Wintermar Catatkan Kontrak US$ 142 Juta

NERACA

Jakarta – Perusahaan pelayaran dan jasa, PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) membukukan kontrak pada akhir Februari sebesar US$142 juta. Dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (11/3),

Investor Relation Wintermar Offshore Marine, Pek Swan Layanto menuturkan, strategi perseroan dalam menghadapi kondisi sulit, yakni tetap mencari pasar-pasar baru, penghematan biaya,serta efisiensi pengelolaan kapal,”Kami sudah menurunkan 40% dari capital expenditure yang direncanakan tahun ini menjadi US$30 juta yang dibiayai oleh pinjaman bank 70% dan 30% ekuitas, serta menunda penerimaan dua-tiga kapal pada semester kedua," ujar Layanto.

Dia menuturkan, sejak awal tahun ini, perusahaan minyak besar di seluruh dunia telah memotong anggaran belanja modalnya hingga kondisi harga minyak bumi stabil. Banyak eksplorasi ditunda dan beberapa kontrak-kontrak anjungan lepas pantai dihentikan prosesnya,”Eksplorasi yang sebelumnya kami harapkan terjadi di Indonesia telah ditunda karena suramnya dan ketidakpastian prospek harga minyak,”katanya.

Kendati demikian, perseroan tetap memasarkan kapal-kapal di pasar regional. Namun, industri secara global tengah menghadapi pemotongan pengeluaran modal, maka diharapkan perseroan masih dapat berkompetisi,”Kapal mid dan low tier kami dapat melayani tahap produksi dan tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi ini," ujarnya.

Namun, perseroan kurang optimis terhadap kapal high tier dan memperkirakan penurunan yang cukup besar pada tingkat utilisasi pada tahun ini. Dengan demikian, kapal high tier berkontribusi lebih besar dengan marjin yang tinggi sehingga dampaknya menjadi negatif pada tahun ini,”Bila harga minyak belum stabil kami perkirakan turunnya laba pada tahun ini," ungkapnya.

Pada 2016, perseroan memperkirakan ada aktivitas yang tinggi di Indonesia karena beberapa proyek pengembangan di Indonesia bagian timur hampir mencapai tahap produksi, di Papua, laut Arafuru, dan Selat Makasar.

Kemudian per Desember 2014 lalu, perseroan tercatat mengalami penurunan laba bersih sebesar 21,90% menjadi US$ 21,70 juta dibandingkan dengan laba bersih periode sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 27,79 juta. Penurunan laba tersebut didorong oleh penurunan pendapatan usaha sebesar 9,49% menjadi US$ 176,91 juta dari pendapatan usaha tahun sebelumnya yang sebesar US$ 195,46 juta.

Sementara beban langsung turun menjadi US$ 118,90 juta dari beban langsung tahun sebelumnya US$ 133,18 juta, namun laba kotor turun jadi US$ 58 juta dari laba kotor tahun sebelumnya US$ 62,28 juta. Laba usaha perseroan juga turun menjadi US$ 44,74 juta dari laba usaha tahun sebelumnya US$ 50,49 juta.

Sedangkan laba sebelum pajak tercatat turun menjadi US$ 33,43 juta dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya US$ 41,22 juta. Total aset per Desember 2014 mencapai US$ 501,28 juta, naik dari total aset per Desember 2013 yang sebesar US$ 478,21 juta. (bani)

Related posts