Penguatan US$ Gerus Margin Laba Industri Baja - Dunia Usaha

NERACA

Jakarta - Direktur Eksekutif Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), Hidayat Triseputro menyatakan, produsen baja domestik harus berhadapan dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menggerus margin laba industri baja.

“Melemahnya nilai tukar rupiah akan menurunkan margin. Tidak hanya itu, industri baja harus menanggung beban kenaikan harga energi dan upah buruh,” katanya di Jakarta, Rabu (11/3).

Harga listrik di Indonesia, menurut Hidayat, paling mahal se-Asia Tenggara serta harga gas alam untuk industri di Indonesia berkisar US$7 hingga US$9,3 per mmbtu. “Bandingkan dengan harga gas di Malaysia sebesar US$4 per mmbtu dan harga internasional hanya US$2,8 US$ per mmbtu. Hal ini sudah berlangsung selama hampir tiga tahun,” paparnya.

Hidayat menambahkan, rupiah terus melemah dan fluktuatif, sedangkan biaya bahan baku dan energi dalam dolar AS. “Padahal, kontribusi energi dan bahan baku sebesar 80% dari total biaya produksi,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama sektor industri baja nasional pada tahun ini diperkirakan masih tertekan, seiring belum membaiknya pasar baja dunia. “Hingga kini, kelebihan pasokan (oversupply) masih menimpa industri baja dunia, karena perlambatan ekonomi Tiongkok. Oversupply bahkan kini sudah masuk tahap yang kronis, sehingga memukul harga baja dunia dan beberapa perusahaan baja besar dunia merugi,” kata dia.

Pemulihan pasar dan harga baja dunia, menurut Hidayat, diperkirakan membutuhkan waktu lama. Semua tergantung pada pemulihan ekonomi Tiongkok. “Perlambatan ekonomi Tiongkok membuat permintaan baja dunia melemah. Sebab, kapasitas produksi industri baja Tiongkok mencapai 50% dari total kapasitas dunia dan imbasnya, harga baja terpuruk,” paparnya.

Di tengah situasi tersebut, lanjut Hidayat, pemain baja Tiongkok mencari pasar baru untuk melempar kelebihan produksi. Di sinilah muncul praktik membanting harga jual alias dumping. “Salah satu pasar yang dibidik Indonesia. Korea Selatan juga dalam situasi tertekan karena laju impor baja murah dan masuk kategori dumping,” ujarnya.

Berdasarkan data China Iron and Steel Association (CISA), akhir Agustus 2014, dilaporkan 23 perusahaan dari total 88 perusahaan baja besar merugi. World Steel Dynamic (WSD), lembaga penelitian dan investigasi khusus baja, memperingatkan bahwa outlook profit tetap negatif tahun ini.

Kondisi ini disebabkan pertumbuhan moderat di luar Tiongkok. Adapun pertumbuhan permintaan di Tiongkok hanya akan berdampak sedikit, karena permasalahan utamanya terletak pada kelebihan kapasitas.

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian mengungkapkan perkembangan industri baja dalam negeri terkendala oleh pasokan energi dan bahan baku. Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan, pasokan energi dan bahan baku didalam negeri belum bisa mencukupi kebutuhan pasokan industri baja dalam negeri.

Alhasil, kata Harjanto, industri masih mengimpornya dari luar negeri, termasuk bahan baku scrap. Padahal, dia mengatakan, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan bijih besi di Indonesia mencapai 1,7 miliar ton yang tersebar di Sumatera, kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara."Kita terus mendorong program hilirisasi industri mineral untuk meningkatkan daya saing industri baja," katanya.

Ketua Umum IISIA Irvan Kamal Hakim mengatakan, untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, industri besi dan baja nasional masih mengalami ketimpangan di hulu dan hilir. "Pertumbuhan pasar yang cepat, baik dari segi kuantitas maupun jenis, namun industri besi dan baja belim sekuat yang diharapkan. Kebanyakan industri baja di Indonesia masih lemah di hulu," ujarnya.

Irvan juga meminta, agar peta industri besi baja nasional untuk menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 untuk memperkuat struktur industri besi baja nasional. Karena itu, diperlukan alselerasi dan dukungan dari pemerintah, salah satunya melalui fasilitas perbankan dari sisi permodalan. Sedangkan di hilir, pemerinah perlu membuat kebijakan untuk mendorong masyarakat menggunakan produk besi dan baja dalam negeri.

Ketua Panitia Munas IISIA ke II Setiawan Surakusuma mengatakan, untuk bisa bersaing di pasar terbuka perlu peningkatan daya saing. Menurutnya, hal itu bisa diperoleh dengan memaksimalkan utilisasi kapasitas dari industri besi dan baja.

"Jika ada kebijakan pemerintah untuj mendorong pemakaian besi dan baja Indonesia dalam proyek dalam negeri akan meningkatkan utilisasi dan memberikan cost efficiency yang akhirnya meningkatkan daya saing, setidaknya di kawasan ASEAN," katanya.

Related posts