Perilaku Suku Bunga Tinggi

Menyimak masih tingginya defisit neraca transaksi berjalan (current account) sebagai akibat konsumsi baik migas maupun nonmigas yang terus meningkat belakangan ini. Sementara surplus neraca pembayaran dibanding current accountterlihat lebih rendah yaitu US$710 juta dan US$1,8 miliar pada Januari 2015. Ini berarti ada aliran modal asing cukup deras masuk ke negeri ini, namun keluarnya lagi (capital outflow) juga jangka pendek. .

Selain itu, hasil survei lembaga riset Kadence Indonesia mengungkapkan makin banyak orang Indonesia yang tidak mampu menabung, akibat besarnya pengeluaran berbelanja yang melebihi pendapatannya. Ini menunjukkan gejala meningkatnya pola konsumtif masyarakat Indonesia.

Perilaku konsumtif yang cenderung pada kenikmatan hidup dan lifestyle itu tercermin pada kecenderungan meningkatnya defisit transaksi berjalan. Cara hidup seperti ini tentu menyimpang dari kearifan bangsa yaitu pola hidup sederhana. Hal yang sama juga terlihat pada sikap pemerintah yang belakangan ini juga terus menghimpun utang baik dari penerbitan obligasi maupun pinjaman luar negeri.

Menghadapi fenomena seperti itu, maka pemerintah harus siap memecahkan dengan cara yang mendasar dan bukan hanya dengan kebijakan seperti “pemadam kebakaran”. Namun, kebijakan sementara diperlukan supaya tekanan bisa mereda dan kita bisa menata kembali kekurangan mendasarnya.

Nah, kenaikan suku bunga BI Rate pada umumnya bertujuan jangka pendek terutama untuk menurunkan laju inflasi berdampak restriktif terhadap permintaan umum dan sekaligus menurunkan defisit neraca luar negeri. Tetapi perlu diperhatikan dampak lainnya yang cukup signifikan.

Sebab, kenaikan suku bunga acuan ini berdurasi jangka pendek karena ini bertentangan dengan tujuan ekonomi utama yaitu meningkatkan jumlah produksi nasional dengan jalan memperbanyak usaha baru dan mendorong ekspansi usaha yang sudah ada. Tujuan utama lain yang sangat serius adalah menurunkan angka pengangguran dan setengah pengangguran.

Jadi, suku bunga BI Rate yang tinggi dipastikan mendorong naik suku bunga umum perbankan dan sekaligus menurunkan minat investasi. Artinya, semua rencana bisnis dengan keuntungan marginal akan dibatalkan karena kelayakannya dibandingkan dengan suku bunga menjadi berkurang walau kegiatan usaha itu tidak di biayai dari bank.

Kita menyesalkan kebijakan Gubernur BI yang dalam 13 bulan terakhir mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi yaitu 7,75%, dan baru turun sedikit 0,25% menjadi 7,5% pada Februari 2015. Itupun gara-gara Januari dan Februari ekonomi Indonesia mengalami defisit. Angka 7,5% masih dirasakan cukup tinggi sehingga otomatis memberikan pengaruh bagi perbankan untuk mempertahankan suku bunga tinggi baik untuk simpanan maupun pinjaman. Tingginya suku bunga acuan ini dapat membuat rentan ekonomi Indonesia terhadap gejolak global.

Bagaimanapun, pertumbuhan ekonomi bertujuan mempertahankan tingkat kesejahteraan per kapita untuk mengimbangi bertambahnya penduduk terutama usia muda, bahkan meningkatkan pendapatan per kapita seluruhnya. Tujuan lain dari pertumbuhan ekonomi yang berbentuk usaha baru dan ekspansi usaha yang sudah ada adalah penyediaan lapangan kerja bagi generasi muda. Yang terakhir ini sangat penting karena lulusan sekolah baik menengah umum maupun kejuruan yang siap bekerja makin besar.

Tanpa peningkatan kemampuan industri tinggi, keadaan defisit itu akan terus menerus terjadi setiap tahun dengan konsekuensi menggerus fundamen ekonomi kita. Kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka panjang atau jangka pendek yang terasa diulang- ulang tentu lambat laun akan mendorong perubahan dari perilaku masyarakat, yang semula pengusaha/pabrikan menjadi bangsa pedagang yang mengandalkan penghasilannya dari selisih fee untuk menutup beban suku bunga tinggi. Tidak salah dari produsen beralih menjadi importir yang selalu tergantung pada asing.

Related posts