Merck Indonesia Kantungi Laba Rp 150,37 Miliar

NERACA

Jakarta – Maraknya perusahaan farmasi yang berhasil mencatatkan pertumbuhan laba di 2014, rupanya di ikuti pula PT Merck Indonesia Tbk (MERK) yang juga membukukan pertumbuhan laba bersih 2,04% dari tahun sebelumnya Rp 147,35 miliar menjadi Rp 150,37 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin

Meningkatnya laba bersih perseroan, disebabkan oleh peningkatan penjualan tahun 2014 sebesar 7,1% atau menjadi Rp 863,20 miliar dari penjualan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 805,74 miliar. Sementara, beban pokok perseroan juga naik jadi Rp 404,75 miliar dari beban pokok tahun sebelumnya Rp 358,28 miliar.

Laba kotor naik tipis menjadi Rp 458,45 miliar dari laba kotor tahun sebelumnya Rp 447,46 miliar. Sedangkan beban usaha naik jadi Rp 258,01 miliar dari beban usaha tahun sebelumnya Rp 253,84 miliar. Laba usaha naik jadi Rp 200,05 miliar dari laba usaha tahun sebelumnya Rp 193,61 miliar. Laba sebelum pajak yang diraih perseroan pada 2014 mencapai Rp 205,05 miliar atau naik dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya Rp 196,77 miliar.

Sedangkan total aset per Desember 2014 mencapai Rp 716,59 miliar, naik dari total aset per Desember 2013 yang sebesar Rp 696,94 miliar. Asal tahu saja, sebagian analis pasar modal memprediksi laba bersih laba bersih per saham (earning per share-EPS) emiten farmasi akan tumbuh sesuai ekspektasi pasar pada 2015. Pendapatan emiten farmasi akan ditopang oleh lonjakan peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan serta program Kartu Indonesia Sehat.

Namun saat ini, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS memberikan dampak berarti terhadap emiten farmasi lantaran sebagian besar bahan baku masih impor. Maka mensiasatinya, selain menaikkan harga jual juga dengan melakukan efisiensi.

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Guntur Tri Haryanto pernah bilang, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus terjadi akan berdampak signifikan pada emiten yang bahan bakunya tergantung impor. Misalnya, emiten yang bergerak di sektor manufaktur, pakan ternak, farmasi dan baja. Selain itu, juga emiten yang memiliki utang besar dalam mata uang USD,”Akan sangat berdampak pada emiten yang komponen impornya besar, sedangkan lainnya perusahaan yang memiliki utang dolar yang besar juga akan terkena dampak,” kata dia.

Kendati demikian, menurut dia, dampak terbesar akan dialami peruahaan yang mayoritas bahan bakunya diimpor. Pasalnya, besarnya komponen impor akan memengaruhi cost of goods sold (COGS). “Jika instrumen impornya besar, misalnya di atas 50%, maka akan berpengaruh pada kenaikan COGS sekitar 1%-3%,” ungkap dia. (bani)

Related posts