Kebijakan Ekonomi Harus Agresif namun Hati-hati

NERACA

Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan arah kebijakan ekonomi saat ini adalah bagaimana pembangunan bangsa terus berjalan. Dengan begitu roda ekonomi harus agresif namun tetap hati-hati. “Untuk bisa mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi memang harus agresif, tapi tentu dengan langkah hati-hati,” katanya di Jakarta, Rabu, (11/3).

Menurut Jusuf Kalla, asumsi-asumsi yang tercatat dalam APBN-P 2015 seperti pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7% harus lah tercapai. Langkah pemerintah bersama Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,25% dinilai bukan suatu langkah kehati-hatian pemerintah.

"Ini (BI Rate turun) adalah langkah agresif dan berhati-hati. Itu jelas,” tegas Jusuf Kalla. Dia juga berharap, saat ini arah kebijakan ekonomi bertujuan agar pembangunan nasional tetap berjalan dengan baik. "Ekonomi berjalan karena investasi masuk. Perbaikan infrastruktur pun dilakukan. Kemudian, bagaimana penerimaan negara menjadi lebih baik maka pajak harus lebih banyak (ditarik)," tuturnya.

Pada kesempatan terpisah, ekonom Tony Prasetyantono, menilai target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 5,7% tahun ini sulit tercapai. Pasalnya, pemerintah sangat tinggi menggenjot pajak. "Prediksi perekonomian tahun ini hanya tumbuh 5,5%," ujarnya.

Selain itu, Tony juga melihat meski adanya kisruh politik seperti konflik antara Komisi PemberantasanKorupsi dan Polri tidak mengganggu investasi asing ke dalam negeri. Dia menjamin permasalahan tersebut tidak akan berpengaruh besar pada proyeksi perekonomian Indonesia.

"Ada perseteruan KPK dan Polri itu hanya sebuah snapshoot. Itu seperti salah satu potret dari sebuah pertandingan tapi bukan gambaran dari keseluruhan pertandingan. Sehingga asing tetap memandang pemerintahan Indonesia secara positif," tuturnya.

Menurut dia, faktor pendorong menariknya Indonesia sebagai tempat investasi di mata asing adalah dengan adanya pemerintahan baru. Asing masih optimis perekonomian akan tinggi, inflasi akan rendah, dan BI rate diperkirakan turun.

"Meskipun ada dinamika politik namun proyeksi perekonomian Indonesia dapat dilihat dari sisi lain dengan program yang saat ini sedang dibangun oleh pemerintah yaitu proyek pembangunan infrastruktur. Hal itu bisa terlihat dari ekonomi Indonesia bisa dilihat dari IHSG juga" jelas dia.

Hal itu ditambah dengan adanya goncangan politik China sehingga membuat investor asing tetap memandang Indonesia sebagai tempat cocok dalam berinvestasi.

"Indonesia tetap menjadi salah satu destinasi top-3 setelah China dan India. China tahun ini diperkirakan akan menurun karena adanya politik kepentingan. Selain itu juga karena polusi yang tinggi di Beijing sehingga China didorong oleh bank dunia untuk mengerem pertumbuhan ekonomi," tukasnya. [agus]

Related posts