

Sedangkan Gubernur BI Agus Martowardojo masih melihat kondisi seperti ini bukan situasi darurat kendati rupiah sudah terjerembab 4,4% sejak awal tahun ini. Bahkan orang nomor satu di bank sentral ini masih menilai lumrah jika rupiah melemah hingga Rp 13.750 per dolar atau 10% dari asumsi kurs APBNP 2015 yang sebesar Rp 12.500 per dollar AS.

Sebelumnya, Agus mengatakan akan menjaga fluktuasi rupiah di kisaran 3%-5% dari patokan kurs APBNP 2015. Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswasra menepis anggapan BI lepas tangan dan mendiamkan rupiah. “BI berada di pasar,” kata Mirza.

Dia berharap, masyarakat tak panik dan tidak berspekulasi. Lagi pula, penyebab kejatuhan rupiah kali ini lebih banyak dari faktor luar dan terjadi nyaris merata di seluruh dunia. BI juga berharap pemerintah melarang dollar AS dalam transaksi di dalam negeri serta menekan defisit transaksi berjalan.

“Selama defisit transaksi berjalan tidak berkurang, rupiah sulit menguat,” kata Mirza. Sejauh ini, Menko Ekonomi Sofjan Djalil hanya berjanji akan menekan defisit transaksi berjalan di bawah 3%. Pelemahan rupiah memang selalu membawa manfaat dan mudharat.

Salah satu manfaatnya, daya saing produk ekspor Indonesia meningkat. Devisa pun bisa bertambah. Bagi pelaku usaha tekstil yang biasa beraktivitas ekspor-impor, nilai tukar dolar terhadap rupiah yang ideal adalah Rp 12.500-13.000. Angka ini dianggap paling pas karena di sisi ekspor bisa menguntungkan, juga bisa menekan impor produk di sektor manufaktur.

Saat ini sudah tak mungkin lagi rupiah menguat kembali ke titik Rp 10.000 per dolar AS. Menguatnya rupiah justru bisa menjadi bumerang bagi pelaku industri, terutama terhadap risiko serbuan produk jadi impor. “Kalau kurs sampai Rp 10.000 per dolar AS, justru nggak menguntungkan. Barang impor membludak, barang impor jadi yang murah. Orang harus paham situasi saat ini,” kata wakil ketua umum kadin bidang tenaga kerja, Benny Soetrisno,, di Jakarta, Jumat (6/3).

Benny mengatakan, bila rupiah menguat, misalnya ke titik Rp 10.000 per dolar AS, maka industri lokal justru terancam. Barang-barang konsumtif seperti gula, beras, kedelai, ponsel, pakaian dan lain-lain memang akan makin murah, namun industri di dalam negeri yang akan tertekan.

Related posts