Tower Bersama Pangkas Nilai Global Bond

NERACA

Jakarta – Perusahaan jasa menara telekomunikasi, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melalui TBG Global Pte. Ltd telah menurunkan nilai penerbitan obligasi global menjadi US$300 juta dari sebelumnya US$350 juta,”Pada 11 Maret 2015, TBG Global telah mengumumkan melalui Singapore Stock Exchange mengenai permohonan persetujuan (consent solicitation) untuk meminta persetujuan dari para pemegang surat utang senior tanapa jaminan 4,625% dengan jumlah pokok US$300 juta,”kata Direktur Tower Bersama, Helmy Yusman Santoso dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (11/3).

Selain memangkas nilai surat utang, jatuh tempo yang seyogyanya 2022 menjadi 2018. Wali amanat obligasi global dan agen permohonan transaksi dipercayakan kepada Citicorp International Limited dan Australia and New Zealand Banking Group Limited. Dana hasil penerbitan obligasi ini untuk membayai kembali (refinancing) pinjaman revolving tertanggal 21 November 2014 senilai US$300 juta. Sisa dana untuk membiayai kembali fasilitas pinjaman yang jatuh tempo pada November 2015.

Pada 2014, perusahaan menara telekomunikasi ini mencatatkan pendapatan Rp3,3 triliun, meningkat 22,8% dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya rp2,69 triliun. Al hasil, mengangkat laba bersih sekitar 4,33% menjadi Rp1,3 triliun. Total aset hingga akhir tahun lalu mencapai Rp22,04 triliun, naik dari tahun sebelumnya Rp18,71 triliun. Liabilitas tercatat melonjak dari Rp14,61 triliun menjadi Rp17,9 triliun dan ekuitasnya turun menjadi Rp4,13 triliun.

Sementara EBITDA perseroan juga tumbuh 23% menjadi Rp2.717 triliun untuk periode satu tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2014. Keberhasilan perseroan tidak hanya sebatas pendapatan, tetapi juga portofolio menara BTS.

Kata CEO Tower Bersama, Hardi Wijaya Liong, tahun 2014 perseroan berhasil menambahkan 1.959 menara telekomunikasi secara organik ke dalam portofolio,”Kami terus mendapatkan dukungan dari para kreditur seperti bank dan pemegang obligasi dalam menumbuhkan bisnis kami,”ujarnya.

Perseroan juga membukukan marjin EBITDA juga meningkat menjadi 82,2% pada akhir 2014 dibandingkan dengan 82% pada akhir 2013. Jika hasil triwulan keempat disetahunkan, maka total pendapatan Perseroan mencapai Rp3.500 miliar dan EBITDA mencapai Rp2.876 miliar.

Per 31 Desember 2014, total pinjaman (debt) perseroan, jika bagian pinjaman dalam dollar Amerika yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya, adalah sebesar Rp14.835 miliar dan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp11.522 miliar. Dengan saldo kas yang mencapai Rp901 miliar, maka total pinjaman bersih (net debt) menjadi Rp13.934 miliar dan total pinjaman senior bersih (net senior debt) Perseroan menjadi Rp10.621 miliar.

Rasio pinjaman senior bersih (net senior debt) terhadap EBITDA triwulan keempat yang disetahunkan adalah 3,69x, dan rasio pinjaman bersih (net debt) terhadap EBITDA triwulan keempat yang disetahunkan adalah 4,84x. Ini berarti TBIG masih mempunyai ruang untuk pendanaan lebih lanjut berdasarkan rasio yang disyaratkan dalam perjanjian pinjaman perseroan serta obligasi bedenominasi Dollar Amerika dan Rupiah. (bani)

Related posts